Mahasiswi Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UIN Walisongo Semarang
EDUKASIA.ID - Indonesia merupakan negara yang lahir dan tumbuh dalam keberagaman yang didalamnya terdapat berbagai agama, suku, bahasa, budaya, adat istiadat, serta cara hidup masyarakat yang berbeda-beda. Keberagaman tersebut bukanlah kelemahan, akan tetapi kekayaan bangsa yang harus dijaga bersama. Keberagaman juga membutuhkan sikap dewasa agar tidak berubah menjadi sumber konflik. Hal tersebut yang menjadikan moderasi beragama menjadi hal yang penting, terutama bagi generasi muda Muslim yang hidup di tengah masyarakat majemuk.
Sebagai bagian dari Generasi Z atau Gen Z, saya menyadari bahwa menjadi Muslim di era sekarang memiliki tantangan yang berbeda dari generasi sebelumnya. Gen Z tumbuh bersama internet, media sosial, teknologi digital, dan arus informasi yang sangat cepat. Setiap hari, anak muda berhadapan dengan berbagai konten keagamaan, opini politik, perdebatan sosial, hingga narasi yang kadang mengandung provokasi, hoaks, atau ujaran kebencian.
Oleh karena itu, muslim Gen Z tidak cukup jika hanya memahami agama secara ritual, tetapi juga perlu memiliki kedewasaan berpikir, kemampuan menyaring informasi, dan komitmen untuk menjaga persatuan bangsa.
Moderasi beragama bukan berarti melemahkan keyakinan agama. Moderasi beragama justru menunjukkan kemampuan seseorang dalam memahami dan mengamalkan agama secara seimbang, adil, dan tidak ekstrem. Kementerian Agama menjelaskan bahwa moderasi beragama tercermin dalam beberapa sikap penting, yaitu komitmen kebangsaan, toleransi, penolakan terhadap kekerasan atas nama agama, serta penerimaan terhadap tradisi dan budaya lokal masyarakat. Dengan demikian, muslim yang moderat bukanlah muslim yang setengah-setengah dalam beragama, melainkan muslim yang mampu menjalankan ajaran Islam dengan bijaksana, santun, dan bertanggung jawab dalam kehidupan sosial.
1. Memahami Makna Muslim Gen Z yang Moderat
Muslim Gen Z yang moderat tidak hanya dipahami sebagai generasi muda muslim yang tetap teguh dalam menjalankan ajaran islam, tetapi juga mampu menghargai perbedaan, menjaga persatuan, dan tidak mudah bersikap ekstrem. Sikap moderat tidak berarti mengabaikan prinsip agama, melainkan menempatkan agama sebagai sumber kedamaian, kasih sayang, dan kemaslahatan bagi kehidupan bersama.
Moderasi beragama bukan berarti melemahkan keyakinan agama. Moderasi beragama justru menunjukkan kemampuan seseorang dalam memahami dan mengamalkan agama secara seimbang, adil, dan tidak ekstrem. Kementerian Agama menjelaskan bahwa moderasi beragama tercermin dalam beberapa sikap penting, yaitu komitmen kebangsaan, toleransi, penolakan terhadap kekerasan atas nama agama, serta penerimaan terhadap tradisi dan budaya lokal masyarakat. Dengan demikian, muslim yang moderat bukanlah muslim yang setengah-setengah dalam beragama, melainkan muslim yang mampu menjalankan ajaran Islam dengan bijaksana, santun, dan bertanggung jawab dalam kehidupan sosial.
1. Memahami Makna Muslim Gen Z yang Moderat
Muslim Gen Z yang moderat tidak hanya dipahami sebagai generasi muda muslim yang tetap teguh dalam menjalankan ajaran islam, tetapi juga mampu menghargai perbedaan, menjaga persatuan, dan tidak mudah bersikap ekstrem. Sikap moderat tidak berarti mengabaikan prinsip agama, melainkan menempatkan agama sebagai sumber kedamaian, kasih sayang, dan kemaslahatan bagi kehidupan bersama.
