Semarang, EDUKASIA.ID - Sebanyak 40 peserta dari 37 provinsi ambil bagian dalam cabang Tilawah Disabilitas Netra pada MTQ Nasional XXXI di Kota Semarang.
Babak penyisihan mulai berlangsung Minggu,13 September 2026.
Lomba tersebut digelar di Studio Catwalk BBPVP Kementerian Tenaga Kerja Semarang. Para peserta tampil di hadapan sembilan dewan hakim dengan materi yang baru diberikan satu jam sebelum giliran tampil.
Salah satu peserta yang tampil adalah Ahmad Zainuddin, qari tunanetra asal Kota Semarang. Alih-alih memasang target tinggi, Zainuddin datang dengan tujuan berbeda.
Dia ingin menggunakan kesempatan di MTQ Nasional untuk memperdalam seni tilawah Al-Qur'an. Soal juara, dia memilih menyerahkannya kepada Allah.
“Bukan niat cari juara, saya niatnya untuk mempelajari tilawah Al-Qur’an itu lebih dalam,” ujar Zainuddin, warga Tlogomulyo, Pedurungan, Kota Semarang.
Zainuddin baru saja menyelesaikan penampilannya ketika ditemui di Majelis 3. Dia membacakan Surat Ali Imran ayat 189 dalam penampilannya.
Bagi Zainuddin, mengikuti MTQ bukan sekadar tentang kompetisi. Al-Qur'an sudah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya sejak remaja.
Dia mulai serius mendalami Al-Qur'an ketika berusia 16 tahun. Saat itu, Zainuddin belajar di Pondok Pesantren Al Khairat, Jepara.
Perjalanan menghafal Al-Qur'an ternyata tidak selalu mudah. Zainuddin pernah merasa frustrasi hingga suatu pertemuan dengan seorang lelaki tua justru menjadi titik yang mengubah cara pandangnya.
“Waktu itu saya bertemu dengan orang tua. Kata teman saya, dia hanya bercelana dan telanjang dada. Di situ saya dikatai, ‘Hei goblok, kamu dikasih telinga, pikiran dan mulut juga hati.’ Habis itu dia pergi,” kenangnya.
Perkataan itu membuat Zainuddin berpikir ulang. Dia menyadari tubuh yang diberikan Allah memiliki fungsi yang bisa dimanfaatkan untuk belajar Al-Qur'an.
“Lalu saya merenung. Ternyata telinga untuk mendengar, pikiran untuk mengingat dan hati untuk menyimpan,” tuturnya.
Sejak kejadian tersebut, Zainuddin semakin tekun menghafal dan memperbaiki bacaan Al-Qur'an. Dia kemudian mulai mengikuti berbagai perlombaan MTQ dari tingkat kecamatan hingga provinsi.
Hasilnya, sejumlah prestasi berhasil diraih. Pencapaian tertingginya yakni juara dua MTQ tingkat Provinsi Jawa Tengah di Pati dan Tegal.
Untuk menghadapi MTQ Nasional kali ini, Zainuddin mengaku melakukan persiapan selama setahun. Meski begitu, dia tidak ingin seluruh kebahagiaannya bergantung pada hasil perlombaan.
Bisa berkumpul dengan para pecinta Al-Qur'an dari berbagai daerah sudah menjadi pengalaman berharga baginya.
“Alhamdulillah, ini pengalaman yang saya rasakan memang sangat nikmat banget, berkumpul dengan ahlul Qur’an. Teman-teman yang sefrekuensi,” paparnya.
Peserta lainnya, Siti Nurjanah, qariah tunanetra asal Kalimantan Timur, punya target berbeda. Dia berharap bisa membawa pulang gelar juara setelah pada ajang tahun sebelumnya hanya meraih juara harapan satu.
Persiapan pun dilakukan secara intensif. Selama sembilan bulan, Siti berlatih bersama pelatih sebanyak dua kali setiap hari.
“Saya dengan pelatih berlatih dua kali dalam satu hari, selama sembilan bulan itu. Harapannya ya bisa mendapat juara satu, karena di ajang tahun lalu mendapat juara harapan satu,” ungkapnya.
Person in Charge (PIC) Majelis 3 Tartil dan Tilawah Disabilitas Netra, Mohammad Asyiq, mengatakan penyisihan berlangsung hingga Kamis. Babak final dijadwalkan digelar Jumat.
“Hari ini penyisihan dan final pada Jumat. Untuk materi itu satu jam sebelum tampil baru peserta mendapatkan, demikian pula urutan tampil. Mereka kemudian harus membaca, baik itu hafalan atau dengan Al-Qur’an Braille, di depan sembilan dewan hakim,” tutup Asyiq.
