Dokter FK Unair Beri Tips Berpuasa pada Anak dengan Diabetes Melitus

Redaksi
0
Ilustrasi. Foto ist

Surabaya. EDUKASIA.ID – Bagi sebagian remaja dengan DMT1, puasa bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga. dr. Rayi Kurnia Perwitasari, M.Ked.Klin, Sp.A, Subsp.End(K) mengungkapkan, banyak remaja DMT1 ingin berpuasa agar merasa setara dengan teman-temannya.

Menurutnya, puasa juga dapat meningkatkan rasa percaya diri dan kebahagiaan karena mereka merasa “dewasa dan mampu” menjalankan kewajiban agama. Namun, di balik semangat itu, ada aspek medis yang tak boleh diabaikan.

Hal itu diungkapkan saat family gathering Diabetes Melitus (DM) bertema “Diabetes Goes to Ramadan: Tetap Fit, Aktif, dan Berkah” yang dihelat Divisi Endokrinologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) bersama RSUD Dr. Soetomo Surabaya.

Memahami Risiko Sebelum Berpuasa


Dokter Rayi menjelaskan, anak dengan DMT1 yang hendak berpuasa harus dikategorikan berdasarkan tingkat risiko sangat tinggi, tinggi, sedang, dan rendah.

Puasa tidak dianjurkan pada kelompok risiko sangat tinggi, seperti anak dengan riwayat hipoglikemia berat dalam tiga bulan terakhir, riwayat ketoasidosis diabetikum (KAD) tiga bulan terakhir, sedang sakit akut, rata-rata gula darah sebelum makan >300 mg/dl, atau HbA1C >10%.

Risiko tinggi terdapat pada anak dengan rata-rata gula darah sebelum makan 200-300 mg/dl atau HbA1C 8-10%. Risiko sedang ditandai HbA1C 8%, sedangkan HbA1C 7% masuk kategori risiko rendah.

Penentuan kategori ini menjadi dasar penting sebelum memutuskan berpuasa.

Waspada Hipoglikemia dan Hiperglikemia


Saat berpuasa, dua kondisi yang paling diwaspadai adalah hipoglikemia dan hiperglikemia.

Hipoglikemia terjadi ketika kadar glukosa darah <70 mg/dL, dengan gejala gemetar, keringat dingin, pusing, lemas, hingga penurunan kesadaran.

Sebaliknya, hiperglikemia adalah kondisi kadar glukosa darah >250 mg/dL, yang dapat ditandai sering buang air kecil, sering haus, nyeri perut, mual, muntah, lemah, penurunan berat badan, napas cepat dan dalam, napas berbau keton, kulit dingin, hingga koma.

Dalam kondisi tertentu, hiperglikemia dapat berkembang menjadi ketoasidosis diabetikum (KAD) yang mengancam jiwa, dipicu kurangnya insulin, makan berlebihan, atau adanya infeksi dan penyakit akut.

“Jangan pernah menghentikan pemakaian insulin atau obat,” tegas Dokter Rayi dalam sesi edukasi tersebut.

Kunci Aman: Monitoring dan Kolaborasi


Agar puasa tetap aman, kadar glukosa darah harus dimonitor secara teratur. Porsi makan saat sahur dan berbuka perlu diatur dengan tepat, dan insulin tetap diberikan dengan penyesuaian dosis sesuai anjuran dokter. Asupan cairan juga harus dipenuhi untuk mencegah dehidrasi.

Anak dengan DM wajib membatalkan puasa bila terjadi hipoglikemia (<70 mg/dL), hiperglikemia berat (>300 mg/dL), muncul tanda KAD, atau saat sedang sakit akut.

Bagi anak dengan DMT1, puasa adalah ikhtiar yang memerlukan kesiapan medis dan dukungan keluarga. Karena itu, kolaborasi antara dokter, orang tua, dan anak menjadi kunci agar Ramadan dapat dijalani dengan aman, sehat, dan tetap bermakna.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)
aio

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top