Dalam konteks Indonesia, moderasi beragama memiliki posisi yang sangat penting karena masyarakat Indonesia hidup dalam realitas sosial yang beragam. Seseorang bisa berbeda agama, mazhab, organisasi keagamaan, budaya, bahasa, bahkan kebiasaan sosial. Jika perbedaan ini tidak dikelola dengan baik, maka akan mudah muncul prasangka, sikap merasa paling benar, atau bahkan konflik sosial. Oleh karena itu, moderasi beragama menjadi jalan tengah agar seseorang tetap kuat dalam keyakinannya, tetapi tidak kehilangan rasa hormat kepada orang lain.
Kementerian Agama menekankan bahwa moderasi beragama berkaitan dengan komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, dan penerimaan terhadap budaya lokal (Faiz, 2023). Empat indikator ini sangat relevan bagi Muslim Gen, yaitu: komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, dan penerimaan terhadap budaya lokal
Dengan demikian, Muslim Gen Z yang moderat adalah Muslim muda yang mampu menjaga identitas keislamannya, tetapi tetap terbuka dalam kehidupan sosial. Ia tidak mudah menyalahkan orang lain, tidak cepat menghakimi perbedaan, dan tidak menjadikan agama sebagai alat untuk merendahkan kelompok lain. Sebaliknya, ia menjadikan agama sebagai dasar untuk membangun akhlak, kepedulian, dan kontribusi sosial.
2. Cerdas Beragama: Memahami Islam secara Seimbang
Cerdas beragama berarti memahami Islam secara utuh, tidak sepotong-sepotong, dan tidak hanya berdasarkan potongan informasi yang viral di media sosial. Di era digital, akses terhadap ilmu agama menjadi sangat mudah. Gen Z dapat mendengarkan ceramah melalui YouTube, mengikuti kajian melalui Instagram atau TikTok, membaca kutipan keagamaan di media sosial, bahkan berdiskusi melalui berbagai platform daring. Hal tersebut tentu merupakan peluang besar. Namun, kemudahan akses tersebut juga memiliki tantangan. Tidak semua konten keagamaan di internet disampaikan secara lengkap, kontekstual, dan bertanggung jawab.
Riset PPIM UIN Jakarta menunjukkan bahwa media dalam berbagai bentuk, termasuk media sosial, televisi, radio, dan podcast, menjadi sumber pengetahuan agama yang utama bagi generasi muda. Temuan ini menunjukkan bahwa cara anak muda belajar agama telah berubah. Jika dahulu pengetahuan agama lebih banyak diperoleh melalui guru, pesantren, madrasah, atau pengajian langsung, kini banyak anak muda belajar agama melalui algoritma media sosial.
Kementerian Agama menekankan bahwa moderasi beragama berkaitan dengan komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, dan penerimaan terhadap budaya lokal (Faiz, 2023). Empat indikator ini sangat relevan bagi Muslim Gen, yaitu: komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, dan penerimaan terhadap budaya lokal
Dengan demikian, Muslim Gen Z yang moderat adalah Muslim muda yang mampu menjaga identitas keislamannya, tetapi tetap terbuka dalam kehidupan sosial. Ia tidak mudah menyalahkan orang lain, tidak cepat menghakimi perbedaan, dan tidak menjadikan agama sebagai alat untuk merendahkan kelompok lain. Sebaliknya, ia menjadikan agama sebagai dasar untuk membangun akhlak, kepedulian, dan kontribusi sosial.
