Status Open to Work” Prilly Latuconsina di LinkedIn. Foto tangkap layar.
Oleh: HM. Miftahul Arief, Pemred Edukasia.id/ Kandidat Doktor Pemasaran Pendidikan Islam.
EDUKASIA.ID - Kaget, sekali saat membaca status Prilly Latuconsina memasang status 'Open to Work' di LinkedIn. Kalau saya yang pasang, sepertinya normal lah. Lha ini Sekelas Prilly, ada apa ini?
Lambat laun (sambil scrol-scrol layar gadget), saya berpikir bahwa sebenarnya terjadi bukan sekadar artis cari kerja. Itu adalah alarm sosial. Kalau figur publik seperti Prilly dengan personal brand kuat saja masih membuka diri di pasar kerja, maka satu hal pasti. yakni dunia kerja sedang tidak baik-baik saja. Bahkan mungkin, lagi masuk fase rawan mental buat banyak orang.
Jadi tidak sekadar Prilly sedang gabut, hehe. Lebih tepatnya, ini situasi 'lah kok gini amat sih dunia kerja sekarang?'
Dalam teori klasik ekonomi tenaga kerja, Borjas (2013) mendefinisikan angkatan kerja sebagai seluruh individu yang bekerja atau aktif mencari kerja. Artinya, pasar kerja sejak awal memang arena kompetisi.
Tapi hari ini, kompetisinya bukan lagi normal. Ia sudah masuk fase hyper-competition dimana manusia bersaing dengan manusia, lalu masuk AI, lalu masuk automation, dan kini ditambah influencer serta public figure. Fix, ini bukan lagi lomba lari, tapi battle royale. Allahuakbar!
Masalahnya bukan cuma jumlah pencari kerja, tapi karakter kompetisinya berubah total. Ngeri dulur..
Penelitian Putri Setiani Tanjung, Sambodo, dan Rosiana (2024) justru membongkar paradoks besar dalam dunia pendidikan Indonesia. Mereka menemukan bahwa “rata-rata lama sekolah berdampak negatif dan signifikan terhadap kesempatan kerja.” Duh, agak mindblowing sekali, bukan?
Ini anomali. Selama puluhan tahun kita dicekoki logika bahwa sekolah tinggi berarti hidup aman. Tapi data bicara sebaliknya. Pendidikan tidak lagi otomatis menjamin kerja. Yang ada, banyak yang mulai merasa ‘kok makin pintar malah makin pusing?’
Disebutkan pula dalam penelitian itu, bahwa meningkatnya kualitas potensi manusia dapat mengakibatkan penurunan tenaga kerja yang terserap. Alasannya brutal tapi logis, yakni ketika kualitas naik, harga tenaga kerja ikut naik. Dan ketika harga naik, perusahaan cenderung memilih yang lebih murah, lebih fleksibel, atau bahkan digantikan mesin. Di titik ini, manusia mulai kalah saing sama algoritma. Apes.
Di titik ini, statemen Fadilah dkk. (2014) relevan sekali, menurut mereka peningkatan pendidikan memang menaikkan kualitas SDM, tapi sekaligus menaikkan ekspektasi upah. Artinya, semakin pintar seseorang, semakin mahal ia di mata industri. Dalam sistem ekonomi yang efisiensinya ekstrem, 'mahal' sering berarti 'tersingkir'. Alias terlalu idealis buat sistem yang pengennya serba cepat dan murah.
Inilah ironi generasi sarjana hari ini, yaitu terlalu berkualitas untuk pekerjaan murah, tapi terlalu banyak untuk pekerjaan mahal. Serba salah, dan kadang bikin overthinking sendiri. ckckck…
Di sisi lain, Tanjung dkk. (2024) menemukan bahwa 'angkatan kerja memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kesempatan kerja.' Ini berarti pasar kerja terus dibanjiri tenaga baru. Tapi pertumbuhan tenaga kerja jauh lebih cepat daripada pertumbuhan lapangan kerja. Akibatnya, kompetisi bukan lagi seleksi, tapi eliminasi massal. Yang lolos bukan cuma yang pintar, tapi yang tahan mental.
Masuklah variabel baru yaitu influencer dan figur publik. Dalam perspektif pemasaran, mereka punya brand equity personal. Mereka tidak datang membawa CV, tapi membawa audiens, trust, exposure, dan kapital sosial. Di dunia kerja hari ini, itu lebih bernilai daripada IPK 3,9. Singkatnya yang punya aura dan reach sering lebih menang.
Diakui atau tidak, Prilly dalam konteks ini bukan artis. Ia adalah simbol zaman. Zaman di mana kerja tidak lagi soal status, tapi soal relevansi. Soal siapa yang bisa memberi nilai tambah paling cepat, paling murah, paling fleksibel. Kalau tidak relevan, ya siap-siap ke-skip sistem.
Dalam kacamata studi Islam pemasaran, kita masuk fase ikhtiar struktural. Bekerja bukan sekadar mencari nafkah, tapi mengelola diri sebagai produk sosial yaitu skill, reputasi, jejaring, etika, dan kemampuan adaptasi. Bukan untuk menjadi oportunis, tapi untuk tetap eksis dalam sistem yang makin tidak manusiawi. Bahasa kasarnya kita semua dipaksa rebranding diri.
Kesimpulannya sederhana tapi pahit adalah di masa depan, yang bertahan bukan yang paling pintar, tapi yang paling adaptif, rendah ego, cepat belajar, dan berani rebranding diri. Yang kaku, ya siap-siap ditinggal zaman.
