Rektor UIN Walisongo Semarang, Prof Musahadi, alumni madrasah sederhana di kampung pesisir Demak yang memimpin kampus besar. Foto ist.
EDUKASIA.ID - Nama Musahadi menjadi sorotan setelah dipercaya memimpin UIN Walisongo Semarang. Sosok akademisi hukum Islam ini resmi dilantik sebagai rektor untuk periode 2026-2030 oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar pada Selasa, 10 Maret 2026.
Bagi kalangan akademik di Semarang dan Jawa Tengah, Musahadi bukan nama baru. Ia dikenal sebagai guru besar hukum Islam yang lama berkiprah di dunia pendidikan tinggi, organisasi kemasyarakatan, serta pengembangan kajian mediasi dan resolusi konflik.
Namun bagi publik yang lebih luas, sosoknya mulai banyak diperbincangkan setelah dipercaya memimpin salah satu perguruan tinggi Islam negeri terbesar di Indonesia tersebut.
Tumbuh dari kampung pesisir Demak
Musahadi lahir di wilayah pesisir pantai utara Jawa, tepatnya di Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak. Ia tumbuh dalam lingkungan desa yang sederhana dan jauh dari hiruk pikuk kota.
Ayahnya merupakan seorang petani sekaligus kiai kampung yang mengajar di masjid desa. Meski hanya mengenyam pendidikan Sekolah Rakyat dan tidak menamatkannya, sang ayah memiliki semangat kuat agar anak-anaknya bisa menempuh pendidikan setinggi mungkin.
Musahadi pernah mengenang bagaimana ayahnya tetap berusaha membiayai pendidikan anak-anak meski kondisi ekonomi keluarga terbatas.
“Ibarat memikul beban, sebenarnya sudah ingin ambruk dan meletakkan beban itu. Tapi tetap ditahan di pundak,” kenangnya menirukan pesan ayahnya, dilansir dari majalah NU AULA.
Dari empat bersaudara, dua di antaranya kemudian menjadi guru besar. Sementara saudara lainnya menempuh jalur profesi berbeda, ada yang menjadi dokter spesialis dan ada pula yang mengasuh pesantren.
Madrasah desa yang membentuk karakter
Musahadi juga kerap mengenang masa kecilnya di desa pesisir Betahwalang, Demak. Ia ditempa oleh dua lembaga pendidikan sederhana di kampungnya, yakni Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Diniyah Miftahul Falah.
Pagi hari ia belajar di madrasah dengan kurikulum sekolah umum, sementara siang harinya mengikuti Madrasah Diniyah yang sepenuhnya mengajarkan ilmu agama.
Gedung madrasah dan para gurunya hidup dalam kesederhanaan. Namun bagi Musahadi, para guru tersebut memiliki dedikasi tinggi meski mengajar dengan penghasilan yang sangat terbatas.
“Guru-gurunya hidup sederhana, tetapi memiliki komitmen dan dedikasi yang sangat tinggi, meski gajinya ora mbejaji,” kenangnya.
Lingkungan desa yang religius, masjid, serta dua madrasah tersebut menjadi fondasi penting yang membentuk karakter hidupnya hingga kini.
Desa terpencil yang penuh kenangan
Musahadi juga mengingat bagaimana kondisi desanya dahulu cukup terpencil. Akses jalan sering menjadi sulit ketika musim hujan.
Masyarakat setempat mengenal istilah “mblethok”, yakni kondisi jalan yang menjadi lembek dan berlumpur sehingga kendaraan sulit melintas.
“Kadang sepeda pun tidak bisa lewat. Akhirnya harus jalan kaki sambil melepas alas kaki,” ujarnya mengenang masa kecilnya.
Meski demikian, ia justru merasa bersyukur dilahirkan di desa kecil yang sederhana tersebut.
Baginya, desa Betahwalang memberikan lingkungan religius yang kuat serta menanamkan nilai-nilai kehidupan yang membentuk perjalanan hidupnya.
Didikan pesantren dan perjalanan akademik
Musahadi mengawali pendidikan di lingkungan madrasah di Demak. Ia kemudian menempuh pendidikan pesantren di Pondok Pesantren Al-Ishlah Sempalwadak, Demak.
Perjalanan akademiknya berlanjut ke perguruan tinggi ketika ia kuliah di IAIN Walisongo Semarang pada program studi Peradilan Agama dan lulus pada 1993.
Ia kemudian melanjutkan pendidikan magister di Pascasarjana IAIN Alauddin Makassar dan meraih predikat lulusan terbaik. Gelar doktor kemudian diperolehnya dari IAIN Walisongo Semarang dalam bidang studi Islam dan hukum Islam.
Karier akademiknya berkembang di kampus yang sama. Ia mengajar di Fakultas Syariah hingga akhirnya meraih jabatan guru besar dalam bidang hukum Islam.
Sebagai akademisi, Musahadi juga aktif menulis. Di antara karya yang pernah diterbitkan antara lain Hermeneutika Hadis-hadis Hukum serta Evolusi Konsep Sunnah yang membahas perkembangan pemikiran hukum Islam.
Aktif di organisasi dan kajian mediasi
Selain di dunia akademik, Musahadi juga dikenal aktif dalam organisasi kemasyarakatan. Ia pernah dipercaya memimpin Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Jawa Tengah selama dua periode.
Menurutnya, memimpin organisasi alumni memiliki tantangan tersendiri karena para kader PMII telah menyebar di berbagai sektor kehidupan.
“Tantangannya adalah mendialogkan berbagai kepentingan alumni yang berdiaspora di banyak bidang,” ujarnya.
Di lingkungan kampus, Musahadi juga dikenal sebagai akademisi yang menaruh perhatian besar pada pengembangan mediasi dalam penyelesaian konflik. Ia pernah terlibat aktif dalam Walisongo Mediation Center, lembaga yang mendorong penyelesaian sengketa melalui dialog dan kesepakatan bersama.
Menurutnya, banyak konflik sosial maupun sengketa perdata sebenarnya dapat diselesaikan melalui mediasi sebelum masuk ke jalur pengadilan.
“Litigasi biasanya menghasilkan situasi menang-kalah. Yang kalah sering menyimpan rasa tidak puas, bahkan dendam,” ujarnya.
Sebaliknya, mediasi memberikan ruang bagi kedua pihak untuk menemukan solusi bersama yang lebih cepat sekaligus menjaga hubungan sosial.
Musahadi juga tercatat menjabat sebagai Wakil Ketua dalam jajaran Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah periode 2024-2029.
Gaya sederhana dengan topi khas
Di luar aktivitas akademik, Musahadi dikenal memiliki gaya yang cukup khas. Ia hampir selalu mengenakan topi model pelukis saat beraktivitas.
Topi tersebut bukan sekadar gaya. Ia pernah menjelaskan bahwa kepalanya cukup sensitif terhadap gerimis sehingga perlu penutup kepala.
Ia sebenarnya ingin mengenakan peci seperti kebanyakan kiai. Namun ia merasa belum pantas menggunakan simbol tersebut karena masih terus belajar memperdalam ilmu.



.png)


Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.