2. Cerdas Beragama: Memahami Islam secara Seimbang
Cerdas beragama berarti memahami Islam secara utuh, tidak sepotong-sepotong, dan tidak hanya berdasarkan potongan informasi yang viral di media sosial. Di era digital, akses terhadap ilmu agama menjadi sangat mudah. Gen Z dapat mendengarkan ceramah melalui YouTube, mengikuti kajian melalui Instagram atau TikTok, membaca kutipan keagamaan di media sosial, bahkan berdiskusi melalui berbagai platform daring. Hal tersebut tentu merupakan peluang besar. Namun, kemudahan akses tersebut juga memiliki tantangan. Tidak semua konten keagamaan di internet disampaikan secara lengkap, kontekstual, dan bertanggung jawab.
Riset PPIM UIN Jakarta menunjukkan bahwa media dalam berbagai bentuk, termasuk media sosial, televisi, radio, dan podcast, menjadi sumber pengetahuan agama yang utama bagi generasi muda. Temuan ini menunjukkan bahwa cara anak muda belajar agama telah berubah. Jika dahulu pengetahuan agama lebih banyak diperoleh melalui guru, pesantren, madrasah, atau pengajian langsung, kini banyak anak muda belajar agama melalui algoritma media sosial.
Masalahnya, algoritma media sosial sering menampilkan konten yang sesuai dengan minat pengguna, bukan selalu konten yang paling benar, paling seimbang, atau paling mendidik. Karena itu, Muslim Gen Z perlu memiliki sikap kritis dalam belajar agama. Tidak semua konten yang tampak religius pasti membawa pesan kedamaian. Ada konten yang mendidik, tetapi ada pula konten yang provokatif, menyalahkan kelompok lain, atau menggunakan bahasa agama untuk menimbulkan kebencian.
3. Bijak Bermedia: Menampilkan Moderasi di Ruang Digital
Media sosial adalah ruang tumbuh bagi Gen Z. Karena dalam media sosial mereka belajar, bekerja, berkomunikasi, mencari hiburan, membangun identitas, bahkan menyampaikan pandangan keagamaan dan kebangsaan. Oleh karena itu, moderasi beragama tidak hanya perlu diterapkan di masjid, kampus, sekolah, atau masyarakat, tetapi juga di ruang digital.
Survei SETARA Institute bersama INFID pada 2023 menunjukkan bahwa mayoritas siswa SMA masih berada dalam kategori toleran, yaitu sebesar 70,2%. Namun, survei yang sama juga menemukan adanya 24,2% siswa dalam kategori intoleran pasif, 5% intoleran aktif, dan 0,6% berpotensi terpapar radikalisme atau terorisme. Data tersebut menunjukkan bahwa toleransi di kalangan generasi muda memang masih memiliki modal yang kuat, tetapi potensi intoleransi tetap ada dan perlu diantisipasi.
Temuan tersebut penting bagi Gen Z karena sikap toleran atau intoleran tidak muncul begitu saja. Sikap itu dapat dipengaruhi oleh lingkungan keluarga, pendidikan, pergaulan, wawasan kebangsaan, dan juga media yang dikonsumsi. Jika anak muda terlalu sering mengonsumsi konten yang keras, eksklusif, dan penuh prasangka, maka cara pandangnya terhadap perbedaan juga dapat menjadi sempit. Sebaliknya, jika media sosial digunakan untuk mengakses ilmu yang sehat, dialog yang santun, dan konten yang membangun, maka ruang digital dapat menjadi sarana untuk memperkuat moderasi beragama.
Muslim Gen Z sebenarnya memiliki peluang besar untuk menjadikan media sosial sebagai ruang dakwah yang positif. Dakwah di era digital tidak harus selalu berupa ceramah panjang. Dakwah bisa hadir melalui video pendek yang edukatif, poster digital tentang toleransi, tulisan reflektif, vlog kegiatan sosial, atau komentar yang menenangkan ketika terjadi perdebatan. Dengan kreativitas yang dimiliki Gen Z, nilai-nilai Islam yang damai dapat disampaikan secara menarik, modern, dan mudah dipahami.