Mak dulur, pesan Open to Work dari Prilly ini kolektif, yaitu pasar kerja hari ini bukan lagi tangga karier, tapi arena survival. Dan di arena itu, ijazah hanyalah tiket masuk, bukan jaminan menang. Sisanya? Ya gaskeun atau tenggelam.
Saya menulis ini sambil mendengarkan lagu Anakku dari Nasida Ria.
Anakku, anakku, anakku
Dunia yang akan kau alami
Tak sama, tak sama, tak sama
Dengan dunia yang 'ku alami
Makin berliku-liku
Liku-liku cari sekolah
Liku-liku cari nafkah
Namun jangan berkecil hati
Jadilah manusia sakti
Cerdas, tabah, kreatif
Speechless..
Semarang, 27 JAnuari 2026
Tapi hari ini, kompetisinya bukan lagi normal. Ia sudah masuk fase hyper-competition dimana manusia bersaing dengan manusia, lalu masuk AI, lalu masuk automation, dan kini ditambah influencer serta public figure. Fix, ini bukan lagi lomba lari, tapi battle royale. Allahuakbar!
Masalahnya bukan cuma jumlah pencari kerja, tapi karakter kompetisinya berubah total. Ngeri dulur..
Penelitian Putri Setiani Tanjung, Sambodo, dan Rosiana (2024) justru membongkar paradoks besar dalam dunia pendidikan Indonesia. Mereka menemukan bahwa “rata-rata lama sekolah berdampak negatif dan signifikan terhadap kesempatan kerja.” Duh, agak mindblowing sekali, bukan?
Ini anomali. Selama puluhan tahun kita dicekoki logika bahwa sekolah tinggi berarti hidup aman. Tapi data bicara sebaliknya. Pendidikan tidak lagi otomatis menjamin kerja. Yang ada, banyak yang mulai merasa ‘kok makin pintar malah makin pusing?’
Disebutkan pula dalam penelitian itu, bahwa meningkatnya kualitas potensi manusia dapat mengakibatkan penurunan tenaga kerja yang terserap. Alasannya brutal tapi logis, yakni ketika kualitas naik, harga tenaga kerja ikut naik. Dan ketika harga naik, perusahaan cenderung memilih yang lebih murah, lebih fleksibel, atau bahkan digantikan mesin. Di titik ini, manusia mulai kalah saing sama algoritma. Apes.
Di titik ini, statemen Fadilah dkk. (2014) relevan sekali, menurut mereka peningkatan pendidikan memang menaikkan kualitas SDM, tapi sekaligus menaikkan ekspektasi upah. Artinya, semakin pintar seseorang, semakin mahal ia di mata industri. Dalam sistem ekonomi yang efisiensinya ekstrem, 'mahal' sering berarti 'tersingkir'. Alias terlalu idealis buat sistem yang pengennya serba cepat dan murah.
Inilah ironi generasi sarjana hari ini, yaitu terlalu berkualitas untuk pekerjaan murah, tapi terlalu banyak untuk pekerjaan mahal. Serba salah, dan kadang bikin overthinking sendiri. ckckck…
Di sisi lain, Tanjung dkk. (2024) menemukan bahwa 'angkatan kerja memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kesempatan kerja.' Ini berarti pasar kerja terus dibanjiri tenaga baru. Tapi pertumbuhan tenaga kerja jauh lebih cepat daripada pertumbuhan lapangan kerja. Akibatnya, kompetisi bukan lagi seleksi, tapi eliminasi massal. Yang lolos bukan cuma yang pintar, tapi yang tahan mental.
Masuklah variabel baru yaitu influencer dan figur publik. Dalam perspektif pemasaran, mereka punya brand equity personal. Mereka tidak datang membawa CV, tapi membawa audiens, trust, exposure, dan kapital sosial. Di dunia kerja hari ini, itu lebih bernilai daripada IPK 3,9. Singkatnya yang punya aura dan reach sering lebih menang.
Diakui atau tidak, Prilly dalam konteks ini bukan artis. Ia adalah simbol zaman. Zaman di mana kerja tidak lagi soal status, tapi soal relevansi. Soal siapa yang bisa memberi nilai tambah paling cepat, paling murah, paling fleksibel. Kalau tidak relevan, ya siap-siap ke-skip sistem.
Dalam kacamata studi Islam pemasaran, kita masuk fase ikhtiar struktural. Bekerja bukan sekadar mencari nafkah, tapi mengelola diri sebagai produk sosial yaitu skill, reputasi, jejaring, etika, dan kemampuan adaptasi. Bukan untuk menjadi oportunis, tapi untuk tetap eksis dalam sistem yang makin tidak manusiawi. Bahasa kasarnya kita semua dipaksa rebranding diri.
Kesimpulannya sederhana tapi pahit adalah di masa depan, yang bertahan bukan yang paling pintar, tapi yang paling adaptif, rendah ego, cepat belajar, dan berani rebranding diri. Yang kaku, ya siap-siap ditinggal zaman.
Mak dulur, pesan Open to Work dari Prilly ini kolektif, yaitu pasar kerja hari ini bukan lagi tangga karier, tapi arena survival. Dan di arena itu, ijazah hanyalah tiket masuk, bukan jaminan menang. Sisanya? Ya gaskeun atau tenggelam.
Saya menulis ini sambil mendengarkan lagu Anakku dari Nasida Ria.
Anakku, anakku, anakku
Dunia yang akan kau alami
Tak sama, tak sama, tak sama
Dengan dunia yang 'ku alami
Makin berliku-liku
Liku-liku cari sekolah
Liku-liku cari nafkah
Namun jangan berkecil hati
Jadilah manusia sakti
Cerdas, tabah, kreatif
Speechless..
Semarang, 27 JAnuari 2026



.png)


Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.