Ilustrasi beribadah saat Ramadan. Foto Unsplash.
Oleh : Ahmad Tajuddin Arafat, Akademisi UIN Walisongo/Komisi Dakwah MUI Kota Semarang,
EDUKASIA.ID - Tanpa terasa, setapak demi setapak langkah kita di bulan penuh berkah ini telah sampai di penghujungnya. Indah rasanya jika kita bersama-sama sejenak merefleksikan perjalanan Ramadan yang telah dilalui. Sudah sampai di manakah posisi spiritualitas kita saat ini?
Jika diri kita bertanya, apa yang terbayang ketika Ramadan hampir berakhir, tentu beragam perasaan akan muncul. Ada yang merasakan kesedihan karena bulan suci segera pergi, ada pula yang merasakan kebahagiaan karena berhasil melewatinya dengan ibadah. Namun tidak sedikit pula yang merasa biasa saja, seolah Ramadan berlalu tanpa meninggalkan kesan mendalam.
Refleksi sederhana ini sejatinya tidak perlu dipertontonkan kepada orang lain. Ia cukup menjadi cermin bagi diri sendiri. Apakah hari-hari ketika kita berpuasa terasa berbeda dengan hari-hari biasa ketika kita tidak berpuasa? Sahabat Nabi, Jabir, pernah mengingatkan agar kita merenungi hal tersebut.
Meski demikian, kita tidak perlu merasa khawatir, terlebih bagi mereka yang merasa Ramadan berlalu tanpa perubahan berarti. Di penghujung bulan ini, Allah SWT masih menganugerahkan sebuah momen istimewa yang sangat dinanti oleh banyak orang, bahkan dipersiapkan jauh-jauh hari untuk menyambutnya. Momen itu adalah malam Lailatul Qadar.
Malam yang penuh kemuliaan ini disebut dalam Al-Qur’an sebagai malam ketika Allah menurunkan kedamaian-Nya bersamaan dengan turunnya para malaikat pembawa rahmat hingga terbit fajar (QS. Al-Qadar: 4–5). Kedamaian ilahi inilah yang selalu dirindukan oleh para pencarinya. Kedamaian yang meresap ke dalam jiwa orang-orang yang sejak awal telah menyiapkan ruang di relung hatinya.
Kedamaian itu pula yang menghiasi gerak tangan, lisan, hati, dan langkah kaki mereka. Hingga pada akhirnya, mereka tidak lagi sanggup menyakiti diri sendiri, apalagi menzalimi orang lain.
Memang, berbagai riwayat telah menjelaskan tanda-tanda kemunculan malam yang mulia ini. Misalnya suasana malam yang terasa syahdu dan pagi yang cerah serta menenangkan. Para ulama pun memberikan petunjuk bahwa Lailatul Qadar berada di sepuluh malam terakhir Ramadan.
Namun muncul pertanyaan dalam diri kita: apakah semua orang pasti bisa merasakan kehadirannya? Atau setidaknya menyadari bahwa malam itu datang menghampiri?
Tentu saja yang paling mungkin merasakannya adalah mereka yang sejak awal Ramadan telah menanti dan berusaha menjemputnya dengan ibadah.
Lalu bagaimana dengan kita yang mungkin justru lebih menanti datangnya Lebaran dibandingkan Lailatul Qadar? Apakah kita tidak memiliki kesempatan?
Tidak perlu berputus asa. Ramadan adalah bulan penuh rahmat. Bahkan bisa dikatakan bahwa sebulan penuh Ramadan adalah “hari raya” bagi umat Islam. Allah SWT masih membuka ruang bagi siapa saja untuk terus berbuat kebaikan hingga akhir Ramadan.
Kebaikan tidak selalu harus berupa perbuatan besar. Menjaga diri agar tidak menyakiti, menzalimi, menghina, atau merendahkan orang lain juga merupakan bentuk kebaikan.
Sayyidina Umar pernah berpesan: “Janganlah engkau menanam benih kebencian kepada Allah di dalam hati hamba-hamba-Nya.”
Artinya, jangan sampai perilaku kita yang kasar, intoleran, atau keras dalam beragama membuat orang lain merasa tidak nyaman. Bisa jadi mereka tidak membenci kita secara pribadi, tetapi justru membenci agama dan Tuhan yang kita yakini.
Wallahu a’lam bi ash-shawab.



.png)

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.