Urgensi Kurikulum Trauma-Informed Care: Menyembuhkan Luka Psikologis di Bawah Bayangan Erupsi Semeru

Redaksi
0
Pemetaan Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gunung Api Semeru. Sumber: Olahan Yesi Yuniar menggunakan data PVMBG dan DEMNAS.

Oleh: Yesi Yuniar, Mahasiswa Pendidikan Geografi Universitas Negeri Malang

EDUKASIA.ID - Erupsi Gunung Semeru tidak hanya meninggalkan kondisi fisik seperti jejak abu vulkanik maupun lahar dingin, namun juga mewariskan residu ketakutan mendalam di benak anak-anak yang tinggal di sekitarnya. Hujan deras di hulu atau suara gemuruh kecil sering kali memicu kecemasan, rasa takut dan detak jantung yang berpacu lebih cepat dibanding biasanya. Di daerah rawan bencana, trauma telah menjadi bayang-bayang hitam yang selalu membuntuti keseharian anak-anak.

Dalam kacamata geografi kebencanaan, resiliensi masyarakat dan kerentanan (vulnerability), terdapat satu fakta krusial, bahwa anak-anak menjadi kelompok paling rentan secara multidimensional. Kerentanan mereka tidak hanya terbatas pada kondisi aspek fisik, mobilitas evakuasi mereka masih sangat bergantung pada orang dewasa. Lebih dari itu, mereka juga menanggung kerentanan emosional dan kognitif, mereka belum memiliki kapasitas dalam memilah informasi risiko atau rasionalitas mengerikannya fenomena alam yang merusak dan menghancurkan lingkungan sekolah maupun tempat tinggal mereka. Keterbatasan ini menjadi fondasi rasa aman (basic safety) mereka sangat rapuh dan mudah hancur saat terjadi erupsi.

Tragisnya, ketika sekolah darurat kembali dibuka pasca erupsi, terdapat satu realitas pahit yang sering diabaikan, yakni kita memaksa anak-anak yang saat itu terluka secara psikologis untuk tetap mengejar ketertinggalan pembelajaran akademik. Kurikulum pendidikan saat ini, masih sangat berorientasi pada ketuntasan materi dan kelulusan ujian. Pertanyaannya, sudah mampukah anak-anak menyerap dan memahami materi pola bilangan atau bangun datar pada pelajaran matematika ketika rasa aman (basic safety) anak-anak telah hilang terenggut oleh bencana?

Di Indonesia pendidikan kebencanaan mayoritas masih berfokus pada mitigasi fisik, seperti berlari ke titik kumpul, melindungi kepala, menyiapkan tas siaga bencana berisi dokumen penting maupun masker dan kacamata pelindung. Hal tersebut tentu esensial secara teori perlindungan, namun tidak cukup. Satu fondasi krusial yang sering terlupakan, yakni mitigasi psikologis. Jarak geografis sekolah maupun tempat tinggal mereka dari zona bahaya secara langsung dapat memengaruhi kondisi mental psikologis anak-anak, dari sinilah kurikulum pendidikan harus mampu mengakomodasi realitas kerentanan dan kondisi tersebut.

Oleh karena itu, sudah saatnya kurikulum pendidikan kita dapat mengadopsi pendekatan Trauma-Informed Care (Pendidikan berbasis Kepedulian Trauma) untuk sekolah-sekolah yang berada di daerah rawan bencana. Pendekatan ini menuntut perubahan pandangan, alih-alih bertanya “mengapa nilai siswa A ini turun?”, guru berlatih untuk bertanya “apa yang telah dialami siswa A?”.

Terdapat langkah-langkah konkret yang terintegrasi pemulihan trauma anak secara psikologis dalam kurikulum sekolah, Pertama, menyisipkan Social-Emotional Learning (SEL) ke dalam kegiatan sehari-hari. Anak-anak yang terdampak erupsi Semeru perlu diberi ruang aman dikelas untuk bercerita, memvalidasi perasaan mereka, mengenali emosi, maupun belajar bagaimana meregulasi rasa takut tanpa menghakimi mereka.

Kedua, guru perlu dibekali pengetahuan dan kemampuan terkait Psychological First Aid (PFA). Dalam hal ini, guru menjadi garda terdepan yang memberikan dukungan mental dan membantu anak-anak yang mengalami trauma. Pendekatan ini memiliki fokus pada mengurangi tekanan, memberikan rasa aman, pemenuhan kebutuhan dasar, maupun menenangkan anak-anak tanpa memaksa bercerita terlalu dalam jika terjadi insiden traumatis.

Ketiga, mengoptimalkan wadah Bimbingan Konseling (BK) bukan hanya sekedar tempat siswa yang bermasalah, melainkan sebagai pusat pemulihan resiliensi mental psikologis anak-anak. Sejalan dengan kurikulum saat ini, yakni Kurikulum Merdeka yang fleksibilitas seharusnya dapat memberikan peluang bagi sekolah-sekolah di sekitar Gunung Semeru untuk merencanakan pembelajaran khusus trauma recovery untuk anak-anak.

Dari sinilah, sekolah perlu menjadi suaka psikologis anak-anak, tidak hanya sekadar menjadi pencetak nilai maupun ijazah. Peristiwa erupsi Gunung Semeru telah menjadi alarm keras bagi kita maupun para pemangku kebijakan pendidikan. Memperbaiki gedung-gedung sekolah yang rusak memang penting, tetapi membangun dan menyembuhkan kembali mental anak-anak yang rubuh menjadi investasi pendidikan yang jauh lebih krusial. Anak-anak di Gunung Semeru tidak hanya membutuhkan kurikulum yang mengajarkan penyelamatan diri saja, namun juga cara untuk berani merajut impian dan cita-cita di atas tanah yang sedang terdampak bencana.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)
aio

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top