Memahami Tazkiyatun Nafs Ala Ibnu ‘Arabi melalui Sosok KH Syaichun

Redaksi
0
KH Syaichun. Foto ist.


Refleksi Haul ke-15 KH Syaichun Tembalang Kota Semarang
Penulis: H Muhammad Nur Ihsan, Sekretaris LTN NU Jawa Tengah

EDUKASIA.ID - Pernahkah Anda duduk diam di tepian senja, merenungi bagaimana cara Tuhan menyembunyikan para kekasih-Nya di tengah hiruk-pikuk dunia yang semakin pragmatis ini?

Jika kita meminjam kacamata batin Syaikhul Akbar Ibnu ‘Arabi dalam maha karyanya Futuhat al-Makkiyyah, kita akan menyadari bahwa dunia ini sebenarnya adalah panggung teater ilahi yang maha luas, tempat di mana cahaya-cahaya rahasia dipendarkan melalui sosok-sosok manusia yang tampak biasa namun memendam samudra makrifat yang tak bertepi.

Salah satu dari sekian banyak cahaya yang pernah berjalan di atas bumi Semarang, yang jejak kakinya membekas dalam diam namun menggelegar di langit spiritual, adalah Almaghfurlah KH Syaichun, sang pendiri Pondok Pesantren Taqwa Lillah di Meteseh, Tembalang.

Membicarakan Kiai Syaichun bukanlah sekadar menarasikan tanggal lahir dan wafat, melainkan sebuah upaya menyelami apa yang disebut Ibnu ‘Arabi sebagai Bulghat al-Ghawwas fi al-Akwan, sebuah penyelaman mendalam ke dalam samudra kejadian untuk menemukan mutiara hikmah yang tersembunyi di balik cangkang kemanusiaan.

Sosok ini hadir bukan dengan sorban yang melilit tinggi menjulang demi pamer kesalehan, melainkan hadir sebagai Insan Kamil dalam skala lokal yang mampu menerjemahkan bahasa langit ke dalam dialek bumi yang santun, merakyat, dan penuh kasih.

Mari kita putar waktu ke belakang, menyusuri lorong sejarah ketika sosok ini pertama kali menghirup udara dunia. Kelahiran beliau bukanlah sebuah kebetulan, sebab dalam perspektif A’yan al-Tsabitah—entitas-entitas yang telah tetap dalam ilmu Tuhan—kehadiran KH Syaichun adalah bagian dari desain besar Ilahi untuk menerangi kawasan Meteseh yang kala itu mungkin masih berupa tanah antah-berantah, baik secara geografis maupun spiritual.

Sejak kecil, tanda-tanda ketadhaan atau ketundukan total kepada Sang Pencipta sudah terlihat. Masa kecil dan remaja beliau dihabiskan dalam kawah candradimuka pesantren, sebuah fase yang oleh Ibnu ‘Arabi disebut sebagai safar atau perjalanan spiritual.

Menuntut ilmu bagi Kiai Syaichun muda bukanlah sekadar menumpuk hafalan kitab kuning atau mengoleksi ijazah demi kebanggaan akademik. Tidak, Saudara-saudara. Bagi beliau, mengaji adalah proses takhalli (mengosongkan diri dari sifat tercela) dan tahalli (mengisi diri dengan sifat terpuji) untuk mencapai tajalli (penampakan cahaya Tuhan).

Beliau berkelana dari satu pesantren ke pesantren lain, menimba air kehidupan dari para masyayikh yang sanad keilmuannya bersambung hingga ke Rasulullah SAW. Di sinilah letak pondasi kokoh itu dibangun. Sanad bukan sekadar rantai nama, melainkan pipa penyalur barakah yang tidak boleh putus. Tanpa sanad, agama ini akan menjadi liar seliar tafsir orang-orang yang belajar dari mesin pencari di internet.

Keunikan Kiai Syaichun mulai tampak ketika beliau terjun ke masyarakat. Jika kebanyakan dai memilih panggung-panggung megah dengan pengeras suara yang memekakkan telinga, Kiai Syaichun memilih jalan sunyi yang ramai. Lho, kok sunyi tapi ramai? Ya, sunyi dari publikasi riya’, tapi ramai dengan silaturrahmi.

Beliau menerapkan apa yang dalam Futuhat disebut sebagai napas Ar-Rahman, kasih sayang yang melingkupi segala sesuatu. Dakwah beliau itu unik, nyentrik, dan kadang di luar nalar manusia modern yang terlalu mengagungkan logika instrumental.

