Kepala Pusat Studi Hukun dan Gender Unugiri, Indah Listyorini, Beri Paparan Peringati Hari Perempuan Internasional. Foto Unugiri.
Bojonegoro. EDUKASIA.ID - Memperingati International Women’s Day (IWD) Perpustakaan Unugiri bekerjasama dengan Pusat Studi Hukum dan Gender (PSHG) Unugiri Bojonegoro, melakukan bedah buku “Perempuan di Titik Nol”, Kamis 12 Maret 2026.
Kegiatan tersebut, membedah karya Nawal el-Saadawi yang live melalui kanal Library Unugir, dan diikuti puluhan mahasiswa berbagai prodi serta perwakilan UKM.
M. Tsaqibul Fikri, selaku Direktur Kelambagaan, Alumni dan SDM, mengatakan bila agenda memperingati IWD yang jatuh pada 8 Maret kemarin, agar gerakan perempuan mencari kesetaran dan keadilan di berbagai bidang terwujud.
Terkhusus di Unugiri, Fikri menjelaskan, bila hal itu terwujud melalui pemberian kesamaan hak bagi perempuan, melalui peran strategis berbagai jabatan serta lembaga advokasi keperempuanan.
“Mbak Indah ini, dulu Ketua Satgas PPKS yang telah menyelesaikan berbagai kasus,” jelas Tsaqibul Fikri.
Indah Listyorini, selaku narasumber menyampaikan bila kini masih banyak terjadi diskriminasi kepada perempuan di mana-mana. Sebagai contoh femisida, atau ketidaksukaan terhadap perempuan mulai dari tindakan memukul, melukai, hingga menghilangkan nyawa.
“Karena dia perempuan, makanya banyak tindakan diskrimintatif yang dialamatkan kepadanya,” paparnya.
Terkait dengan penulis buku, perempuan yang juga menjadi Kepala PSHG Unugiri, menceritakan bila Nawal –sang penulis, adalah dokter, aktivis, dan novelis yang berasal dari Mesir.
Novel tersebut menggambil tokoh “Firdaus”, gadis yatim yang dititipkan kepada pamannya yang harusnya aman, tetapi malah mendapatkan pelecehan. Tidak berhenti di situ saja, tokoh novel kemudian dipaksa menikah kepada laki-laki yang lebih tua usianya.
Dalam perjalanan rumah tangga, dia sering mengalami penindasan, pelecehan yang tidak kunjung usai, hingga akhirnya dia menghilangkan nyawa dan dipenjara di Kanatir.
“Menyimak novel ini, artinya ia sudah mendapat diskrimanasi sejak awal yang dianggap aman –pamannya, hingga kemudian membina rumah tangga,” tuturnya.
Kontek Indonesia
Dalam konteks Indonesia, yang bisa dimbil pelajaran adalah lahirnya upaya perlawanan perempuan yang senantiasa digaungkan, mulai dari marginalisasi atau peminggiran ekonomi, subordinasi atau penomorduaan posisi, stereotip berupa pelabelan negatif, kekerasan fisik atau non-fisik), serta beban ganda yakni beban kerja berlebih.
“Lima gerakan itulah yang perlu diperjuangkan dalam kontek Indonesia,” pintanya.
Salah satu peserta, Aizzatul Maulia Zahra dari Prodi Bahasa Inggris, mengatakan senang mengikuti bedah buku kali ini. Baginya, buku “Perempuan di Titik Nol” memberi banyak insight baru. Bahkan, banyak pemahaman baru terkait isu perempuan melalui forum ini.
“Berkesan, karena pembahasan buku yang menarik serta diskusi yang menambah wawasan baru,” tutur mahasiswi Semester 4.
.png)


.png)


Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.