Iduladha. Foto sumselprov.
EDUKASIA.ID - Idul Adha 1447 Hijriah telah ditetapkan pemerintah jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026. Hari besar umat Islam ini tak hanya identik dengan salat Id, tetapi juga ibadah qurban yang selalu menjadi bagian penting dalam perayaannya.
Mengutip laman MUI, secara bahasa, Idul Adha berasal dari dua kata, yakni ‘id dan adha. Kata ‘id berasal dari “aada-ya’uudu” yang berarti kembali atau berulang, sementara adha bermakna qurban. Karena itu, Idul Adha dimaknai sebagai hari raya qurban yang datang setiap tahun.
Dalam tradisi Islam, qurban bukan sekadar menyembelih hewan. Ibadah ini mengandung nilai pengorbanan, kepatuhan, hingga kepedulian sosial terhadap sesama.
Allah SWT sendiri telah mensyariatkan qurban bagi umat Islam sebagaimana tertuang dalam Al-Qur’an:
Artinya: “Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).” (QS Al Hajj: 34).
Ibadah qurban juga tak lepas dari kisah agung Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Peristiwa itu menjadi simbol ketundukan total kepada Allah SWT serta keteguhan dalam menjalankan perintah-Nya.
Dari peristiwa tersebut, ada sejumlah hikmah yang bisa dipetik umat Islam.
Pertama, qurban menjadi bentuk cinta dan ketaatan kepada Allah SWT. Melalui ibadah ini, manusia diajarkan untuk mendahulukan perintah Tuhan di atas kepentingan pribadi.
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah memberikan karunia sangat banyak kepadamu, maka sholatlah untuk Tuhanmu dan sembelihlah qurban.” (Al-Kautsar: 1-2).
Kedua, qurban mengajarkan umat Islam untuk menekan sifat egois, rakus, dan mementingkan diri sendiri. Semangat berbagi dan kepedulian sosial menjadi nilai utama dalam ibadah ini.
Keteladanan Nabi Ibrahim AS yang rela mengorbankan putra tercintanya menjadi gambaran nyata tentang kepatuhan dan keikhlasan kepada Allah SWT.
Ketiga, qurban menjadi sarana berbagi rezeki kepada masyarakat yang membutuhkan. Daging qurban yang dibagikan kepada fakir miskin dan dhuafa menjadi bentuk solidaritas sosial di tengah masyarakat.
Melalui momen Idul Adha, hubungan antarsesama juga dapat semakin erat. Sikap saling membantu dan berbagi dinilai mampu mengurangi kesenjangan sosial serta menciptakan kehidupan yang harmonis.
Keempat, hewan qurban disebut akan menjadi saksi amal ibadah di akhirat kelak. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa ibadah qurban sangat dicintai Allah SWT.
“Tidak ada amalan yang dikerjakan anak Adam ketika hari (raya) qurban yang lebih dicintai oleh Allah Azza Wa Jalla dari mengalirkan darah, sesungguhnya pada hari kiamat ia akan datang dgn tanduk-tanduknya, kuku-kukunya & bulu-bulunya. Dan sesungguhnya darah tersebut akan sampai kepada Allah Azza Wa Jalla sebelum jatuh ke tanah, maka perbaguslah jiwa kalian dengannya.” [HR Ibnu Majah No 3117].
Kelima, orang yang berqurban dijanjikan pahala yang besar. Bahkan setiap bulu hewan qurban disebut mengandung nilai kebaikan bagi yang melaksanakannya.
“Berkata kepada kami Muhammad bin Khalaf Al ‘Asqalani, berkata kepada kami Adam bin Abi Iyas, berkata kepada kami Sullam bin Miskin, berkata kepada kami ‘Aidzullah, dari Abu Dawud, dari Zaid bin Arqam, dia berkata: berkata para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Wahai Rasulullah, hewan qurban apa ini?” Beliau bersabda: “Ini adalah sunah bapak kalian, Ibrahim.” Mereka berkata: “Lalu pada hewan tersebut, kami dapat apa wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Pada setiap bulu ada satu kebaikan.” Mereka berkata: “Bagaimana dengan shuf (bulu domba)?” Beliau bersabda: “Pada setiap bulu shuf ada satu kebaikan.” [HR. Riwayat Ibnu Majah dalam Sunannya No. 3127].




Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.