49 siswa MI Taufiqiyah Semarang diwisuda pada Tahfidz Angkatan II dengan hafalan juz 1, 29, dan 30, pada Rabu, 20 Mei 2026.
Semaang. EDUKASIA.ID - Sebanyak 49 siswa Program Unggulan Tahfidzul Quran MI Taufiqiyah Semarang mengikuti wisuda tahfidz Angkatan II di Gedung 2 MI Taufiqiyah, Jalan Fatmawati, Pedurungan, Kota Semarang, Rabu, 20 Mei 2026. Peserta berasal dari kelas 2 hingga kelas 6 program takhassus tersebut melafalkan hafalan di hadapan wali murid dan tamu undangan. Setelahnya, kemudian diuji melalui sambung ayat oleh sejumlah hadirin.
Kepala MI Taufiqiyah Semarang, Siti Arofah AR, mengatakan angkatan kedua menunjukkan peningkatan capaian hafalan dibanding tahun sebelumnya.
“Tahun kedua angkatan quran ini diikuti 49 siswa, mulai kelas 2 takhassus hingga kelas 6 takhassus, ada yang sudah hafal juz 29 dan juz 1, lebih baik dari angkatan pertama tahun kemarin,” ujarnya.
Menurutnya, sebagian siswa memiliki target hafalan lebih banyak. “Ada yang target 3 juz terselesaikan,” tukasnya..
Ia berharap capaian siswa menjadi keberkahan sekaligus membentuk karakter sesuai nilai Al-Quran.
“Mudah-mudahan apa yang anak-anak raih menjadi keberkahan sendiri karena Al-Quran jadi pegangan umat Islam, mudah-mudahan anak-anak bisa berakhlakul karimah menerapkan apa yang ada dalam Al-Quran menjadi pribadi yang baik,” lanjutnya.
Pengawas RA/MI, Amhal Kaefahmi, menilai capaian MI Taufiqiyah tidak lepas dari pengelolaan lembaga yang dilakukan dengan sungguh-sungguh.
“Terbukti anak-anak mengikuti lomba, alhamdulillah MI Taufiqiyah termasuk yang terdepan di Kota Semarang ini karena dilakukan oleh pengelolanya dengan sepenuh hati,” katanya.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Semarang, H. Muhtasit, menyebut pendidikan Al-Quran menjadi daya tarik utama madrasah.
“Semua MI kok muridnya banyak itu pasti ada daya, daya tarik yang pertama adalah Al-Quran,” ujarnya.
Ia juga menyinggung tingginya minat masyarakat terhadap MI Taufiqiyah. “Di sini ada MI Taufiqiyah, informasi yang saya terima, Senin jam 8 dibuka jam 10 tutup,” katanya.
Kepada wali murid, Muhtasit mengingatkan pentingnya pendidikan Al-Quran bagi anak.
“Di Kota Semarang, kok panjenengan menitipkan putra jenengan di MI Taufiqiyah betul, tidak salah. Jadi orang jangan lupa kewajiban pada anak mengajar quran,” pesannya.
Dalam kesempatan itu, Muhtasit turut menguji hafalan siswa melalui sambung ayat. Setelah siswa mampu melanjutkan ayat dengan lancar, ia memberikan apresiasi berupa hadiah uang dan pesan agar siswa menjaga bacaan Al-Quran.
“Baca terus, tidak harus menghafal, jangan sampai salah,” ujarnya.
Ketua Yayasan Pendidikan Islam At-Taufiqiyah, KH Muhadi Noor, menyampaikan apresiasi kepada para guru yang selama ini membimbing siswa belajar Al-Quran sejak dini.
“Terima kasih kepada guru-guru yang telah mengajarkan Al-Quran ke anak-anak sejak dini. Harapannya hafalan anak-anak tetap terjaga dan bisa ditambah,” ujarnya.
Ia mengatakan majelis yang diisi lantunan ayat suci Al-Quran mengandung keberkahan dan hikmah.
“Dalam majlis apabila ada lantunan ayat-ayat Al-Qur'an maka banyak keberkahan dan hikmah di dalamnya,” katanya.
Menurutnya, keberadaan majelis Al-Quran juga menghadirkan doa-doa kebaikan.
“Allah SWT menghadirkan 60.000 malaikat untuk mengaamiinkan do'a-do'a yang terlantunkan,” tuturnya.
Mauidzah hasanah kemudian disampaikan KH In’amuzzahidin yang mendorong siswa menjaga dan melanjutkan hafalan Al-Quran hingga tuntas.
“Kalau bisa pendidikan berlanjut, sudah dapat hafalan 10 juz jika tidak dilanjutkan biasanya hilang. Yang sudah mengawali di MI ini maka lanjutkan, hingga bisa selesaikan 30 juz,” tuturnya.
Menurutnya, siapa pun yang dekat dengan Al-Quran akan dimuliakan.
“Perkara apa saja yang ketempelan quran, maka akan mulia, siapa saja dan di mana saja,” katanya.
Ia mencontohkan kemuliaan itu melalui Malaikat Jibril, Nabi Muhammad SAW, hingga bulan Ramadan.
“Contohnya Malaikat Jibril, dia pembawa wahyu, dia sangat dihormati malaikat lain karena dipercaya membawa quran. Nabi diberi quran maka jadi ketuanya para nabi, yaitu Nabi Muhammad. Bulan diturunkan Al-Quran maka jadi bulan mulia, yaitu bulan Ramadan,” jelasnya.





Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.