ILUSTRASI. Belajar sambil membuka media sosial atau membalas chat ternyata dapat memperlambat proses belajar dan membuat materi lebih mudah terlupakan. Foto Unsplash.
EDUKASIA.ID - Pernah merasa sudah belajar berjam-jam, tetapi saat ujian materi justru sulit diingat? Atau merasa sangat sibuk membuka buku, mengetik tugas, membalas chat, hingga sesekali membuka media sosial dalam waktu bersamaan?
Banyak pelajar menganggap kebiasaan tersebut sebagai multitasking. Padahal, berbagai penelitian psikologi kognitif menunjukkan bahwa otak manusia sebenarnya tidak dirancang untuk mengerjakan beberapa aktivitas yang sama-sama membutuhkan konsentrasi secara bersamaan.
Alih-alih lebih produktif, kebiasaan itu justru membuat proses belajar lebih lambat, lebih melelahkan, dan hasilnya kurang maksimal. Lantas, mengapa multitasking saat belajar sebaiknya dihindari? Berikut lima alasannya, dirangkum dari artikel edukasi di Aioprivat.com:
1. Otak Sebenarnya Terus Berpindah Fokus
Saat belajar sambil membuka media sosial, menonton video, atau terus berpindah aplikasi, otak sebenarnya tidak mengerjakan semuanya sekaligus. Yang terjadi adalah task switching, yaitu perpindahan fokus dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya.
Menurut penelitian Richard Mayer dan Roxana Moreno (2003), setiap perpindahan fokus meningkatkan beban kognitif. Energi mental yang seharusnya digunakan untuk memahami materi justru habis untuk menyesuaikan diri dengan aktivitas baru.
Akibatnya, kita memang terlihat sibuk, tetapi pemahaman terhadap materi menjadi kurang mendalam. Dampak berikutnya pun tidak kalah penting: materi yang dipelajari menjadi lebih mudah terlupakan.
2. Materi Lebih Cepat Terlupakan
Belajar membutuhkan perhatian penuh agar informasi dapat tersimpan dalam memori jangka panjang.
Teori pemrosesan memori yang dikembangkan Craik dan Lockhart menjelaskan bahwa informasi yang dipelajari secara mendalam akan lebih mudah diingat dibandingkan informasi yang diterima sambil terdistraksi.
Itulah sebabnya seseorang bisa membaca satu bab berkali-kali, tetapi tetap kesulitan menjawab soal. Bukan karena kurang belajar, melainkan karena sejak awal perhatian terus terbagi ke banyak hal.
3. Waktu Belajar Justru Semakin Lama
Tidak sedikit pelajar memilih multitasking karena merasa bisa menghemat waktu. Faktanya justru sebaliknya.
Penelitian Rogers dan Monsell menunjukkan bahwa perpindahan tugas membuat penyelesaian pekerjaan menjadi lebih lama. Setiap kali perhatian teralihkan, otak membutuhkan waktu untuk kembali masuk ke materi yang sedang dipelajari.
Gangguan yang tampak hanya beberapa detik ternyata jika diakumulasikan dapat menghabiskan puluhan menit dalam satu sesi belajar. Tidak heran jika seseorang merasa sudah belajar lama, tetapi hasilnya belum sesuai harapan.
4. Risiko Salah Memahami Materi Lebih Besar
Perhatian yang terbagi membuat detail penting lebih mudah terlewat.
Dalam pelajaran matematika, misalnya, siswa bisa salah membaca angka atau menggunakan rumus yang keliru. Pada mata pelajaran lain, siswa dapat salah menangkap konsep atau keliru memahami isi bacaan.
Penelitian Ophir, Nass, dan Wagner (2009) juga menunjukkan bahwa orang yang terbiasa melakukan multitasking cenderung lebih mudah terdistraksi dan memiliki kontrol perhatian yang lebih rendah. Kondisi ini tentu berpengaruh terhadap kualitas hasil belajar.
5. Sibuk, tetapi Tidak Benar-Benar Belajar
Inilah yang sering disebut sebagai prokrastinasi terselubung.
Seseorang tampak sedang belajar karena buku terbuka dan laptop menyala. Namun, di sela-sela itu ia terus membuka notifikasi, membalas pesan, atau menonton video pendek.
Kesibukan tersebut menciptakan ilusi produktif. Padahal, menurut Cal Newport dalam konsep Deep Work, pemahaman yang mendalam hanya bisa diperoleh ketika seseorang memberikan perhatian penuh pada satu pekerjaan dalam satu waktu.
Fokus pada Satu Hal Jauh Lebih Efektif
Daripada mencoba mengerjakan banyak hal sekaligus, lebih baik membiasakan single-tasking. Fokus pada satu materi dalam satu sesi belajar, jauhkan ponsel jika tidak diperlukan, dan tentukan target belajar yang jelas.
Kebiasaan sederhana tersebut dapat membantu meningkatkan konsentrasi, memperkuat daya ingat, sekaligus membuat waktu belajar menjadi lebih efektif.
Bagi sebagian siswa, menjaga fokus secara konsisten memang tidak selalu mudah. Karena itu, belajar bersama tutor yang mendampingi secara personal dapat menjadi salah satu solusi. Dengan pendampingan yang tepat, siswa lebih mudah menjaga konsentrasi, memiliki target belajar yang jelas, sekaligus memperoleh penjelasan sesuai kebutuhan masing-masing.
AIO Privat menyediakan layanan les privat datang ke rumah khusus untuk wilayah Kota Semarang. Program tersedia untuk siswa SD, SMP, SMA, persiapan masuk perguruan tinggi, hingga pendampingan mata pelajaran dan keterampilan tertentu. Tutor dipilih sesuai kebutuhan dan karakter belajar setiap siswa.
Informasi mengenai program, mata pelajaran, dan biaya dapat dilihat di aioprivat.com. Jika ingin berkonsultasi terlebih dahulu, silakan menghubungi WhatsApp 0816853042. Tim AIO Privat akan membantu merekomendasikan tutor yang sesuai dengan kebutuhan belajar putra-putri Anda.



Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.