3. Bijak Bermedia: Menampilkan Moderasi di Ruang Digital
Media sosial adalah ruang tumbuh bagi Gen Z. Karena dalam media sosial mereka belajar, bekerja, berkomunikasi, mencari hiburan, membangun identitas, bahkan menyampaikan pandangan keagamaan dan kebangsaan. Oleh karena itu, moderasi beragama tidak hanya perlu diterapkan di masjid, kampus, sekolah, atau masyarakat, tetapi juga di ruang digital.
Survei SETARA Institute bersama INFID pada 2023 menunjukkan bahwa mayoritas siswa SMA masih berada dalam kategori toleran, yaitu sebesar 70,2%. Namun, survei yang sama juga menemukan adanya 24,2% siswa dalam kategori intoleran pasif, 5% intoleran aktif, dan 0,6% berpotensi terpapar radikalisme atau terorisme. Data tersebut menunjukkan bahwa toleransi di kalangan generasi muda memang masih memiliki modal yang kuat, tetapi potensi intoleransi tetap ada dan perlu diantisipasi.
Temuan tersebut penting bagi Gen Z karena sikap toleran atau intoleran tidak muncul begitu saja. Sikap itu dapat dipengaruhi oleh lingkungan keluarga, pendidikan, pergaulan, wawasan kebangsaan, dan juga media yang dikonsumsi. Jika anak muda terlalu sering mengonsumsi konten yang keras, eksklusif, dan penuh prasangka, maka cara pandangnya terhadap perbedaan juga dapat menjadi sempit. Sebaliknya, jika media sosial digunakan untuk mengakses ilmu yang sehat, dialog yang santun, dan konten yang membangun, maka ruang digital dapat menjadi sarana untuk memperkuat moderasi beragama.
Muslim Gen Z sebenarnya memiliki peluang besar untuk menjadikan media sosial sebagai ruang dakwah yang positif. Dakwah di era digital tidak harus selalu berupa ceramah panjang. Dakwah bisa hadir melalui video pendek yang edukatif, poster digital tentang toleransi, tulisan reflektif, vlog kegiatan sosial, atau komentar yang menenangkan ketika terjadi perdebatan. Dengan kreativitas yang dimiliki Gen Z, nilai-nilai Islam yang damai dapat disampaikan secara menarik, modern, dan mudah dipahami.
Namun, kebebasan bermedia harus disertai etika. Tidak semua hal perlu dikomentari. Tidak semua perbedaan harus diperdebatkan. Tidak semua konten viral perlu dibagikan. Muslim Gen Z yang moderat perlu memahami bahwa media sosial bukan hanya tempat berekspresi, tetapi juga ruang tanggung jawab. Setiap unggahan dapat memengaruhi orang lain. Karena itu, bijak bermedia adalah bagian penting dari akhlak Muslim di era digital.
4. Cinta Indonesia: Komitmen Kebangsaan sebagai Muslim Muda
Cinta Indonesia adalah bagian penting dari moderasi beragama. Dalam konteks kehidupan berbangsa, seorang Muslim tidak hanya memiliki tanggung jawab sebagai hamba Allah, tetapi juga sebagai warga negara. Menjadi Muslim yang taat dan menjadi warga negara Indonesia yang baik bukanlah dua hal yang bertentangan. Keduanya dapat berjalan bersama. Komitmen kebangsaan berarti menerima Indonesia sebagai rumah bersama yang harus dijaga. Indonesia dibangun di atas keberagaman agama, suku, budaya, dan bahasa.
Oleh karena itu, mencintai Indonesia berarti ikut menjaga persatuan, menghormati Pancasila, menghargai perbedaan, dan tidak mudah terpecah oleh isu SARA. Dalam moderasi beragama, komitmen kebangsaan menjadi indikator penting karena cara seseorang beragama seharusnya tidak merusak kesepakatan hidup bersama sebagai bangsa.
