Jelang Usia 75 Tahun, Sido Muncul Riset Jamu Bareng Kampus

Ma'rifah Nugraha
0
Direktur Sido Muncul, Dr. (H.C.) Irwan Hidayat. Foto Ist.

Jakarta. EDUKASIA.ID - PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk menegaskan komitmennya memperkuat kerja sama dengan dunia akademik dalam menjaga mutu dan keamanan produk herbal. Kolaborasi riset ini menjadi salah satu fondasi perusahaan menjelang usia ke-75 tahun pada November 2026.

Melalui kemitraan dengan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (UNDIP) dan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Sido Muncul melakukan berbagai pengujian ilmiah terhadap produk unggulannya, Tolak Angin. Penelitian mencakup uji toksisitas, uji mutu bahan baku herbal, hingga uji pra-klinis dan uji khasiat.

Direktur Sido Muncul, Dr. (H.C.) Irwan Hidayat, menegaskan bahwa sejak awal perusahaan tidak ingin hanya memproduksi jamu berbasis tradisi, tetapi mengembangkannya dengan pendekatan ilmiah.

“Sebagai perusahaan terbuka, kami tidak hanya mengandalkan warisan resep tradisional, tetapi juga memastikan setiap produk harus terjaga kualitasnya dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah," kata Irwan Hidayat saat Press Conference Paparan Uji Khasiat dan Toksisitas Tolak Angin di Kantor Sido Muncul, Jakarta, Selasa, 20 Januari 2026.

Irwan mengungkapkan, langkah melakukan uji toksisitas dan uji khasiat telah dilakukan sejak tahun 2000. Pada masanya, pendekatan tersebut tergolong maju untuk produk jamu di Indonesia.

“Untuk sebuah jamu, ini adalah sebuah kemajuan. Bahkan saat itu, Tolak Angin merupakan pionir produk jamu di Indonesia yang diuji secara ilmiah," ucapnya.

Ia menambahkan, riset tidak hanya dilakukan pada Tolak Angin, tetapi juga pada produk lain seperti temulawak dan food suplement.

“Kami tidak bisa bergantung pada opini. Kami berpatokan pada hasil riset yang diuji secara ilmiah dan sudah kami lakukan sejak 23 tahun lalu. Uji toksisitas membuktikan secara ilmiah bahwa Tolak Angin tidak bersifat toksik, tidak merusak ginjal, tidak merusak hati, tidak merusak pankreas, serta tidak mengganggu hormon pria maupun wanita pada penggunaan dosis sesuai anjuran," jelas Irwan.

Dari sisi akademik, Peneliti Tolak Angin dari Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Dr. apt. Ipang Djunarko, S.Si., M.Sc, menjelaskan bahwa uji toksisitas subkronis menjadi bagian penting dalam memastikan keamanan produk herbal jangka panjang.

“Kami melakukan uji toksisitas subkronis sebagai tahap awal untuk menentukan keamanan suatu produk. Ini merupakan tuntutan dari Badan POM,” kata Ipang.

Pengujian dilakukan selama 90 hari pada tikus jantan dan betina, dengan dosis bertingkat, mulai dari dosis normal hingga dosis sangat tinggi yang setara dengan konsumsi sembilan sachet per hari.

“Pengujian dilakukan dengan pengamatan gejala klinis, uji darah, uji kimia klinik, serta pemeriksaan histologi pada organ-organ vital meliputi paru-paru, limpa, jantung, usus, lambung, ginjal, hati, serta organ reproduksi hewan uji,” ujarnya.

Hasilnya, tidak ditemukan efek toksik yang membahayakan.

“Selama 90 hari perlakuan, tidak ditemukan kematian maupun perubahan signifikan pada organ vital. Fungsi ginjal dan hati juga tidak mengalami gangguan,” jelasnya.

Peneliti lainnya, apt. Phebe Hendra, Ph.D, menambahkan bahwa hasil uji menunjukkan Tolak Angin relatif aman untuk penggunaan jangka panjang.

“Uji toksisitas subkronis dilakukan pada tikus jantan dan betina selama 90 hari hingga dosis tertinggi, dan tidak ditemukan kematian maupun perubahan gejala klinis,” ungkap Phebe.

Ia menjelaskan, jika dikonversikan ke manusia, durasi tersebut setara dengan sekitar delapan tahun penggunaan.

“Hasil ini menunjukkan bahwa Tolak Angin cair relatif aman digunakan dalam jangka panjang, selama digunakan sesuai dosis yang dianjurkan,” katanya.

Sementara itu, dari sisi khasiat, Peneliti Fakultas Kedokteran UNDIP, Dr. dr. Neni Susilaningsih, M.Si, menyebut pengujian dilakukan dari tahap hewan hingga manusia.

"Pemberian Tolak Angin cair selama satu minggu menunjukkan peningkatan jumlah limfosit T, peningkatan kadar sitokin seperti interferon dan interleukin, yang menandakan peningkatan respons imun. Tanpa mempengaruhi fungsi ginjal maupun hati melalui pemeriksaan kadar ureum, kreatinin. SGOT dan SGPT," jelasnya.

Menurut Neni, hasil uji keamanan dan khasiat tersebut menjadi syarat penting agar Tolak Angin dapat naik kelas.

“Inilah yang membuat Tolak Angin dapat naik level dari jamu menjadi obat herbal terstandar,” pungkasnya.

Komisaris Independen Sido Muncul, DR. Dr. Adib Khumaidi, Sp.OT, menegaskan bahwa riset bersama institusi pendidikan merupakan bentuk pertanggungjawaban perusahaan kepada publik.

“Perlu saya perjelas dan pertegas bahwa apa yang ada di dalam sachet ini merupakan sebuah pembuktian. Scientifically proven berarti semua proses produksi, termasuk Tolak Angin, berbasis pada proses akademis dan profesional yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah,” ujarnya.

Ia menambahkan, kolaborasi riset ini sejalan dengan kebijakan pemerintah melalui UU Kesehatan Nomor 17 Tahun 2023 tentang pengembangan obat bahan alam.

Brand Ambassador Tolak Angin, Andy F. Noya, menilai keterbukaan perusahaan dalam membawa riset ke forum akademik menjadi nilai penting.

"Ketika diminta menjadi brand ambassador, pertanyaan saya sederhana: apakah produk ini merugikan atau menguntungkan masyarakat? Jawabannya ada pada data dan kajian ilmiah,” ujarnya.

Senada, Prof. Rhenald Kasali, Ph.D, menyebut Sido Muncul berhasil membawa jamu ke level industri modern tanpa meninggalkan akar tradisional.

“Yang membedakan Sido Muncul adalah memodernisasi jamu hingga masuk ke standar industri farmasi, dengan uji laboratorium dan standar ilmiah sehingga dapat diterima oleh komunitas akademik,” ujarnya.

Hingga kini, Sido Muncul terus mengembangkan berbagai varian Tolak Angin, mulai dari cair, serbuk, tablet, kapsul, hingga varian khusus anak dan flu, dengan riset dan kolaborasi sebagai landasan utama pengembangannya.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top