Guru SMK NU Al Hidayah, Kudus, Jawa Tengah mengawasi ujian siswa dibantu mengembangkan aplikasi anti nyontek TERA. Foto ist.
Aplikasi yang dikembangkan oleh Tim Skadev di bawah pimpinan Fachri S. Ahmad, S.Kom. itu dirancang spesifik untuk menutup celah kecurangan yang kerap terjadi dalam ujian berbasis komputer (Computer Based Test/CBT) konvensional.
Fitur unggulannya berupa sistem pendeteksi kecurangan berbasis perilaku (behavior-based detection).
Berbeda dengan aplikasi CBT pada umumnya, TERA memiliki arsitektur keamanan yang agresif, tak sekedar memindahkan soal ke layar.
Sistem ini bekerja tanpa kompromi. Jika siswa mencoba melakukan split screen atau membuka dua layar sekaligus untuk melihat catatan, sistem akan membunyikan alarm digital berupa notifikasi pelanggaran.
Lebih ketat lagi, jika siswa nekat berpindah aplikasi atau membuka tab baru di peramban, sanksi berat menanti, yakni jawaban akan otomatis direset dan siswa wajib mengulang ujian dari awal.
Tidak berhenti di situ, TERA menerapkan sanksi akademik secara real-time.
"Setiap satu kali pelanggaran terdeteksi, sistem otomatis mengurangi tiga poin dari nilai siswa," ujar Anis Kurniawati, ketua panitia Sumatif Akhir Semester SMK NU Al Hidayah, Selasa, 9 Desember 2025.
Anis menjelaskan, nomor dan urutan soal juga diacak secara otomatis oleh algoritma TERA. Hal ini membuat praktik saling mencontek antar-siswa yang duduk berdekatan menjadi nyaris mustahil dilakukan.
Kini dengan Tera, guru bisa langsung memantau aktivitas siswa melalui perangkat mereka sendiri. Misalnya, ketika siswa tidak sengaja me-refresh atau keluar sebentar dari tab tes, sistem langsung memberikan notifikasi pelanggaran.
Tidak hanya proktor yang tahu, tapi pengawas juga bisa memantau secara real-time.
Pengawas cukup duduk dan memantau layar. Dasbor TERA menyajikan status siswa secara real-time, siapa yang sedang mengerjakan, siapa yang sudah mengumpulkan, dan yang paling krusial, siapa yang terdeteksi melakukan pelanggaran.
Di sisi hilir, TERA memangkas birokrasi penilaian. Guru tak perlu lagi mengoreksi lembar jawaban secara manual.
Begitu siswa menekan tombol "kumpulkan", nilai langsung tertera. Sistem menyediakan fitur ekspor laporan nilai yang siap unduh untuk keperluan rapor maupun arsip sekolah.
Aplikasi ini mengintegrasikan lima pilar data utama, yakni Mata Pelajaran, Data Ujian, Data Siswa, Data Guru, dan Data Pengawas.
Selain itu, fitur tersebut memungkinkan admin atau guru menyusun bank soal secara terstruktur, mengatur durasi, hingga menentukan bobot penilaian dalam satu dasbor terpusat.
Keunggulan lain TERA terletak pada fitur monitoring pengawas. Melalui akun khusus, guru pengawas tak perlu lagi berkeliling ruang ujian secara fisik yang seringkali mengganggu konsentrasi siswa.
Digitalisasi asesmen di SMK NU Al Hidayah ini disebut bukan langkah gagah-gagahan semata. M. Ainul Majid, salah satu guru sekaligus Kepala Jurusan TKJ di SMK NU Alhidayah menjelaskan, penerapan TERA merupakan respons konkret pihak sekolah atas instruksi kepala sekolah yang menginginkan peningkatan kualitas layanan pendidikan.
"Kepala sekolah menghendaki kemudahan, transparansi dan kualitas. TERA hadir untuk meminimalkan kecurangan siswa sekaligus mempercepat proses penilaian yang selama ini memakan waktu administratif panjang," kata Majid.
Husna, salah satu siswa menyampaikan mengaku bahwa aplikasi Tera ini jauh lebih kompleks dan sesuai dengan perkembangan teknologi saat ini.
“Dulu kami menggunakan aplikasi lain. Aplikasi yang lama sebenarnya sudah membantu, tetapi prosesnya masih terbatas karena guru harus selalu berkoordinasi dengan proktor,” ujar Husna.



.png)


Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.