Survei INFID dan Jaringan GUSDURian menunjukkan bahwa generasi muda Indonesia memiliki potensi besar dalam merawat toleransi dan nasionalisme. Dalam laporan tersebut, 93% responden menunjukkan sikap toleran, 97% mendukung nasionalisme, dan 97% mengaku bangga menjadi warga negara Indonesia. Data ini menunjukkan bahwa Gen Z dan generasi muda Indonesia sebenarnya memiliki modal sosial yang kuat untuk menjadi penjaga keberagaman bangsa.
Namun, rasa cinta terhadap Indonesia tidak cukup hanya berhenti pada kebanggaan. Cinta Indonesia harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Bagi Muslim Gen Z, cinta Indonesia dapat diwujudkan dengan menjaga persaudaraan, menghormati simbol-simbol negara, menaati aturan, tidak menyebarkan narasi perpecahan, dan berkontribusi bagi masyarakat. Cinta tanah air juga dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap lingkungan, pendidikan, kesejahteraan masyarakat, dan kehidupan sosial yang damai.
5. Peran Muslim Gen Z dalam Menguatkan Moderasi Beragama
Muslim Gen Z memiliki peran strategis dalam menguatkan moderasi beragama di Indonesia. Peran-peran tersebut adalah:
1) Gen Z adalah generasi yang dekat dengan teknologi.
Hal terebut membuat Gen Z memiliki kemampuan untuk menyebarkan pesan positif secara luas dan cepat. Jika media sosial sering digunakan untuk hiburan, maka media sosial juga dapat digunakan untuk menyebarkan nilai toleransi, perdamaian, dan persatuan.
2) Gen Z memiliki kreativitas dalam menyampaikan gagasan.
Nilai-nilai moderasi beragama dapat dikemas dalam bentuk yang lebih segar, seperti video pendek, infografis, podcast, tulisan populer, desain poster, atau kampanye digital. Dengan cara ini, pesan keagamaan yang damai dapat lebih mudah diterima oleh sesama anak muda.
3) Gen Z dapat menjadi jembatan antara nilai keislaman dan nilai kebangsaan.
Disaat sebagian orang yang masih mempertentangkan agama dan nasionalisme, muslim Gen Z dapat menunjukkan bahwa keduanya tidak bertentangan. Seorang muslim dapat taat beragama sekaligus mencintai Indonesia, menjaga ibadah, dan juga menjaga persaudaraan kebangsaan.
4) Gen Z dapat menjadi teladan dalam membangun budaya dialog.
Perbedaan pandangan tidak harus selalu berakhir dengan permusuhan. Dalam kehidupan akademik (kampus), masyarakat, dan media sosial, Muslim Gen Z perlu membiasakan diri untuk berdiskusi secara sehat. Mendengar pendapat orang lain, bukan berarti kehilangan prinsip. Menghargai perbedaan bukan berarti membenarkan semua hal. Justru, kemampuan berdialog menunjukkan kedewasaan dalam berpikir dan beragama.
Dengan peran-peran tersebut, Muslim Gen Z dapat menjadi bagian dari solusi atas tantangan intoleransi, polarisasi, dan penyalahgunaan media sosial. Generasi muda tidak boleh hanya menjadi penonton perubahan, tetapi harus menjadi aktor yang membawa perubahan positif.
Selanjutnya, menjadi muslim Gen Z yang moderat adalah tentang bagaimana generasi muda Muslim mampu menjalankan ajaran Islam dengan seimbang, bijaksana, dan terbuka terhadap perbedaan. Sikap tersebut tercermin melalui kemampuan memahami agama secara utuh, menggunakan media sosial secara positif, serta menjaga komitmen kebangsaan.
