Pemaparan resmi Pusat Studi Terorisme PTIK. Foto Humas Polri.
Jakarta. EDUKASIA.ID - Pusat Studi Terorisme PTIK menegaskan arah langkahnya dalam memperkuat kajian dan upaya pencegahan terorisme di Indonesia.
Komitmen itu disampaikan Kepala Pusat Studi Terorisme PTIK, Komjen Pol. (P.) H.M. Rycko Amelza Dahniel, lewat pemaparan resmi yang merujuk pada data historis, riset ilmiah, serta strategi nasional penanggulangan ekstremisme.
Rycko menyebut ancaman radikalisme dan terorisme bukan sekadar wacana, tetapi risiko nyata bagi keutuhan NKRI. Menurutnya, bibit radikalisme tumbuh dari sikap intoleran yang menolak perbedaan, lalu berkembang menjadi ideologi yang membenarkan kekerasan.
“Radikalisme dan terorisme tidak sesuai dengan kehidupan kebangsaan Indonesia yang dibangun dari keberagaman. Paham ini merusak peradaban, mengajarkan kebencian, kekerasan, bahkan mengeksploitasi perempuan dan anak,” tegasnya, dikutip dari laman Polri, Kamis, 27 November 2025.
Ia menjelaskan, terorisme merupakan kelanjutan dari radikalisme yang memproduksi ketakutan lewat serangan bersenjata, bom, hingga tindakan tak manusiawi. Kelompok radikal, lanjut Rycko, kerap memakai legitimasi simbol agama untuk memikat pengikut baru dan melanggengkan proses radikalisasi.
Data BNPT dan I-KHub yang ia tampilkan menunjukkan pergeseran pola serangan dari pendekatan keras menjadi pendekatan halus. Kelompok radikal kini lebih aktif menyasar target rentan seperti perempuan, remaja, dan anak.
“Gerakan radikalisasi kini banyak menyasar perempuan, remaja, dan anak. Mereka menjadi target karena dianggap mudah dipengaruhi dan berperan dalam regenerasi ideologis,” jelasnya.
Rycko juga menekankan pentingnya penguatan pendidikan kebangsaan sebagai perisai ideologis bangsa. Pendidikan, kata dia, membangun rasa persatuan, kecintaan pada tanah air, dan kewaspadaan terhadap ancaman ekstremisme.
Untuk mempertegas peran akademik, Pusat Studi Terorisme PTIK menggarap program kerja yang disusun berdasarkan Tridarma Perguruan Tinggi, yakni:
Selain memperkuat program tridarma, Pusat Studi Terorisme PTIK juga mendorong kerja sama kelembagaan lewat berbagai perjanjian kerja sama dengan BNPT, Densus 88, serta mitra nasional dan internasional.
Di akhir penyampaiannya, Rycko menegaskan bahwa kunci utama memutus rantai radikalisme berada pada pendidikan dan ilmu pengetahuan.
“Ilmu itu adalah peninggalan yang paling utama, dan beramal dengannya merupakan kehormatan yang paling sempurna. Dengan pendidikan dan pengetahuan, kita dapat melawan radikalisme dan membangun Indonesia yang damai,” pungkasnya.
Rycko menyebut ancaman radikalisme dan terorisme bukan sekadar wacana, tetapi risiko nyata bagi keutuhan NKRI. Menurutnya, bibit radikalisme tumbuh dari sikap intoleran yang menolak perbedaan, lalu berkembang menjadi ideologi yang membenarkan kekerasan.
“Radikalisme dan terorisme tidak sesuai dengan kehidupan kebangsaan Indonesia yang dibangun dari keberagaman. Paham ini merusak peradaban, mengajarkan kebencian, kekerasan, bahkan mengeksploitasi perempuan dan anak,” tegasnya, dikutip dari laman Polri, Kamis, 27 November 2025.
Ia menjelaskan, terorisme merupakan kelanjutan dari radikalisme yang memproduksi ketakutan lewat serangan bersenjata, bom, hingga tindakan tak manusiawi. Kelompok radikal, lanjut Rycko, kerap memakai legitimasi simbol agama untuk memikat pengikut baru dan melanggengkan proses radikalisasi.
Data BNPT dan I-KHub yang ia tampilkan menunjukkan pergeseran pola serangan dari pendekatan keras menjadi pendekatan halus. Kelompok radikal kini lebih aktif menyasar target rentan seperti perempuan, remaja, dan anak.
“Gerakan radikalisasi kini banyak menyasar perempuan, remaja, dan anak. Mereka menjadi target karena dianggap mudah dipengaruhi dan berperan dalam regenerasi ideologis,” jelasnya.
Rycko juga menekankan pentingnya penguatan pendidikan kebangsaan sebagai perisai ideologis bangsa. Pendidikan, kata dia, membangun rasa persatuan, kecintaan pada tanah air, dan kewaspadaan terhadap ancaman ekstremisme.
Untuk mempertegas peran akademik, Pusat Studi Terorisme PTIK menggarap program kerja yang disusun berdasarkan Tridarma Perguruan Tinggi, yakni:
Pendidikan dan Pengajaran
Pengembangan mata kuliah S1 hingga S3, penyelenggaraan kuliah umum dan seminar, serta kunjungan edukatif ke Museum Penanggulangan Terorisme BNPT.Penelitian
Pelaksanaan penelitian sekolah bersama peneliti BNPT dan perluasan riset menggunakan data I-KHub yang memuat lebih dari 800 putusan tindak pidana terorisme.Pengabdian Masyarakat
Kolaborasi dengan Duta Damai, FKPT, Sekolah Damai, Kampus Kebangsaan, Desa Siap Siaga, hingga pendampingan keluarga mitra deradikalisasi.Selain memperkuat program tridarma, Pusat Studi Terorisme PTIK juga mendorong kerja sama kelembagaan lewat berbagai perjanjian kerja sama dengan BNPT, Densus 88, serta mitra nasional dan internasional.
Di akhir penyampaiannya, Rycko menegaskan bahwa kunci utama memutus rantai radikalisme berada pada pendidikan dan ilmu pengetahuan.
“Ilmu itu adalah peninggalan yang paling utama, dan beramal dengannya merupakan kehormatan yang paling sempurna. Dengan pendidikan dan pengetahuan, kita dapat melawan radikalisme dan membangun Indonesia yang damai,” pungkasnya.



.png)



Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.