KH Ahmad Masduqi Abdurrahman Al-Hafidz mengingatkan pentingnya menjaga diri dari utang, memperbanyak zakat, sedekah, dan amal jariah dalam pengajian rutin Tafsir Al-Ibriz di Pondok Pesantren Perak, Jombang, Jumat 10 Juli 2026. Foto Youtube Pondok Perak.
Jombang, EDUKASIA.ID – Suasana khusyuk menyelimuti Pondok Pesantren Putra Putri Roudhotu Tahfidzil Qur'an Perak, Kabupaten Jombang, pada Jumat 10 Juli 2026 pagi.
Sejak sebelum pukul 07.00 WIB, ratusan jemaah telah memadati lokasi untuk mengikuti pengajian rutin Tafsir Al-Ibriz yang diasuh KH Ahmad Masduqi Abdurrahman Al-Hafidz.
Dengan berbekal kitab Tafsir Al-Ibriz karya KH Bisri Mustofa, Kiai Masduqi mengupas makna ayat-ayat Al-Qur'an menggunakan bahasa Jawa yang mudah dipahami, disertai penjelasan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Pengajian Tafsir Al-Ibriz setiap Jumat pagi ini telah berlangsung secara istiqamah sejak dirintis Kiai Masduqi pada 1967. Selama hampir enam dekade, kegiatan tersebut terus menjadi majelis ilmu yang diikuti masyarakat Jombang dan daerah sekitarnya.
Mengurai Kehidupan Lewat Ayat: Bahaya Kerusakan Moral hingga Tanggung Jawab Utang
Dalam pengajian kali ini, Kiai Masduqi mengangkat berbagai persoalan kehidupan, mulai dari pentingnya menjaga diri dari kerusakan moral (fasad), tanggung jawab terhadap utang, hingga keutamaan zakat, sedekah, dan amal jariah.
Menurutnya, seseorang yang diberi kemauan untuk menghadiri majelis ilmu sejatinya telah memperoleh pertolongan dari Allah SWT.
"Mula kok panjenengan gelem ngaji niki berarti oleh pitulunge Gusti Allah (Maka dari itu, jika Anda sekalian mau mengaji, ini berarti mendapatkan pertolongan dari Allah)," kata Kiai Masduqi.
Beliau kemudian mengingatkan agar setiap muslim tidak menganggap remeh persoalan utang. Sebab, utang yang belum diselesaikan akan tetap menjadi tanggung jawab seseorang.
"Aja sampek utang ora nyaur sampeyan... dadi amale wong mati niki anggere sing duwe utang gak isa pethuk Gusti Allah. Mula njaluk nang Gusti Allah, nek mati aja sampek duwe utang (Jangan sampai kalian berutang dan tidak membayarnya. Selama masih memiliki utang, seseorang tidak dapat bertemu dengan Allah. Karena itu, mintalah kepada Allah agar ketika meninggal tidak masih memiliki utang)," tegas Kiai Masduqi.
Selain mengingatkan soal utang, Kiai Masduqi juga mengajak jemaah membersihkan harta melalui zakat dan sedekah. Menurutnya, berbagi tidak akan mengurangi rezeki, justru menjadi jalan bertambahnya nikmat Allah.
"Sampeyan rasakna, sampeyan saiki zakat, taun ngarep mesti ditambahi... tambah akeh, tambah akeh (Cobalah rasakan, jika sekarang Anda berzakat, tahun depan rezeki pasti akan ditambah... semakin banyak, semakin banyak)," ujar Kiai Masduqi.
Beliau juga berpesan agar setiap orang menyiapkan bekal untuk kehidupan akhirat melalui amal jariah yang manfaatnya terus mengalir.
"Sampeyan sing setunggal mati gak dadi jariah, gak diwaris ning kuburan, tambah ruwet sampeyan... nek duwe jariah sampeyan seneng ya kuburan (Jika kelak meninggal tanpa memiliki amal jariah, urusan akan semakin berat. Namun apabila memiliki amal jariah, hal itu akan menjadi kebahagiaan di alam kubur)," pesan Kiai Masduqi.
Pengajian yang Terus Menjangkau Masyarakat
Di usianya yang kini menginjak 85 tahun, semangat Kiai Masduqi dalam mengajarkan Al-Qur'an tetap terjaga. Di sela-sela pengajian, beliau bahkan sempat melontarkan gurauan mengenai usianya.
"Kula niki pun wolung puluh lima (85), dadi salah luwihan pinten? Kalih dasa gangsal (25) (Saya ini sudah berusia delapan puluh lima tahun. Jadi, kelebihan berapa tahun? Dua puluh lima tahun)," gurau Kiai Masduqi.
Bagi masyarakat, pengajian Tafsir Al-Ibriz setiap Jumat pagi telah menjadi salah satu majelis ilmu yang rutin diikuti. Tidak hanya dihadiri jemaah yang datang langsung ke Pondok Pesantren Perak, pengajian ini juga dapat diikuti oleh masyarakat dari berbagai daerah melalui siaran langsung di kanal YouTube Pondok Perak.
Pemanfaatan teknologi membuat tradisi ngaji Tafsir Al-Ibriz yang telah berlangsung sejak 1967 tetap menjangkau masyarakat luas tanpa mengurangi kekhusyukan suasana majelis.
Pengajian kemudian ditutup dengan doa bersama dan salat berjamaah. Tradisi yang telah berlangsung hampir enam dekade itu terus menjadi ruang pembelajaran Al-Qur'an sekaligus pembinaan spiritual bagi masyarakat Jombang dan sekitarnya.





Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.