Gus In’am di FIPP UNNES, Halalbihalal Momentum Urai 'Benang Kusut' Jabatan

Redaksi
0
Gus In'am saat Halalbihalal Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) Universitas Negeri Semarang, Rabu 1 April 2026. Foto ist.

Semarang. EDUKASIA.ID - KH. M. In'amuzzahidin Masyhudi menyinggung dinamika relasi di lingkungan kampus, terutama terkait jabatan. Hal itu ia sampaiakn dalam tausiyah pada Halalbihalal Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) Universitas Negeri Semarang, Rabu 1 April 2026.

Gus In’am (sapaan KH. M In'amuzzahidin Masyhudi) memaknai halalbihalal sebagai proses “halla”, yakni mengurai benang kusut dalam hubungan antarmanusia. Ia menyinggung secara ringan namun tajam soal gesekan yang kerap muncul dalam kontestasi jabatan di lingkungan akademik.

“Semoga hubungan yang sempat kusut karena urusan jabatan (seperti daftar jadi wakil dekan atau dekan tapi tidak diterima) bisa terurai,” ujar Gus In’am, disambut tawa hadirin.

Menurutnya, jabatan bukan semata hasil ambisi, melainkan kombinasi antara “garis tangan” (takdir) dan “tanda tangan” (legalitas/SK). Ia mengingatkan agar proses meraih posisi tidak dilakukan dengan cara yang merugikan orang lain.

Lebih jauh, Gus In’am mengingatkan bahaya menjadi golongan muflis atau orang yang bangkrut di akhirat. Ia menjelaskan, seseorang bisa saja membawa pahala ibadah melimpah, namun habis karena perilaku menyakiti orang lain, baik melalui lisan maupun tulisan.

“Di era digital, lisan kita berpindah ke jari. Jangan sampai digunakan untuk mencaci atau berkomentar buruk,” tegas pengasuh Pondok Pesantren Salaf Nurul Hidayah Semarang itu.

Ia juga mengaitkan nilai puasa dengan integritas, termasuk dalam mencegah praktik korupsi seperti OTT, yang menurutnya berakar dari ketidakjujuran.

Sementara itu, Dekan FIPP UNNES Edy Purwanto mengaitkan momentum halalbihalal dengan nilai pendidikan dan sejarah lokal. Ia menyoroti kiprah Sholeh Darat dalam membangun tradisi literasi di tengah keterbatasan era kolonial.

Menurutnya, Kiai Sholeh Darat menggunakan strategi cerdas dengan menulis terjemahan Al-Qur’an dalam huruf Arab Pegon, sehingga tetap dapat dipahami masyarakat pribumi.

Dari proses itulah, tokoh nasional Raden Ajeng Kartini mendapatkan inspirasi pemikiran, termasuk konsep “Minadzulumati ilan nur” yang dikenal dalam gagasan Habis Gelap Terbitlah Terang.

Ketua panitia Indrajati Kunwijaya menyebut kegiatan bertema Memelihara Akhlak Mulia Buah Puasa Ramadan ini menjadi ruang penting mempererat silaturahmi antar sivitas akademika, mulai dari pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, hingga purnatugas.

Acara ditutup dengan doa bersama, membawa harapan agar seluruh civitas kembali menjalankan aktivitas dengan hati yang bersih serta hubungan yang lebih harmonis pasca-Ramadan.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)
aio

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top