Beliau tidak segan duduk bersama orang-orang yang dianggap sampah masyarakat, preman, hingga pejabat tinggi, dengan tatapan mata yang sama: tatapan kasih sayang.

Dalam pandangan tasawuf falsafi Ibnu ‘Arabi, Kiai Syaichun tampaknya menyadari betul konsep Wihdatul Wujud dalam level sosiologis, bahwa semua makhluk adalah tajalli atau manifestasi dari Nama-Nama Tuhan. Menghina pendosa sama saja dengan tidak menghargai Sang Pencipta yang sedang “bermain” dalam skenario-Nya. Maka, pendekatan beliau sangat humanis. Beliau menyentuh hati sebelum menyentuh akal.

Coba kita tengok bagaimana beliau mendirikan Pondok Pesantren Taqwa Lillah. Nama “Taqwa Lillah” saja sudah menyiratkan sebuah maqam atau tingkatan spiritual yang tinggi. Bukan “Nurul Ilmi” atau “Bahrul Ulum”, tapi Taqwa. Ini sejalan dengan inti ajaran Ibnu ‘Arabi bahwa ilmu yang sejati adalah buah dari ketakwaan. “Bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah akan mengajarimu,” begitu janji Tuhan dalam Al-Qur’an.

Pembangunan pesantren ini adalah bukti nyata dari tawakkal tingkat dewa. Tanpa proposal yang diedarkan dengan mental pengemis, tanpa lobi-lobi politik yang transaksional, pesantren itu berdiri tegak di Meteseh.

Bagaimana bisa? Di sinilah letak rahasia himmah (tekad spiritual) yang mampu menggerakkan semesta. Kiai Syaichun memiliki keyakinan bahwa jika ini urusan Allah, maka Allah yang akan membiayainya. Dan terbukti, batu bata, semen, dan pasir seolah berdatangan sendiri, digerakkan oleh tangan-tangan tak terlihat yang sebenarnya adalah tangan Tuhan melalui para dermawan yang hatinya digerakkan. Ini adalah manifestasi dari kun fayakun dalam ranah ikhtiar manusia.

Ada satu sisi yang sangat menonjol dari Kiai Syaichun yang baru-baru ini ditegaskan kembali dalam Haul ke-15 beliau, sebuah fakta yang dikupas apik oleh Ubaidullah Shodaqoh, Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah. Kiai Ubaid, sapaan akrabnya, menyoroti kekuatan silaturrahmi Kiai Syaichun yang luar biasa.

Dalam lanskap pemikiran Ibnu ‘Arabi, silaturrahmi bukan sekadar berkunjung dan minum teh. Itu adalah shilah, sebuah koneksi atau sambungan. Barang siapa yang menyambung silaturrahmi, dia sedang menyambung dirinya dengan Al-Haqq (Kebenaran Mutlak). Kiai Syaichun adalah maestro dalam hal ini.

Beliau memiliki jejaring yang sangat luas, melintasi batas ormas, batas partai, batas status sosial, bahkan batas keyakinan. Kiai Ubaidullah dalam haul tersebut menekankan bahwa Kiai Syaichun adalah teladan dalam menjaga sanad keilmuan dan merawat hubungan kemanusiaan. Beliau tidak pernah lelah mengetuk pintu rumah orang lain, bukan untuk meminta sumbangan, tapi untuk mengantarkan kebahagiaan dan doa. Ada kalanya beliau datang hanya untuk diam, tersenyum, lalu pulang. Bagi orang awam, ini aneh. Tapi bagi mereka yang peka rasa, kedatangan beliau adalah transfer energi positif, sebuah nazar (pandangan) dari seorang kekasih Allah yang mampu merontokkan karat-karat di hati tuan rumah.

Kiai Syaichun juga dikenal memiliki haliyah atau tingkah laku yang sering kali khariqul ‘adah (menyalahi kebiasaan). Ada cerita-cerita yang beredar di kalangan santri dan masyarakat sekitar—yang mungkin selama ini dianggap sekadar mitos namun sebenarnya mengandung kebenaran substansial—tentang bagaimana beliau menyelesaikan masalah-masalah pelik hanya dengan segelas air atau sepatah kata yang terdengar remeh.

