Anak-anak Hari ini, Hasil Proses Kita Kemarin

Redaksi
0
Ilustrasi. Foto Pixabay.

Penulis: Dr. Wiwin Hendriani, S.Psi., M.Si, - Dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga/ Ketua Ikatan Psikologi Perkembangan Indonesia (IPPI-HIMPSI).

EDUKASIA.ID - Keluhan tentang karakter generasi muda hari ini terdengar nyaris seragam. Anak-anak dan remaja kerap dinilai kurang sopan, mudah menyerah, tidak ulet, ingin serba cepat, serta kurang peka dalam menempatkan diri di lingkungan sosial yang beragam. Dalam obrolan santai hingga diskursus publik, keluhan tersebut sering kali berujung pada pelabelan: generasi stroberi, generasi instan, generasi lembek, dan berbagai istilah lain yang seolah mewakili semua persoalan. Melabel generasi memang terasa mudah. Satu istilah singkat tampak mampu merangkum keresahan yang kompleks. Namun, pertanyaannya: apakah label tersebut benar-benar membantu kita memperbaiki keadaan? Atau justru membuat kita merasa telah “menjelaskan” masalah, padahal belum menyentuh akar persoalannya?

Label Tidak Pernah Menjadi Solusi


Pelabelan generasi sesungguhnya tidak membawa kita lebih dekat pada solusi apa pun. Label hanya menggambarkan apa yang tampak di permukaan, tanpa membantu memahami proses panjang yang melatarbelakanginya. Bahkan, dalam banyak kasus, label justru menutup ruang dialog antar generasi dan menggeser perhatian dari refleksi bersama menuju penghakiman sepihak.

Ketika sebuah generasi dicap lemah atau bermasalah, fokus perhatian bergeser ke “cacat” individu atau kelompok, bukan pada ekosistem yang membentuk mereka. Padahal, karakter tidak pernah lahir begitu saja. Ia bukan produk instan yang muncul tanpa konteks, dan tentu bukan kesalahan generasi semata. Alih-alih bertanya “ada apa dengan anak-anak sekarang?”, pertanyaan yang lebih jujur dan produktif adalah: proses apa yang membentuk mereka menjadi seperti ini?

Karakter Tidak Terbentuk dalam Ruang Hampa


Karakter merupakan hasil dari proses panjang yang melibatkan banyak lapisan: pengasuhan di rumah, interaksi di sekolah, relasi sosial di lingkungan sekitar, nilai-nilai yang dicontohkan oleh orang dewasa, serta konteks sosial dan budaya (termasuk dunia digital) yang melingkupi kehidupan anak sejak dini.

Jika hari ini kita melihat anak-anak yang kurang ulet dalam menghadapi kesulitan, boleh jadi mereka tumbuh dalam lingkungan yang terlalu cepat menolong dan terlalu cepat menghapus rasa tidak nyaman. Jika anak tampak kurang sopan atau kurang peka secara sosial, bisa jadi mereka jarang melihat contoh dialog yang menghargai perbedaan, atau tumbuh dalam relasi yang minim ruang mendengar. Jika anak ingin hasil serba instan, mungkin karena mereka hidup di dunia yang memang merayakan kecepatan, bukan ketekunan. Dalam konteks ini, karakter anak bukanlah cermin dari “generasi yang salah”, melainkan refleksi dari proses-proses yang berjalan atau tidak berjalan secara konsisten dalam keseharian mereka.

Refleksi Peran Orangtua: Niat Baik yang Perlu Dikaji Ulang


Orangtua tentu tidak pernah berniat membentuk anak menjadi pribadi yang rapuh. Sebaliknya, banyak pola pengasuhan lahir dari keinginan melindungi, memudahkan, dan memastikan anak tidak mengalami kesulitan seperti yang pernah dialami generasi sebelumnya.

Namun, niat baik tidak selalu berbanding lurus dengan dampak yang dihasilkan. Pengasuhan yang terlalu cepat menolong, terlalu fokus pada hasil, atau terlalu menghindari frustrasi dapat mengurangi kesempatan anak untuk belajar bertahan, mengelola kecewa, dan memahami bahwa proses sering kali lebih penting daripada hasil akhir. Anak-anak belajar keuletan bukan dari nasihat panjang, tetapi dari pengalaman menghadapi tantangan yang proporsional dan didampingi secara emosional. Mereka belajar sopan santun bukan dari ceramah, melainkan dari contoh nyata bagaimana orang dewasa berkomunikasi, menghargai perbedaan, dan mengelola konflik.

Sekolah dan Sistem Pendidikan: Antara Target dan Pendampingan


Sekolah sering diharapkan menjadi garda terdepan pembentukan karakter. Namun, dalam praktiknya, sistem pendidikan masih kerap terjebak pada tuntutan capaian akademik dan administratif, dengan ruang terbatas untuk pendampingan sosial-emosional anak.

Ketika kegagalan lebih sering dihukum daripada dipelajari, ketika kesalahan dianggap aib bukan bagian dari proses belajar, anak pun tumbuh dengan ketakutan mencoba dan kecenderungan menghindari tantangan. Dalam situasi seperti ini, sulit berharap anak berkembang menjadi pribadi yang ulet, reflektif, dan bertanggung jawab. Relasi guru–murid yang hangat, dialogis, dan menghargai proses belajar jauh lebih berpengaruh pada pembentukan karakter dibandingkan slogan atau program karakter yang bersifat seremonial.

Anak Hidup di Zaman yang Berbeda


Penting untuk disadari bahwa anak-anak hari ini tumbuh dalam konteks yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Perubahan sosial, teknologi digital, dan arus informasi yang cepat membentuk cara mereka berpikir, merespons, dan berinteraksi. Namun, perbedaan konteks ini tidak seharusnya disikapi dengan nostalgia dan penghakiman, melainkan dengan pendampingan yang sadar. Anak-anak tidak hanya membutuhkan batasan, tetapi juga penjelasan; tidak hanya aturan, tetapi juga relasi; tidak hanya kemudahan, tetapi juga kesempatan untuk belajar berjuang; tidak hanya tuntutan karakter, tetapi juga teladan yang konsisten.

Jika hari ini kita merasa karakter generasi muda memprihatinkan, mungkin inilah saatnya berhenti menambah label dan mulai memperbanyak refleksi. Bukan refleksi yang menyalahkan, melainkan refleksi yang bertanggung jawab. Karakter tidak dibentuk oleh celaan kolektif, tetapi oleh proses panjang yang konsisten, relasi yang aman, dan keteladanan yang nyata. Anak-anak tidak membutuhkan sebutan baru yang menyudutkan, melainkan orang dewasa yang bersedia bercermin, memperbaiki proses, dan membersamai mereka tumbuh di dunia yang semakin kompleks. Barangkali, jika sebuah generasi dianggap rapuh, itu bukan semata karena mereka lemah, melainkan karena ekosistem tumbuh kembang yang belum cukup kokoh untuk menopang dan menumbuhkan ketangguhan mereka.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top