Penandatanganan perjanjian pendanaan RISPRO Invitasi Berkemajuan antara LPDP dengan PP Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Kamis 19 Februari 2026. Foto LPDP.Penandatanganan perjanjian pendanaan riset dan kegiatan peningkatan kapasitas penerima manfaat berlangsung di Gedung A Ar Fachrudin Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Kamis 19 Februari 2026.
Skema pooling fund merupakan mekanisme penghimpunan dana dari berbagai sumber seperti organisasi, filantropi, atau donatur, ke dalam satu wadah bersama untuk membiayai riset dan inovasi secara terstruktur dan berkelanjutan.
Muhammadiyah melalui Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) menjadi organisasi pertama yang menjalin pola kolaborasi ini dengan LPDP. Model ini diharapkan memantik partisipasi organisasi masyarakat dan sektor lain dalam penguatan pendanaan riset nasional.
Direktur Fasilitasi Riset LPDP Ayom Widipaminto menegaskan pentingnya mendorong pendanaan riset dari sumber non-APBN, termasuk filantropi dan organisasi masyarakat, guna memperkuat daya saing global Indonesia yang tercermin dalam Indeks Inovasi Global (GII).
“Harapannya upaya-upaya untuk menggerakkan ekosistem tertarget seperti Muhammadiyah dan industri tertarget lainnya benar-benar bisa menggerakkan dan memastikan keluaran hasil riset itu bisa digunakan,” ujar Ayom dilasnri darilaman LPDP.
Sebanyak 26 proposal riset dari 13 perguruan tinggi resmi didanai setelah melalui seleksi ketat sejak September hingga Desember 2025. Meski diinisiasi bersama Muhammadiyah, program ini bersifat inklusif dengan melibatkan kampus di luar jaringan perguruan tinggi Muhammadiyah, seperti Universitas Indonesia dan Universitas Jenderal Soedirman.
Riset-riset terpilih diarahkan menghasilkan teknologi tepat guna dan produk hilirisasi yang akan diterapkan langsung melalui jejaring Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), mulai dari sektor pendidikan, layanan kesehatan rumah sakit, hingga penguatan kelompok tani binaan.
“Dengan lebih dari 160 perguruan tinggi dan ratusan rumah sakit, ekosistem Muhammadiyah menjadi ‘living lab’ yang ideal untuk proses sandboxing. Pendanaan bersama ini memastikan hasil riset benar-benar dihilirisasi, digunakan, dan dirasakan manfaatnya secara konkret oleh masyarakat melalui unit-unit amal usaha,” tambah Ayom.
Lima tema strategis menjadi fokus pendanaan, yakni ketahanan pangan dan pertanian; transisi energi, material, dan manufaktur; kesehatan; rekayasa dan teknologi digital; serta sosial, ekonomi hijau dan biru, serta humaniora.
Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Bambang Setiaji menekankan pentingnya integritas dan kemanfaatan luas dalam pelaksanaan program.
“Kolaborasi ini harus dijaga dengan penuh integritas agar kepercayaan publik dan amanah riset tetap terpelihara. Kami berharap riset-riset yang dijalankan melalui program ini dapat memberi manfaat nyata, bukan hanya bagi ekosistem Muhammadiyah, tetapi juga untuk kemajuan Indonesia,” kata Bambang.
Kolaborasi ini juga diproyeksikan menjadi praktik baik pendanaan riset dari sumber non-APBN guna mendorong belanja riset nasional minimal 1 persen dari PDB yang saat ini masih berkisar 0,24–0,28 persen, serta mempercepat transformasi menuju ekonomi berbasis inovasi.
Selain seremoni penandatanganan kontrak secara tripartit, para periset mendapatkan pembekalan intensif terkait kebijakan pencairan dana, prosedur pelaporan, serta mekanisme monitoring dan evaluasi untuk memastikan riset berjalan transparan, akuntabel, dan tepat waktu.


.png)


Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.