Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh. Foto Kemenag.
Aceh. EDUKASIA.ID - Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniiry Banda Aceh mencatat capaian menonjol di bidang riset.
Dalam Scimago Institutions Rankings (SIR) 2026, kampus ini menempati peringkat kedua nasional untuk bidang hukum.
Posisi tersebut bahkan melampaui sejumlah perguruan tinggi besar di Indonesia seperti Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Diponegoro (UNDIP) pada indikator yang sama.
Berdasarkan data SIR 2026, peringkat pertama nasional ditempati Universitas Airlangga dengan posisi global #92. UIN Ar-Raniry berada di peringkat kedua nasional sekaligus peringkat #131 dunia.
Di bawahnya, ada Universitas Sebelas Maret (#196), Universitas Indonesia (#257), serta UIN Sunan Kalijaga (#262). Kemudian UIN Syarif Hidayatullah di posisi keenam (#272), disusul Universitas Diponegoro (#318), Universitas Negeri Semarang (#325), dan Universitas Gadjah Mada (#353).
Sejumlah kampus lain yang masuk 15 besar nasional antara lain Universitas Padjadjaran (#355), UIN Maulana Malik Ibrahim (#375), Universitas Brawijaya (#412), Universitas Muhammadiyah (#452), Universitas Hasanuddin (#468), hingga UIN Sunan Gunung Djati (#471).
Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Mujiburrahman, menyebut capaian ini merupakan hasil penguatan berkelanjutan dalam ekosistem riset kampus.
“Capaian ini bukan sekadar prestasi institusi, tetapi juga mencerminkan perubahan dalam lanskap riset nasional. PTKIN yang sebelumnya berada di pinggiran kini mulai mengambil peran strategis dalam produksi pengetahuan,” ujarnya di Banda Aceh, Sabtu, 28 Maret 2026.
Menurutnya, penguatan tersebut dilakukan melalui peningkatan kualitas publikasi ilmiah, pengembangan jurnal bereputasi, hingga peluasan kolaborasi internasional.
"Atas capaian ini, saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada pimpinan Fakultas Syariah dan Hukum beserta seluruh jajaran atas kerja keras dan kontribusi aktif dalam meraih prestasi gemilang ini," ujarnya.
Saat ini, UIN Ar-Raniry mengelola sekitar 125 jurnal ilmiah dan prosiding. Sebanyak 49 di antaranya telah terakreditasi nasional melalui Science and Technology Index (SINTA).
Dari jumlah tersebut, empat jurnal sudah terindeks Scopus kuartil satu (Q1), yakni Samarah, Islam Futura, El-Usrah, dan Petita.
Salah satu jurnal, El-Usrah, bahkan masuk dalam jajaran jurnal antropologi terkemuka di Asia dan menembus 50 besar dunia versi Scimago Journal Rank (SJR) 2025.
Capaian ini melanjutkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir. Pada SIR 2025, UIN Ar-Raniry berada di peringkat keempat nasional untuk kategori kinerja riset, sekaligus menjadi kampus dengan capaian tertinggi di luar Pulau Jawa.
Tak hanya itu, dua dosen UIN Ar-Raniry juga masuk dalam daftar Top 2 Percent Scientist Worldwide yang dirilis Stanford University bekerja sama dengan Elsevier, yakni Prof Muhammad Siddiq Armia dan Prof Mursyid Djawas.
Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry, Kamaruzzaman, menyebut capaian ini tak lepas dari penguatan budaya publikasi di lingkungan fakultas.
“Kami mendorong dosen dan mahasiswa untuk aktif menulis dan mempublikasikan karya ilmiah di jurnal bereputasi sebagai bagian dari peningkatan kualitas riset,” ujarnya.
Ia menambahkan, indikator Scimago yang berbasis data publikasi menunjukkan upaya membangun ekosistem riset di lingkungan PTKIN mulai menunjukkan hasil signifikan.
Posisi tersebut bahkan melampaui sejumlah perguruan tinggi besar di Indonesia seperti Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Diponegoro (UNDIP) pada indikator yang sama.
Berdasarkan data SIR 2026, peringkat pertama nasional ditempati Universitas Airlangga dengan posisi global #92. UIN Ar-Raniry berada di peringkat kedua nasional sekaligus peringkat #131 dunia.
Di bawahnya, ada Universitas Sebelas Maret (#196), Universitas Indonesia (#257), serta UIN Sunan Kalijaga (#262). Kemudian UIN Syarif Hidayatullah di posisi keenam (#272), disusul Universitas Diponegoro (#318), Universitas Negeri Semarang (#325), dan Universitas Gadjah Mada (#353).
Sejumlah kampus lain yang masuk 15 besar nasional antara lain Universitas Padjadjaran (#355), UIN Maulana Malik Ibrahim (#375), Universitas Brawijaya (#412), Universitas Muhammadiyah (#452), Universitas Hasanuddin (#468), hingga UIN Sunan Gunung Djati (#471).
Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Mujiburrahman, menyebut capaian ini merupakan hasil penguatan berkelanjutan dalam ekosistem riset kampus.
“Capaian ini bukan sekadar prestasi institusi, tetapi juga mencerminkan perubahan dalam lanskap riset nasional. PTKIN yang sebelumnya berada di pinggiran kini mulai mengambil peran strategis dalam produksi pengetahuan,” ujarnya di Banda Aceh, Sabtu, 28 Maret 2026.
Menurutnya, penguatan tersebut dilakukan melalui peningkatan kualitas publikasi ilmiah, pengembangan jurnal bereputasi, hingga peluasan kolaborasi internasional.
"Atas capaian ini, saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada pimpinan Fakultas Syariah dan Hukum beserta seluruh jajaran atas kerja keras dan kontribusi aktif dalam meraih prestasi gemilang ini," ujarnya.
Saat ini, UIN Ar-Raniry mengelola sekitar 125 jurnal ilmiah dan prosiding. Sebanyak 49 di antaranya telah terakreditasi nasional melalui Science and Technology Index (SINTA).
Dari jumlah tersebut, empat jurnal sudah terindeks Scopus kuartil satu (Q1), yakni Samarah, Islam Futura, El-Usrah, dan Petita.
Salah satu jurnal, El-Usrah, bahkan masuk dalam jajaran jurnal antropologi terkemuka di Asia dan menembus 50 besar dunia versi Scimago Journal Rank (SJR) 2025.
Capaian ini melanjutkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir. Pada SIR 2025, UIN Ar-Raniry berada di peringkat keempat nasional untuk kategori kinerja riset, sekaligus menjadi kampus dengan capaian tertinggi di luar Pulau Jawa.
Tak hanya itu, dua dosen UIN Ar-Raniry juga masuk dalam daftar Top 2 Percent Scientist Worldwide yang dirilis Stanford University bekerja sama dengan Elsevier, yakni Prof Muhammad Siddiq Armia dan Prof Mursyid Djawas.
Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry, Kamaruzzaman, menyebut capaian ini tak lepas dari penguatan budaya publikasi di lingkungan fakultas.
“Kami mendorong dosen dan mahasiswa untuk aktif menulis dan mempublikasikan karya ilmiah di jurnal bereputasi sebagai bagian dari peningkatan kualitas riset,” ujarnya.
Ia menambahkan, indikator Scimago yang berbasis data publikasi menunjukkan upaya membangun ekosistem riset di lingkungan PTKIN mulai menunjukkan hasil signifikan.


.png)


Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.