Sosok inspiratif, Dr. dr. Mochamad Abdul Hakam, Sp.PD-FINASIM. Foto ist.
Semarang. EDUKASIA.ID - Menyandang status yatim sejak usia dua tahun tak membuat Dr. dr. Mochamad Abdul Hakam, Sp.PD-FINASIM, menyerah pada keadaan. Alumni pesantren yang kini menjabat Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang sekaligus Dokter Spesialis Penyakit Dalam di RSD K.R.M.T. Wongsonegoro ini justru menapaki jalan panjang penuh disiplin, kerja keras, dan nilai-nilai pesantren.
Ayahnya, seorang guru SD Islam di daerah Terboyo, Kota Semarang, sekaligus pernah menjadi penghulu di Demak, wafat ketika Hakam masih balita. Sejak itu, Hakam diasuh kakek dan neneknya yang dikenal religius dan disiplin.
“Kalau orang kampung biasanya ngajinya habis Maghrib, beliau ngajinya dua kali, habis Subuh dan Maghrib, saya juga disuruh ikut. Kalau tidak berangkat, kadang disiram air,” kenangnya sambil tertawa ringan.
Ditempa di Pesantren Tertua Jawa Tengah
Sejak kelas satu MTs, Hakam mondok di Pondok Pesantren Futuhiyyah Suburan, Mranggen, Demak, pesantren tempat mendiang ayahnya pernah menimba ilmu. Ia menghabiskan sembilan tahun pendidikan hingga lulus SMA.
Di sana, ia tidak hanya belajar agama, tetapi juga hidup dalam kedisiplinan kolektif. Dalam satu kamar, bisa dihuni hingga 30 santri.
“Di pesantren saya belajar kemandirian, disiplin, kepemimpinan, bahkan pengendalian emosi. Kita hidup bersama banyak orang dari berbagai latar belakang, dalam satu kamar bisa sampai 30 santri,” ujarnya.
Cita-cita yang Lahir dari Karnaval
Tak ada latar belakang medis dalam keluarganya. Pihak ayah berasal dari keluarga nelayan, sementara keluarga ibu berdagang. Namun, impian menjadi dokter tumbuh sejak kecil, bermula dari karnaval SD saat ia mengenakan kostum dokter.
Cita-cita itu semakin kuat ketika ia mengetahui ayahnya wafat akibat penyakit usus buntu yang tidak tertangani dengan tuntas.
Selepas lulus pesantren, ia mencoba masuk Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, namun belum berhasil. Ia kemudian diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung saat krisis moneter 1997 melanda.
“Akhirnya dengan perjuangan daftar di Undip tidak diterima, kemudian daftar di Unissula, saat itu krisis moneter 1997, alhamdulillah eyang dari ibu yang di Terboyo mau support biayai kuliah saya,” ungkap Ketua Komisi Kesehatan Masyarakat MUI Kota Seamarang itu.
Kuliah Kedokteran Sambil Jualan
Biaya kuliah kedokteran yang besar menjadi tantangan tersendiri. Keluarga sempat keberatan, namun akhirnya mendukung dengan konsekuensi menjual beberapa aset.
“Waktu itu jualan macam-macam, tahu sendiri biaya di FK,” katanya mengenang perjuangan kakek-neneknya.
Ia pun membagi waktu antara kuliah dan membantu usaha keluarga. “Waktu kuliah kedokteran, jika kuliah pagi maka di toko siang atau sore, jika kuliahnya sore, paginya di toko,” tukasnya.
Dari pengalaman itu, ia merasa mendapatkan bekal kewirausahaan. “Saya melihat era sekarang di Rumah Sakit maupun Dinas Kesehatan dibutuhkan karakter lalu entrepreneurship, eyang putri jualan di pasar tiap hari saya antar kadang ikut jualan, eyang kakung jualan genteng dan pasir, jiwa enterpreneur saya dapatkan dari situ,” tegas Hakam.
Lolos CPNS, Tempaan Residen 6 Tahun
Kariernya sebagai dokter dimulai saat lolos CPNS Kota Semarang tahun 2005. Dari sekitar 2.000 pendaftar, hanya lima dokter diterima.
“Alhamdulillah di tahun 2005 ada pembukaan cpns jamannya SBY, dari 2000-an pendaftar, yang keterima hanya 5 dokter,” kenangnya.
Ia bertugas sebagai dokter IGD di RSD K.R.M.T. Wongsonegoro, kemudian dipercaya menjadi kepala pelayanan medik. Tahun 2009, ia mendapat beasiswa PPDS Spesialis Penyakit Dalam di Universitas Diponegoro. Pendidikan itu ia sempurnakan dengan pengabdian di NTT sebelum kembali ke Semarang pada 2015.
Tentang masa residen, ia menuturkan, “Saya bisa survive seperti itu karena didikan selama residen penyakit dalam tadi, residen itu 6 tahun sendiri. Teori 6 bulan, sisanya residen,” imbuhnya.
Tahun 2019, ia dipercaya menjabat Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang. Tak lama kemudian, pandemi COVID-19 datang.
Di tengah krisis, ia mendorong penerapan electronic medical record (e-RM). “Jadi saat COVID itu, kita langsung menerapkan e-RM. Lewat itu kita bisa mendapatkan data yang bagus, yang kuat, dan bisa memetakan orang-orang yang terkena COVID,” ujarnya.
Menurutnya, sistem tersebut memperkuat basis data dan mempercepat respons layanan kesehatan.
Pesantren Bukan Sekadar Kitab Kuning
Selain dokter spesialis, Hakam juga meraih gelar doktor ilmu hukum dengan disertasi berjudul “Rekonstruksi Formulasi Kebijakan Malpraktik Medis dalam Sistem Hukum Indonesia Berbasis Nilai Keadilan.”
Ia menegaskan, pesantren membentuk mental dan karakter. “Kalau dipikirkan jauh dari orangtua, tak pegang hp hanya pegang pena ngasahi kitab kuning, tak bisa ketemu lawan jenis, ini menurut saya sesuatu yang kita harus jauhkan,” tegasnya.
“Maka saya bilang, di pesantren tidak hanya mendapatkan ilmu agama saja, ilmu yang diluar agama banyak sekali yang kita dapatkan. Kalau diceritakan bisa sampai besok gak habis-habis,” imbuhnya.
Subhanallah, inspiratif sekali, pak dokter!



.png)



Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.