Ketika Pasar Secondhand Semakin Marak: Cerminan Tekanan Daya Beli atau Sekedar Pergeseran Gaya Hidup?

Redaksi
0

Opini oleh: Abriyan Sepbrina Raya

EDUKASI.ID - Mungkin beberapa orang menyadari bahwa adanya perubahan pola belanja dari masyarakat. Beberapa dari mereka dulu pasti terbiasa membeli barang barang baru di pusat perbelanjaan, seperti mall, pasar modern, atau pusat retail lainnya. Namun kini semakin banyak yang beralih ke pasar produk secondhand, baik melaui platfrom digital ataupun pasar loak. Berjalan dengan hal itu, para penjual kini mulai mengembangkan usahanya dengan membuka toko khusus produk secondhand. Bahkan, aktivitas transaksi online juga semakin terlihat di media sosial, misalnya melalui siaran langsung TikTok, di mana penjual menawarkan produk secara real time dan pembeli dapat langsung memilih barang yang diinginkan.

Perubahan ini bukan hanya sekedar asumsi. Data menunjukkan bahwa ada sekitar hampir 50% masyarakat Indonesia pernah membeli produk secondhand. Di mana volume impor mencapai angka hampir 800 ton per tahunnya. Angka tersebut menunjukkan bahwa pasar secondhnad bukan hanya sebagai fenomena kecil namun juga sudah menjadi bagian dari pola konsumsi masyarakat.

Sebagian masyarakat yang menganggap bahwa hal ini hanya sekedar tren dari gaya hidup, seperti layaknya untuk tampil berbeda atau lebih peduli terhadap kondisi suatu lingkungan. Namun, jika dilihat dari kondisi ekonomi sekarang, alasan utamanya seseorang membeli produk secondhand adalah masalah harga yang dimana itu menurut mereka lebih praktis. Akibat biaya hidup yang terus mengalami peningkatan, sementara pendapatan tidak adanya kenaikan yang sebanding, sehingga membuat masyarakat memilih alternatif lain karena agar harga lebih terjangkau, sehingga adanya produk secondhand ini merupakan pilihan yang baik bagi mereka. Peralihan masyarakat ke dalam produk secondhand dalam banyak kasus bukan lagi sekedar sebuah pilihan, namun sudah menjadi bentuk penyesuaian mereka terhadap tekanan ekonomi yang semakin terasa.

Fenomena ini juga akan menarik jika dilihat dari kelompok kelas menengah. Selama ini, kelas menengah sering dianggap sebagai kelompok yang relatif stabil secara ekonomi. Namun kenyataannya, mereka juga mulai merasakan tekanan seperti adanya kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan, dan pengeluaran sehari-hari yang semkain lama semakin tinggi membuat ruang konsumsi masyarakat tersebut menjadi lebih terbatas.

Ketika terjadi adanya suatu perubahan, itu tidak sepenuhnya akan terlihat secara langsung. Tidak adanya perubahan secara drastis, namun lebih cenderung penyesuaian kecil yang dilakukan secara bertahap, seperti mengurangi pembelian barang baru atau beralih ke produk secondhand. Adanya kebiasaan sesorang belanja impulsif mulai tergantikan dengan kebiasaan membandingkan harga atau mencari alternatif lain yang lebih hemat. Perubahan yang terjadi secara perlahan ini menunjukkan bahwa tekanan ekonomi akan bekerja secara nyata dalam kehidupan sehari-hari

Faktor gaya hidup tetap memiliki peran dalam mendorong tren secondhand ini. Di kalangan anak muda, produk secondhand sering dianggap lebih unik dan tidak pasaran. Tak hanya itu, peningkatan kesadaran terhadap isu lingkungan juga membuat sebagian orang memilih untuk membeli barang secondhand sebagai bentuk konsumsi yang lebih bertanggung jawab. Namun penjelasan ini tidak sepenuhnya bisa menggambarkan kondisi yang sebenarnya. Menganggap tren secondhand hanya sekadar gaya hidup hal tersebut cenderung menutup fakta bahwa sebagian masyarakat beralih karena keterbatasan ekonomi.

Sejalan dengan peningkatan minat terhadap produk secondhand, pasar ini juga mengalami perubahan. Beberapa barang secondhand, terutama yang memiliki merek tertentu, kini dijual dengan harga yang cukup tinggi. Bahkan pada siaran langsung disuatu platform media sosial atau toko tertentu, produk yang sudah dikurasi dapat dijual dengan harga yang jauh lebih mahal. Hal ini menunjukkan bahwa pasar secondhand juga mengikuti mekanisme pasar, di mana harga dipengaruhi oleh suatu permintaan dan penawaran. Ketika harga barang secondhand mulai mendekati harga barang baru, fungsi utamanya sebagai pilihan yang lebih hemat kini perlahan memudar.

Lalu, apakah fenomena ini lebih mencerminkan gaya hidup atau tekanan ekonomi?

Jawabannya kemungkinan merupakan kombinasi dari keduanya. Namun, yang perlu diperhatikan adalah arah perubahan yang terjadi. Jika semakin banyak orang beralih kepada produk secondhand karena alasan harga yang terjangkau, maka fenomena ini tidak lagi sekedar tren, namun akan menjadi indikator terhadap konsidi suatu perekonomian. Fenomena ini kini dapat dilihat sebagai sinyal halus mengenai daya beli masyarakat yang mulai melemah.

Bagi pembuat kebijakan, tren ini seharusnya tidak hanya dilihat sebagai pertumbuhan sektor ekonomi semata. Di mana ada hal yang perlu diperhatikan terutama terkait dengan kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan mereka. Sementara itu bagi masyarakat tren ini menunjukkan kemampuan seseorang dalam beradaptasi dengan kondisi yang ada. Meskipun demikian, adaptasi tersebut tetap memiliki suatu batasan. Namun penyesuaian yang dilakukan tersebut tidak dapat menjadi solusi dalam jangka panjang apabila diikuti dengan perbaikan kondisi ekonomi secara keseluruhan.

Akhirnya, pasar secondhand bukan hanya soal perubahan gaya hidup, namun juga mencerminkan kondisi yang sedang terjadi di masyarakat. Sehingga dibalik meningkatnya minat masyarakat terhadap produk secondhand, terdapat realita bahwa semakin banyak orang yang harus berhati-hato dalam mengelola pengeluaran mereka.

Referensi:

Hidayah, F. n. (2023, June 2). Ada 49,4% Masyarakat Indonesia Pernah Melakukan Thrifting. https://data.goodstats.id/statistic/ada-494-masyarakat-indonesia-pernah-melakukan-thrifting-sP7wi

Pahlevi, R . (2025, December 8). Cek Data: Berapa Jumlah Sebenarnya Impor Pakaian Bekas Ilegal di Indonesia? https://katadata.co.id/cek-data/69363214af89e/cek-data-berapa-jumlah-sebenarnya-impor-pakaian-bekas-ilegal-di-indonesia

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)
aio

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top