Lomba tersebut digelar di Studio Catwalk BBPVP Kementerian Tenaga Kerja Semarang. Para peserta tampil di hadapan sembilan dewan hakim dengan materi yang baru diberikan satu jam sebelum giliran tampil.
Salah satu peserta yang tampil adalah Ahmad Zainuddin, qari tunanetra asal Kota Semarang. Alih-alih memasang target tinggi, Zainuddin datang dengan tujuan berbeda.
Dia ingin menggunakan kesempatan di MTQ Nasional untuk memperdalam seni tilawah Al-Qur'an. Soal juara, dia memilih menyerahkannya kepada Allah.
“Bukan niat cari juara, saya niatnya untuk mempelajari tilawah Al-Qur’an itu lebih dalam,” ujar Zainuddin, warga Tlogomulyo, Pedurungan, Kota Semarang.
Zainuddin baru saja menyelesaikan penampilannya ketika ditemui di Majelis 3. Dia membacakan Surat Ali Imran ayat 189 dalam penampilannya.
Bagi Zainuddin, mengikuti MTQ bukan sekadar tentang kompetisi. Al-Qur'an sudah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya sejak remaja.
Dia mulai serius mendalami Al-Qur'an ketika berusia 16 tahun. Saat itu, Zainuddin belajar di Pondok Pesantren Al Khairat, Jepara.
Perjalanan menghafal Al-Qur'an ternyata tidak selalu mudah. Zainuddin pernah merasa frustrasi hingga suatu pertemuan dengan seorang lelaki tua justru menjadi titik yang mengubah cara pandangnya.
“Waktu itu saya bertemu dengan orang tua. Kata teman saya, dia hanya bercelana dan telanjang dada. Di situ saya dikatai, ‘Hei goblok, kamu dikasih telinga, pikiran dan mulut juga hati.’ Habis itu dia pergi,” kenangnya.
Perkataan itu membuat Zainuddin berpikir ulang. Dia menyadari tubuh yang diberikan Allah memiliki fungsi yang bisa dimanfaatkan untuk belajar Al-Qur'an.
“Lalu saya merenung. Ternyata telinga untuk mendengar, pikiran untuk mengingat dan hati untuk menyimpan,” tuturnya.
Sejak kejadian tersebut, Zainuddin semakin tekun menghafal dan memperbaiki bacaan Al-Qur'an. Dia kemudian mulai mengikuti berbagai perlombaan MTQ dari tingkat kecamatan hingga provinsi.
Hasilnya, sejumlah prestasi berhasil diraih. Pencapaian tertingginya yakni juara dua MTQ tingkat Provinsi Jawa Tengah di Pati dan Tegal.
Untuk menghadapi MTQ Nasional kali ini, Zainuddin mengaku melakukan persiapan selama setahun. Meski begitu, dia tidak ingin seluruh kebahagiaannya bergantung pada hasil perlombaan.
Bisa berkumpul dengan para pecinta Al-Qur'an dari berbagai daerah sudah menjadi pengalaman berharga baginya.
“Alhamdulillah, ini pengalaman yang saya rasakan memang sangat nikmat banget, berkumpul dengan ahlul Qur’an. Teman-teman yang sefrekuensi,” paparnya.
Peserta lainnya, Siti Nurjanah, qariah tunanetra asal Kalimantan Timur, punya target berbeda. Dia berharap bisa membawa pulang gelar juara setelah pada ajang tahun sebelumnya hanya meraih juara harapan satu.
Persiapan pun dilakukan secara intensif. Selama sembilan bulan, Siti berlatih bersama pelatih sebanyak dua kali setiap hari.
“Saya dengan pelatih berlatih dua kali dalam satu hari, selama sembilan bulan itu. Harapannya ya bisa mendapat juara satu, karena di ajang tahun lalu mendapat juara harapan satu,” ungkapnya.
Person in Charge (PIC) Majelis 3 Tartil dan Tilawah Disabilitas Netra, Mohammad Asyiq, mengatakan penyisihan berlangsung hingga Kamis. Babak final dijadwalkan digelar Jumat.
“Hari ini penyisihan dan final pada Jumat. Untuk materi itu satu jam sebelum tampil baru peserta mendapatkan, demikian pula urutan tampil. Mereka kemudian harus membaca, baik itu hafalan atau dengan Al-Qur’an Braille, di depan sembilan dewan hakim,” tutup Asyiq.



Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.