UGM Kritik Penutupan Prodi, Kampus Jangan Sekadar Ikuti Kebutuhan Industri

Arifah
0
Ilustrasi. Foto Freepik.

EDUKASIA.ID - Polemik penutupan sejumlah program studi (prodi) yang dinilai tidak relevan dengan kebutuhan ekonomi masa depan menuai sorotan.

Kebijakan tersebut memicu perdebatan karena dianggap dapat mengubah arah pendidikan tinggi menjadi terlalu berorientasi pada kebutuhan pasar kerja.

Ekonom Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Wisnu Setiadi Nugroho, menilai kebijakan tersebut menyimpan sejumlah persoalan mendasar. Menurutnya, penutupan prodi yang sepi peminat maupun dianggap tidak relevan sering kali dibungkus dengan jargon link and match.

"Menutup program studi karena dianggap tidak dibutuhkan industri terdengar rasional sampai kita bertanya lebih jauh, sejak kapan pasar kerja menjadi penentu tunggal arah pendidikan tinggi?" ujar Wisnu dalam keterangan tertulis, Rabu, 3 Juni 2026.

Wisnu mengatakan salah satu asumsi yang perlu dikritisi adalah anggapan bahwa kebutuhan industri dapat diprediksi dan diikuti secara stabil oleh perguruan tinggi. Padahal, perubahan teknologi berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan siklus pendidikan.

Ia mengutip laporan World Economic Forum (WEF) yang memperkirakan sekitar 44 persen keterampilan kerja akan berubah dalam lima tahun ke depan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kompetensi yang saat ini dianggap relevan bisa saja segera kehilangan relevansinya.

"Artinya, apa yang hari ini dianggap relevan bisa dengan sangat cepat menjadi usang. Dalam kondisi seperti ini, memaksa kampus mengejar kebutuhan industri justru seperti berlari mengejar bayangan," tuturnya.

Menurut Wisnu, kebijakan yang terlalu menitikberatkan pada kesiapan kerja instan justru berpotensi menjadi jebakan jangka pendek. Pasalnya, banyak keterampilan teknis yang saat ini diminati berisiko tergantikan oleh perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan.

Ia mencontohkan sejumlah pekerjaan seperti koding dasar hingga tugas administratif yang semakin rentan terdampak otomatisasi. Laporan McKinsey & Company bahkan memperkirakan hingga 30 persen aktivitas kerja global berpotensi diotomatisasi pada 2030.

Karena itu, ia menilai kampus tidak semestinya hanya mengejar keterampilan teknis yang sedang menjadi tren. Jika hal itu dilakukan, lulusan berpotensi kehilangan relevansi dalam waktu singkat.

Sebaliknya, Wisnu menilai keterampilan yang mampu bertahan dalam jangka panjang justru berasal dari kemampuan dasar yang bersifat universal. Mulai dari berpikir kritis, kemampuan analitis, komunikasi hingga pemahaman sosial.

Data National Association of Colleges and Employers (NACE), lanjutnya, menunjukkan bahwa kemampuan problem solving, komunikasi, dan kerja sama tim secara konsisten menjadi kompetensi yang paling dibutuhkan dunia kerja.

"Justru keterampilan fundamental inilah yang diasah secara sistematis dalam ilmu dasar, humaniora, dan ilmu sosial, bidang-bidang yang kerap diposisikan sebagai prodi tidak laku," tegas Sekretaris Departemen Ilmu Ekonomi FEB UGM tersebut.

Wisnu juga menyoroti pandangan yang menganggap hanya bidang STEM atau Sains, Teknologi, Engineering, dan Matematika yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Menurutnya, anggapan tersebut tidak sepenuhnya didukung oleh fakta.

Ia menyebut berbagai studi menunjukkan latar belakang pendidikan para pemimpin perusahaan besar sangat beragam dan tidak selalu berasal dari rumpun STEM.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top