Ibnu ‘Arabi dalam kitab-kitabnya sering membahas tentang para Wali Abdal atau Wali Autad yang memiliki tugas menjaga keseimbangan kosmos. Mungkin kita tidak berani mengklaim beliau sebagai Wali Autad secara serampangan, namun fungsi keberadaan beliau di Meteseh jelas sebagai paku bumi.
Ketika masyarakat sedang panas oleh konflik, kehadiran Kiai Syaichun menjadi air pendingin. Ketika ekonomi sulit, nasihat beliau menjadi pembuka pintu rezeki. Keunikan lain adalah cara beliau mendidik santri. Tidak melulu di dalam kelas dengan papan tulis. Sawah, kebun, dan lokasi pembangunan pondok adalah kelas beliau.

Ini mengingatkan kita pada metode pendidikan para sufi terdahulu yang menekankan khidmah (pengabdian) sebagai jalan tercepat membuka futuh (pemahaman). Santri diajarkan untuk membaca “kitab alam” sebelum membaca kitab kertas, persis seperti anjuran Ibnu ‘Arabi untuk melihat alam semesta ini sebagai naskah Tuhan yang terbuka.
Perspektif Kiai Ubaidullah Shodaqoh tentang pentingnya sanad yang dipegang teguh oleh Kiai Syaichun juga menarik untuk kita bedah lebih dalam. Di era disrupsi informasi ini, banyak orang belajar agama secara instan.

Kiai Syaichun melawan arus itu. Beliau kukuh memegang prinsip bahwa ilmu harus diambil dari dada para ulama, bukan sekadar dari lembaran buku. Sanad keilmuan beliau yang bersambung ke guru-gurunya di berbagai pesantren tanah Jawa menunjukkan bahwa beliau adalah mata rantai pewaris nabi.

Kiai Ubaid menyebutkan dalam haul tersebut bahwa kita harus meneladani bagaimana Kiai Syaichun memuliakan guru dan sesama. Ini adalah kunci. Dalam Futuhat, adab kepada guru adalah gerbang utama. Tanpa adab, ilmu hanya akan menjadi informasi, bukan cahaya.

Kiai Syaichun mengajarkan bahwa menghormati guru bukan hanya saat guru itu hidup, tapi juga saat sudah wafat, dan bahkan menghormati keturunan serta murid-murid sang guru. Sikap ta’dhim inilah yang membuat hidup Kiai Syaichun penuh berkah.

Sisi lain yang jarang diketahui publik adalah pergulatan batin atau mujahadah beliau di malam hari. Publik melihat Kiai Syaichun yang ramah dan murah senyum di siang hari, tapi sedikit yang tahu bagaimana beliau “berdarah-darah” dalam munajat di sepertiga malam terakhir.

Ibnu ‘Arabi mengatakan bahwa malam adalah waktu khusus bagi para pecinta untuk bercengkrama dengan Kekasih-Nya. Tangisan beliau di malam hari adalah bahan bakar bagi senyuman beliau di siang hari. Beliau menanggung beban umat dalam doa-doanya.

Ketika ada santri yang nakal, beliau tidak memarahinya dengan emosi meledak-ledak, melainkan mendoakannya di malam hari hingga sajadahnya basah. Ini adalah level dakwah bil hal yang tertinggi, yaitu dakwah dengan hati. Beliau menyadari bahwa hati manusia ada dalam genggaman Tuhan, maka beliau mengetuk pintu Pemilik Hati, bukan memaksa membuka hati itu dengan kekerasan.

Relasi beliau yang sangat luas juga mencerminkan konsep Al-Insan Al-Kabir (Manusia Besar) dalam mikrokosmos sosial. Beliau bisa berdiskusi dengan intelektual kampus di sekitar Tembalang dengan bahasa yang nyambung, namun di saat yang sama bisa guyon parikena dengan tukang becak di pasar.

Fleksibilitas ini adalah ciri dari orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Beliau tidak butuh pengakuan, makanya beliau bisa masuk ke segala lapisan. Ego beliau sudah lebur, fana’, dalam tugas melayani umat. Bagi Kiai Syaichun, setiap orang yang ditemui adalah guru, setiap kejadian adalah pelajaran. Sikap rendah hati atau tawadhu’ ini bukan pencitraan, tapi pancaran dari kesadaran bahwa “Aku tidak memiliki apa-apa, semua adalah milik Allah.”

