Ilustrasi remaja sedang berkomunikasi dengan sebaya. Foto Unsplash.
EDUKASIA.ID - Fenomena penggunaan bahasa yang dianggap “kasar” di kalangan generasi Z dan generasi Alpha kian menjadi perhatian. Namun, di balik itu, terdapat dinamika komunikasi yang lebih kompleks daripada sekadar penurunan moral.
Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Walisongo, Fathimah Nadia Qurrota A’yun menyebut, setiap generasi memiliki gaya komunikasi yang berbeda, termasuk dalam cara memaknai kata dan ekspresi.
Ia menilai, penggunaan kata-kata seperti “anjir”, “anjay”, hingga “anying” tidak lagi sepenuhnya bermakna umpatan. Dalam praktiknya, istilah tersebut telah mengalami pergeseran fungsi menjadi ekspresi spontan, seperti keterkejutan, kekaguman, hingga bentuk keakraban.
“Dalam konteks tertentu, kata yang dulunya dianggap kasar justru menjadi penanda relasi sosial dan kedekatan antar teman,” jelas Fathimah dilansir dari laman UIN Walisongo, Senin 13 April 2026.
Fenomena ini juga tampak pada penggunaan sapaan seperti “cuk”, “bangsat”, atau “dab” yang di sejumlah komunitas justru menjadi simbol solidaritas. Artinya, makna sebuah kata kini tidak hanya ditentukan secara harfiah, tetapi juga oleh konteks dan niat penggunaannya.
Lebih jauh, Fathimah menjelaskan penyebaran fenomena ini dapat dipahami melalui teori difusi inovasi. Bahasa “kasar” yang mengalami perubahan makna dianggap sebagai inovasi komunikasi yang menyebar melalui media sosial dan lingkungan pergaulan.
Prosesnya dimulai dari paparan, kemudian diikuti penerimaan karena dianggap wajar atau “keren”, hingga akhirnya menjadi kebiasaan yang mendapat legitimasi sosial di lingkungan mereka.
Meski demikian, ia menegaskan adanya kesenjangan nilai dengan prinsip etika komunikasi dalam Islam. Dalam ajaran Islam, lisan harus dijaga melalui prinsip seperti qaulan sadida, qaulan ma’rufa, hingga qaulan layyinan yang menekankan kebenaran, kebaikan, dan kelembutan dalam bertutur.
Menariknya, sebagian generasi muda sebenarnya menyadari bahwa istilah tersebut tergolong tidak santun. Namun, kuatnya pengaruh lingkungan sosial membuat norma kelompok lebih dominan dibanding pemahaman nilai etika yang dimiliki.
Karena itu, fenomena ini dinilai tidak bisa disederhanakan sebagai kemerosotan moral semata. Dibutuhkan pendekatan yang lebih dialogis dan kontekstual dalam menyikapinya.
“Yang diperlukan bukan sekadar larangan, tetapi edukasi dan pemahaman agar generasi muda mampu memilih diksi yang tepat tanpa kehilangan identitas komunikasinya,” tegasnya.
Ia pun mendorong peran orang tua, pendidik, dan tokoh masyarakat untuk menjembatani kesenjangan komunikasi antar generasi melalui literasi etika yang lebih komprehensif. Pendekatan yang memahami budaya generasi Z dan Alpha dinilai menjadi kunci dalam membangun pola komunikasi yang lebih bijak.



.png)


Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.