Hari Pendidikan Nasional: Seremoni dan Ironi Pendidikan Kita

Redaksi
0

Penulis: Ahmad Baedowi, M.Si, Dosen Agama Islam Universitas Indonesia/ Mahasiswa Doktoral Studi Islam UIN Walisongo.

EDUKASIA.ID - Setiap tanggal 2 Mei kita selalu memeringati hari Pendidikan Nasional. Lazimnya dalam setiap hari peringatan ada ucapan, twibon dan reklame-reklame pengingat bahkan ada upacara atau kegiatan peringatan dengan pidato heroik dari pimpinan-pimpinan dalam memberikan semangat kepada para jajarannya agar berkerja lebih baik lagi. Namun gebyar dan gegap gempita dari perhelatan peringatan tersebut seringnya tidak mampu mendorong kesadaran apalagi perubahan.

Peringatan Hari Pendidikan Nasional diambil dari hari lahirnya tokoh dan Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara, yang lahir pada tanggal 2 Mei 1889. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan peringatan. Namun jika peringatan hanya dijadikan ajang seremoni dan tidak dimaknai secara mendalam apa yang bisa diambil dari peringatan tersebut maka seperti debu yang tertiup angin tidak ada apa-apa yang tersisa.

Dalam peringatan yang terpenting adalah bagaimana kita bisa memaknai apa yang diperingati. Ada Upaya dan gerakan yang dilakukan. Dalam hal Pendidikan, kita harus sadar dan memahami bagaimana kondisi Pendidikan kita. Semua elemen bangsa harus sadar dan bergerak dalam Upaya memajukan Pendidikan kita. Karena Pendidikan merupakan indikator penting kemajuan sebuah Bangsa.

Dalam menunjukkan tingkat kemajuan Pendidikan diantara yang digunakan adalah Programme for International Student Assessment (PISA) yang merupakan standar global untuk mengukur kemampuan siswa usia 15 tahun dalam literasi membaca, matematika, dan sains. Kalau melihat hasil PISA 2022, ada satu gambaran yang agak “menampar halus” tentang pendidikan kita. Di atas kertas, posisi Indonesia memang terlihat membaik dan naik beberapa peringkat dibanding 2018. Tapi kalau dilihat lebih dalam, kenaikan itu bukan karena kita melesat, melainkan karena banyak negara lain turun. Secara data mungkin kita terlihat naik kelas, tapi secara kemampuan, kita masih berjuang untuk sekadar memenuhi standar dasar.

Belum lagi kalau kita melihat hasil statistik Pendidikan dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 ada bebrapa point yang penting kita simak bersama yakni, Pertama, Akses meningkat, tetapi kualitas belum sejalan secara statistik, angka partisipasi pendidikan (APK/APM) terus naik. Namun, peningkatan akses ini tidak selalu diikuti oleh peningkatan kualitas pembelajaran. Banyak siswa belajar di sekolah, tetapi capaian literasi, numerasi, dan pemahaman konseptual masih relatif rendah. Kedua, Program wajib belajar dan berbagai bantuan pendidikan sudah diperluas, tetapi angka putus sekolah terutama di jenjang menengah masih muncul, khususnya di wilayah tertinggal. Ketiga, Distribusi guru banyak, tetapi tidak merata Jumlah guru secara nasional mencukupi, bahkan di beberapa daerah berlebih. Namun di daerah terpencil justru kekurangan tenaga pendidik. Terjadi paradoks antara kelebihan dan kekurangan dalam satu sistem yang sama.

Keempat, Anggaran besar, tetapi efektivitas dipertanyakan, Pemerintah mengalokasikan anggaran pendidikan minimal 20% dari APBN. Namun, hasilnya belum sepenuhnya tercermin pada peningkatan kualitas output pendidikan. Ini menimbulkan ironi antara besar input (anggaran) dan rendahnya outcome (mutu). Kelima, Pendidikan tinggi berkembang, tetapi relevansi kerja belum kuat

Jumlah perguruan tinggi dan lulusan meningkat, tetapi tidak semua lulusan terserap sesuai bidangnya. Ada kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan pasar kerja.

Keenam, Semangat pemerataan, tetapi ketimpangan tetap lebar, Data menunjukkan upaya pemerataan terus dilakukan, namun kesenjangan antara wilayah bagian barat timur, antara kota desa, dan kelompok ekonomi masih signifikan. Ironinya, semakin banyak data tentang ketimpangan, tetapi penyelesaiannya belum tuntas. Ketujuh, Pendidikan karakter digaungkan, tetapi praktiknya belum konsisten

Secara kurikulum, pendidikan karakter dan nilai ditekankan. Namun dalam praktik, implementasinya sering normatif dan belum terinternalisasi dalam perilaku peserta didik masih banyak kasus amoral yang terjadi di dunia Pendidikan kita.

Meskipun kita hari ini sedang di bawah dan terpuruk, namun dengan semangat dan potensi yang kita miliki seperti populasi muda yang besar, sumber daya alam yang melimpah, dan semangat untuk maju, Indonesia memiliki semua modal untuk menciptakan sistem pendidikan berkelas dunia. Hari ini yang kita dibutuhkan adalah komitmen tinggi, konsisten, investasi strategis, dan kerja sama semua pihak untuk mewujudkan visi pendidikan Indonesia yang unggul dan merata.

Data dan fakta lapangan yang menunjukkan masih rendahnya tingkat kualitas pendidikan kita bukan untuk membuat pesimis, tetapi untuk memberikan inspirasi dan pembelajaran. Negara-Negara besar dan maju dalam pendidikan pernah mengalami fase pembangunan. Indonesia hari ini sedang dalam perjalanan tersebut, asal tidak menjadikan peringatan hanya seremoni namun menjadi sumber inspirasi gerak langkah untuk masa depan pendidikan Indonesia yang lebih baik.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)
aio

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top