Lalu tibalah masa ketika tugas beliau di dunia purna. Wafatnya seorang ulama adalah matinya alam semesta, begitu kata pepatah. Namun dalam kacamata Ibnu ‘Arabi, kematian hanyalah perpindahan dimensi dari alam mulk (fisik) ke alam barzakh atau malakut. Ketika Kiai Syaichun wafat, yang hilang hanya jasad fisiknya, namun ruhani dan himmah-nya tetap hidup membersamai para santri dan pecintanya.

Haul ke-15 yang dihadiri ribuan orang, termasuk tokoh sentral seperti KH Ubaidullah Shodaqoh, adalah bukti empiris bahwa cinta tidak mengenal kematian. Orang-orang berbondong-bondong datang bukan karena dibayar, bukan karena dimobilisasi partai politik, tapi karena magnet cinta yang ditanam oleh Kiai Syaichun semasa hidupnya. Mereka datang untuk menyambung kembali “kabel” spiritual yang mungkin sempat kendor.

Spirit Futuhat mengajarkan kita bahwa para wali Allah tidak pernah mati, mereka hanya pindah rumah dan terus memberikan syafaat serta doa bagi mereka yang masih berjuang di dunia.

Pesan substansial dari kehidupan Kiai Syaichun, jika kita sarikan dengan esensi Bulghat al-Ghawwas, adalah tentang menyelami makna “menjadi manusia”. Beliau mengajarkan kita bahwa menjadi saleh tidak harus menjadi kaku dan anti-sosial. Justru, puncak kesalehan adalah kemanfaatan bagi sesama. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin dia merunduk dan melayani.

Pesantren Taqwa Lillah yang beliau tinggalkan adalah monumen hidup, bukan sekadar bangunan mati. Di sana, napas dzikir masih terdengar, lantunan ayat suci masih menggema, dan yang paling penting, semangat silaturrahmi yang beliau wariskan terus dijaga.

Kiai Syaichun telah membuktikan tesis Ibnu ‘Arabi bahwa alam semesta ini bergerak karena cinta (harakah al-hubb). Beliau bergerak mendatangi umat karena cinta, membangun pesantren karena cinta, dan mendidik santri karena cinta. Tanpa cinta, dakwah beliau akan kering dan layu sebelum berkembang.

Akhirnya, kita yang masih hidup ini, yang membaca kisah beliau dengan mata berkaca-kaca, punya tugas berat. Bukan sekadar mengagumi karamah beliau atau memajang foto beliau di dinding ruang tamu.

Tugas kita adalah meneladani esensi perjuangannya. Bisakah kita tersenyum tulus kepada orang yang membenci kita seperti Kiai Syaichun? Bisakah kita yakin total kepada Allah saat dompet kosong melompong namun harus membangun peradaban? Bisakah kita menjaga silaturrahmi tanpa tendensi kepentingan duniawi?

Kiai Ubaidullah Shodaqoh dalam peringatan haul tersebut seolah menampar kesadaran kita bahwa sanad dan silaturrahmi adalah dua pusaka yang tidak boleh hilang dari jam’iyah Nahdlatul Ulama dan umat Islam pada umumnya. Kiai Syaichun adalah personifikasi dari kedua pusaka itu. Beliau adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu yang agung dengan masa depan yang penuh tantangan.

Maka, Saudara-saudaraku, mari kita kirimkan Al-Fatihah untuk beliau. Semoga di alam sana beliau tersenyum melihat kita yang sedang tertatih-tatih menapaki jejak langkahnya.

Dan semoga, percikan cahaya dari kitab Futuhat al-Makkiyyah dan Bulghat al-Ghawwas yang kita pinjam untuk membedah biografi ini mampu membuka mata batin kita. Bahwa di Meteseh, pernah ada—dan sejatinya masih ada—seorang kekasih Allah yang mengajarkan kita bahwa jalan menuju Tuhan bisa ditempuh dengan cara yang sederhana: memanusiakan manusia dan memperbanyak silaturrahmi.

KH Syaichun telah pulang, namun sejatinya beliau telah sampai di rumah yang sesungguhnya, meninggalkan kita yang masih terjebak dalam antrean panjang peziarah kehidupan. Selamat jalan, Kiai. Doa kami menyertai, dan himmah-mu akan selalu menjadi lentera di tengah kegelapan zaman yang semakin pekat ini.

Kiai Syaichun bukan sekadar nama; ia adalah sebuah metode, sebuah jalan, dan sebuah cermin bening bagi siapa saja yang ingin melihat wajah Islam yang ramah, sejuk, dan mendamaikan di bumi Nusantara.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top