Lepas 1.278 Mahasantri, Ma'had UIN Walisongo Tegaskan Tak Ada Mantan Santri

Redaksi
0
Haflah Akhir al-Duf'ah Gelombang 3 menandai berakhirnya pembinaan Ma'had Al-Jami'ah bagi 1.278 mahasiswa baru UIN Walisongo Semarang, Jumat 3 Juli 2026. Foto ist.

Semarang. EDUKASIA.ID - UIN Walisongo Semarang bagi mahasiswa baru angkatan ketiga tahun 2026 resmi berakhir. Sebanyak 1.278 mahasantri dilepas melalui Haflah Ākhir al-Duf‘ah Gelombang 3 di Auditorium 2 Kampus 3 UIN Walisongo, Jumat 3 Juli 2026.

Haflah menjadi penutup pembinaan yang berlangsung selama empat bulan. Sebanyak 1.265 mahasantri putri dan 13 mahasantri putra mengikuti program tersebut dengan pendampingan 61 musyrif dan musyrifah.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama UIN Walisongo Semarang, Dr. Umul Baroroh, mengatakan Ma'had Al-Jami'ah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pendidikan di UIN Walisongo.

Karena itu, seluruh mahasiswa diwajibkan mengikuti pembinaan sebagai bekal sejak awal memasuki perkuliahan.

"Melalui Ma'had, UIN Walisongo ingin memastikan lulusannya memiliki fondasi keislaman yang kuat sekaligus loyalitas pada bangsa dan kampus," ujar Umul Baroroh.

Ia menjelaskan, pembinaan di Ma'had difokuskan untuk membentuk tiga karakter utama, yakni karakter santri, karakter cinta tanah air, dan karakter cinta almamater.

Dengan bekal tersebut, sambung Ummul, lulusan diharapkan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas moral, spiritualitas yang kuat, kepedulian sosial, serta komitmen mengabdi kepada masyarakat.

Sementara itu, Pengasuh Ma'had Al-Jami'ah UIN Walisongo, Dr. KH. Ahmad Maghfurin, mengajak para mahasantri memaknai empat bulan di Ma'had sebagai proses membangun fondasi kehidupan.

Menurutnya, masa tersebut perlu dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas ibadah, memperdalam kemampuan membaca dan memahami Al-Qur'an, membangun kedisiplinan, serta membiasakan akhlak mulia.

Mengutip kitab Ta'līm al-Muta'allim, ia menegaskan bahwa keberkahan ilmu ditentukan oleh lurusnya niat, penghormatan kepada guru, kecintaan terhadap ilmu, serta kesabaran dalam menjalani proses belajar. Ilmu, katanya, tidak cukup hanya dikuasai secara intelektual, tetapi juga harus tercermin dalam adab dan perilaku.

Ahmad Maghfurin mengingatkan, berakhirnya masa pembinaan bukan berarti berakhir pula identitas sebagai santri. Nilai-nilai yang dipelajari di Ma'had, katanya, harus terus dibawa dalam kehidupan, baik selama kuliah maupun setelah lulus.

"Santri adalah selamanya santri, tidak ada mantan santri," tegasnya.

Melalui pembinaan di Ma'had Al-Jami'ah, UIN Walisongo menegaskan komitmennya mengintegrasikan pendidikan akademik dengan pembinaan karakter keislaman.

Nilai-nilai yang ditanamkan selama program diharapkan menjadi bekal mahasiswa dalam kehidupan kampus, bermasyarakat, hingga saat mengabdi setelah lulus.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top