Isrodin Raih Penghargaan usai Dirikan Sekolah Alternatif Gratis di Banyumas

Arifah
0

Isrodin menghadirkan akses pendidikan bagi masyarakat di daerah terpencil melalui Madrasah Tsanawiyah (MTs) Pakis. Foto Kemenag.

Jakarta. EDUKASIA.ID - Di lereng Gunung Slamet, Banyumas, seorang guru membangun sekolah alternatif gratis demi menjaga anak-anak tetap mengenyam pendidikan. Dedikasi itu mengantarkan Isrodin menerima Liputan6 Award 2026.

Penghargaan tersebut diberikan atas upaya Isrodin menghadirkan akses pendidikan bagi masyarakat di daerah terpencil melalui Madrasah Tsanawiyah (MTs) Pakis.

Sekolah itu berada di Dusun Pesawahan, Desa Gununglurah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. MTs Pakis didirikan bersama relawan dan komunitas Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Argo Wilis.

Keberadaan sekolah tersebut ditujukan untuk membantu anak-anak dari keluarga kurang mampu agar tetap bisa melanjutkan pendidikan. Selain itu, MTs Pakis juga dibangun sebagai upaya mencegah pernikahan dini di wilayah sekitar.

Konsep pembelajaran di MTs Pakis pun berbeda dengan sekolah pada umumnya. Isrodin menerapkan sistem pendidikan berbasis agroforestri yang memadukan pembelajaran dengan lingkungan hidup dan kehidupan masyarakat setempat.

Salah satu keunikan sekolah tersebut ialah siswa diperbolehkan membayar biaya daftar ulang menggunakan hasil bumi.

Menurut Isrodin, persoalan pendidikan tidak bisa selesai hanya dengan konsep sekolah gratis. Dibutuhkan pendekatan yang sesuai dengan kondisi sosial masyarakat.

Karena itu, ia mengembangkan model pendidikan yang tidak hanya berfokus pada ruang kelas, tetapi juga melibatkan lingkungan sekitar dan pemberdayaan masyarakat.

“Pendidikan harus berdampak dan punya makna dalam kehidupan masyarakat. Semua pihak perlu terlibat karena pendidikan adalah tanggung jawab bersama,” ujar Isrodin di Studio Liputan6 Jakarta, Sabtu, 24 Mei 2026.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak menyerah memperjuangkan pendidikan bagi generasi mendatang.

“Mari menjadikan alam sebagai guru dan sekolah sebagai rumah bersama,” pungkasnya.

Perjuangan Isrodin turut mendapat apresiasi Menteri Agama Nasaruddin Umar. Menurutnya, masih ada anak-anak di sejumlah daerah yang harus berjuang keras hanya untuk memperoleh pendidikan.

“Masih ada anak-anak yang harus berjuang hanya untuk bisa bersekolah. Di tengah kondisi itu, hadir orang-orang yang memilih tetap bergerak dan percaya bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan,” ujar Menag.

Nasaruddin menilai Isrodin menjadi contoh bahwa perubahan besar bisa lahir dari keterbatasan.

“Ada ungkapan besar bahwa yang mampu menaklukkan dunia dan akhirat adalah ilmu. Pak Isrodin menunjukkan bagaimana pendidikan dapat menjadi jalan untuk mengubah kehidupan,” katanya.

Bagi Menag, pendidikan bukan sekadar soal belajar di ruang kelas, tetapi juga menghadirkan harapan, keberanian, dan kesempatan yang sama bagi seluruh anak bangsa.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top