Referensi:
Dahlan, A. P., Panggabean, S. K., & Walandouw, P. C. K. (2021). Attitudes of Millennials and Generation Z toward Religious Tolerance, Diversity, and Freedom in Indonesia. https://api.infid.org/storage/post/a1c13e68-49c2-4d84-980b-aa9696a8eac6_Attitudes-Of-Millennials-and-Generation-Z-Toward-Religious-Tolerance-Diversity-and-Freedom-In-Indonesia-1.pdf
Faiz, M. F. (2023). Moderasi Beragama: Pilar Kebangsaan dan Keberagaman. Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI). https://kemenag.go.id/kolom/moderasi-beragama-pilar-kebangsaan-dan-keberagaman-MVUb9
Laelah, N. A., Insiyah, S., Halili, & Hasani, I. (2023). Laporan Survei: Toleransi Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA). https://inclusiveindonesia.org/wp-content/uploads/2025/05/SETARA-Institute-Laporan-Survei-Toleransi-Siswa-Sekolah-Menengah-Atas-SMA.pdf
Launching Hasil Penelitian PPIM UIN Jakarta “Beragama ala Anak Muda: Ritual No, Konservatif Yes.” (2021). PPIM UIN Jakarta. https://ppimcensis.or.id/2021/12/09/launching-hasil-penelitian-ppim-uin-jakarta-beragama-ala-anak-muda-ritual-no-konservatif-yes/
PPIM UIN Jakarta: Anak Muda Tidak Religius, Tapi Konservatif. (2021). UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. https://www.uinjkt.ac.id/id/ppim-uin-jakarta-anak-muda-tidak-religius-tapi-konservatif/
4. Cinta Indonesia: Komitmen Kebangsaan sebagai Muslim Muda
Cinta Indonesia adalah bagian penting dari moderasi beragama. Dalam konteks kehidupan berbangsa, seorang Muslim tidak hanya memiliki tanggung jawab sebagai hamba Allah, tetapi juga sebagai warga negara. Menjadi Muslim yang taat dan menjadi warga negara Indonesia yang baik bukanlah dua hal yang bertentangan. Keduanya dapat berjalan bersama. Komitmen kebangsaan berarti menerima Indonesia sebagai rumah bersama yang harus dijaga. Indonesia dibangun di atas keberagaman agama, suku, budaya, dan bahasa.
Oleh karena itu, mencintai Indonesia berarti ikut menjaga persatuan, menghormati Pancasila, menghargai perbedaan, dan tidak mudah terpecah oleh isu SARA. Dalam moderasi beragama, komitmen kebangsaan menjadi indikator penting karena cara seseorang beragama seharusnya tidak merusak kesepakatan hidup bersama sebagai bangsa.
Survei INFID dan Jaringan GUSDURian menunjukkan bahwa generasi muda Indonesia memiliki potensi besar dalam merawat toleransi dan nasionalisme. Dalam laporan tersebut, 93% responden menunjukkan sikap toleran, 97% mendukung nasionalisme, dan 97% mengaku bangga menjadi warga negara Indonesia. Data ini menunjukkan bahwa Gen Z dan generasi muda Indonesia sebenarnya memiliki modal sosial yang kuat untuk menjadi penjaga keberagaman bangsa.
Namun, rasa cinta terhadap Indonesia tidak cukup hanya berhenti pada kebanggaan. Cinta Indonesia harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Bagi Muslim Gen Z, cinta Indonesia dapat diwujudkan dengan menjaga persaudaraan, menghormati simbol-simbol negara, menaati aturan, tidak menyebarkan narasi perpecahan, dan berkontribusi bagi masyarakat. Cinta tanah air juga dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap lingkungan, pendidikan, kesejahteraan masyarakat, dan kehidupan sosial yang damai.
5. Peran Muslim Gen Z dalam Menguatkan Moderasi Beragama
Muslim Gen Z memiliki peran strategis dalam menguatkan moderasi beragama di Indonesia. Peran-peran tersebut adalah:
1) Gen Z adalah generasi yang dekat dengan teknologi.
