Prof. Dr. Fahrurrozi, M.Ag. Foto ist.
Semarang. EDUKASIA.ID – Tidak semua profesor lahir dari ruang kelas modern dan fasilitas akademik mapan. Sebagian justru ditempa dari bilik pesantren, disiplin ketat, serta tradisi keilmuan yang tumbuh dalam kesederhanaan. Jejak itulah yang mengiringi perjalanan Prof. Dr. Fahrurrozi, M.Ag., hingga berdiri di podium guru besar UIN Walisongo Semarang.
Prof. Dr. Fahrurrozi, M.Ag. akan dikukuhkan guru besar di kampus temppatnya mengabdi selama ini, UIN Walisongo Semarang, dalam Sidang Senat Terbuka, Sabtu 14 Februari 2026.
Siapa sangka, di balik capaian akademik pria kelahiran Pamekasan, 16 Agustus 1977 tersebut, tersimpan kisah konsistensi seorang santri yang tetap setia pada tradisi pesantren, bahkan dalam mendidik keluarganya sendiri.
Lahir dan tumbuh dari lingkungan pesantren, selepas lulus dari MI Nurun Najah, Pamekasan, Madura, orangtua Prof. Fahrurrozi memutuskan pendidikan menengah di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Madura. Selanjutnya saat mahasiswa, mondok di Pondok Pesantren Aji Mahasiswa Al-Mushsin Krapyak dan Pondok Pesantren Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.
Latar pesantren itulah yang membentuk fondasi keilmuan dan kedisiplinannya hingga mengantarkannya meraih gelar profesor di bidang Manajemen Pendidikan Islam.
Menariknya, meski telah menyandang gelar akademik tertinggi, suami dari Irma Kusharyanti, MP. ini tetap memilih memondokkan anak-anaknya di pesantren tradisional. Pilihan tersebut menunjukkan keyakinannya bahwa pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan ruang pembentukan karakter, adab, dan ketahanan mental.
Prof. Dr. Fahrurrozi, M.Ag bersama putrinya dalam salah satu tayangan podcast. Foto tangkap layar.
“Sebagai orang tua, bagaimana kita membudayakan dengan hal-hal positif, termasuk di antaranya membaca dan menulis, itu adalah tanggung jawab kita,” ujar Prof. Fahrurrozi.
Menurutnya, pembiasaan tersebut tidak cukup berhenti pada anjuran. Orang tua, kata dia, harus memastikan adanya dukungan yang memadai bagi anak-anak dalam proses belajar.
“Setelah membiasakan, harus didukung dengan support yang cukup, meski tidak harus berlebihan,” ungkapnya.
Ia mencontohkan, dukungan konkret bisa dilakukan dengan menyediakan bahan bacaan yang bermutu di rumah. Bahkan, menurutnya, anggaran keluarga sepatutnya memberi ruang bagi kebutuhan literasi anak.
“Kalau membaca, kita sediakan sebagian dari anggaran rumah tangga kita untuk buku-buku yang berkontribusi positif bagi perkembangan anak,” jelasnya.
Lebih jauh, Prof. Fahrurrozi menekankan pentingnya pendampingan orang tua. Ia menilai, membangun budaya literasi tidak bisa dilakukan hanya dengan perintah.
“Jangan sekadar memerintah, tetapi mendampingi anak kita,” tegasnya.
Komitmen terhadap literasi tersebut juga tercermin dari pengalamannya membimbing anak-anak usia sekolah dasar. Salah satunya, Prof. Fahrurrozi pernah mendampingi seorang anak yang masih duduk di bangku SD hingga berhasil menyusun dan menerbitkan sebuah buku, sebagai bagian dari pembiasaan berpikir kritis dan budaya menulis sejak usia dini.
Akademisi cinta riset
Prof. Fahrurrozi merupakan seorang akademisi yang konsisten menapaki dunia pendidikan Islam dari ruang kelas, riset, hingga perumusan kebijakan akademik.
Sejak 2005, ayah 3 anak itu mengabdikan diri sebagai dosen Manajemen Pendidikan Islam UIN Walisongo pada jenjang sarjana dan magister. Pengalaman mengajar tersebut menjadi fondasi bagi keterlibatannya dalam pengelolaan akademik, termasuk saat dipercaya menjabat Ketua Program Studi Manajemen Pendidikan Islam S1 dan S2 dalam dua periode berbeda.
Sebagai Ketua Prodi MPI S1 (2015–2019) dan MPI S2 (2019–2024), Prof. Fahrurrozi berperan dalam penguatan kurikulum, tata kelola program studi, serta pengembangan mutu pembelajaran. Prof. Fahrurrozi juga memiliki pengaman semasa di kampus lain, seperti Sekretaris Jurusan Kependidikan Islam Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo dan Sekretaris Pusat Studi Islam Universitas Islam Indonesia.
Pengalaman manajerial tersebut berjalan seiring dengan aktivitas riset yang konsisten. Sejumlah penelitiannya menyoroti isu strategis pendidikan Islam, mulai dari manajemen mutu sekolah, kepemimpinan pembelajaran, manajemen berbasis sekolah, hingga moderasi beragama. Penelitiannya bahkan menjangkau konteks internasional, seperti studi pengelolaan pendidikan Islam di wilayah minoritas Muslim di Thailand.
Dalam bidang publikasi, Prof. Fahrurrozi tercatat produktif menulis artikel ilmiah di jurnal nasional terakreditasi dan jurnal internasional bereputasi, termasuk jurnal terindeks Scopus. Tema-tema yang diangkat berkisar pada kepemimpinan pendidikan Islam, perilaku organisasi guru, hingga dampak kebijakan pembelajaran terhadap sikap moderat peserta didik.
Selain artikel jurnal, kontribusinya juga tercermin dalam puluhan buku dan karya terjemahan. Karyanya membahas manajemen pendidikan Islam, manajemen berbasis sekolah, strategic fundraising, hingga kepemimpinan dan mutu lembaga pendidikan. Buku terbarunya, Empowered in Limitations, mengulas strategi pengelolaan pendidikan Islam di komunitas minoritas Muslim.
Di luar kampus, Prof. Fahrurrozi aktif dalam pengabdian kepada masyarakat. Ia terlibat sebagai fasilitator pelatihan manajemen berbasis sekolah, pendamping lembaga pendidikan, serta koordinator dan penasehat di berbagai organisasi pendidikan Islam tingkat regional dan nasional. Peran tersebut memperkuat jembatan antara riset akademik dan praktik lapangan.
Tak hanya menghasilkan karya ilmiah, Prof. Fahrurrozi juga mencatatkan sejumlah Hak Kekayaan Intelektual (HKI) yang berkaitan dengan manajemen mutu pendidikan, kurikulum, serta pengembangan sikap moderat peserta didik. HKI tersebut menjadi bukti kontribusi akademiknya dalam pengembangan kebijakan dan inovasi pendidikan Islam.
Dengan rekam jejak pengajaran, riset, publikasi, dan pengabdian yang berjalan beriringan, Prof. Dr. Fahrurrozi, M.Ag. dikenal sebagai akademisi yang konsisten membangun manajemen pendidikan Islam berbasis mutu. Dari ruang kelas hingga kebijakan kampus, perjalanannya mencerminkan kerja sunyi namun berkelanjutan dalam memperkuat pendidikan Islam Indonesia.




.png)

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.