Hal terebut membuat Gen Z memiliki kemampuan untuk menyebarkan pesan positif secara luas dan cepat. Jika media sosial sering digunakan untuk hiburan, maka media sosial juga dapat digunakan untuk menyebarkan nilai toleransi, perdamaian, dan persatuan.
2) Gen Z memiliki kreativitas dalam menyampaikan gagasan.
Nilai-nilai moderasi beragama dapat dikemas dalam bentuk yang lebih segar, seperti video pendek, infografis, podcast, tulisan populer, desain poster, atau kampanye digital. Dengan cara ini, pesan keagamaan yang damai dapat lebih mudah diterima oleh sesama anak muda.
3) Gen Z dapat menjadi jembatan antara nilai keislaman dan nilai kebangsaan.
Disaat sebagian orang yang masih mempertentangkan agama dan nasionalisme, muslim Gen Z dapat menunjukkan bahwa keduanya tidak bertentangan. Seorang muslim dapat taat beragama sekaligus mencintai Indonesia, menjaga ibadah, dan juga menjaga persaudaraan kebangsaan.
4) Gen Z dapat menjadi teladan dalam membangun budaya dialog.
Perbedaan pandangan tidak harus selalu berakhir dengan permusuhan. Dalam kehidupan akademik (kampus), masyarakat, dan media sosial, Muslim Gen Z perlu membiasakan diri untuk berdiskusi secara sehat. Mendengar pendapat orang lain, bukan berarti kehilangan prinsip. Menghargai perbedaan bukan berarti membenarkan semua hal. Justru, kemampuan berdialog menunjukkan kedewasaan dalam berpikir dan beragama.
Dengan peran-peran tersebut, Muslim Gen Z dapat menjadi bagian dari solusi atas tantangan intoleransi, polarisasi, dan penyalahgunaan media sosial. Generasi muda tidak boleh hanya menjadi penonton perubahan, tetapi harus menjadi aktor yang membawa perubahan positif.
Selanjutnya, menjadi muslim Gen Z yang moderat adalah tentang bagaimana generasi muda Muslim mampu menjalankan ajaran Islam dengan seimbang, bijaksana, dan terbuka terhadap perbedaan. Sikap tersebut tercermin melalui kemampuan memahami agama secara utuh, menggunakan media sosial secara positif, serta menjaga komitmen kebangsaan.
Referensi:
Dahlan, A. P., Panggabean, S. K., & Walandouw, P. C. K. (2021). Attitudes of Millennials and Generation Z toward Religious Tolerance, Diversity, and Freedom in Indonesia. https://api.infid.org/storage/post/a1c13e68-49c2-4d84-980b-aa9696a8eac6_Attitudes-Of-Millennials-and-Generation-Z-Toward-Religious-Tolerance-Diversity-and-Freedom-In-Indonesia-1.pdf
Faiz, M. F. (2023). Moderasi Beragama: Pilar Kebangsaan dan Keberagaman. Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI). https://kemenag.go.id/kolom/moderasi-beragama-pilar-kebangsaan-dan-keberagaman-MVUb9
Laelah, N. A., Insiyah, S., Halili, & Hasani, I. (2023). Laporan Survei: Toleransi Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA). https://inclusiveindonesia.org/wp-content/uploads/2025/05/SETARA-Institute-Laporan-Survei-Toleransi-Siswa-Sekolah-Menengah-Atas-SMA.pdf
Launching Hasil Penelitian PPIM UIN Jakarta “Beragama ala Anak Muda: Ritual No, Konservatif Yes.” (2021). PPIM UIN Jakarta. https://ppimcensis.or.id/2021/12/09/launching-hasil-penelitian-ppim-uin-jakarta-beragama-ala-anak-muda-ritual-no-konservatif-yes/
PPIM UIN Jakarta: Anak Muda Tidak Religius, Tapi Konservatif. (2021). UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. https://www.uinjkt.ac.id/id/ppim-uin-jakarta-anak-muda-tidak-religius-tapi-konservatif/





Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.