Dikira Pedagang Belimbing, Begini Pengalaman Dekan FST UIN Walisongo di Pasar Tiban Surabaya

Redaksi
0
Kejadian unik Dekan Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. H. Fatah Syukur, M.Ag., dikira menjual Belimbing. Foto ist.

Surabaya. EDUKASIA.ID - Ada pengalaman menarik yang dialami Dekan Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. H. Fatah Syukur, M.Ag., saat menunggu istrinya berbelanja di pasar tiban di samping Masjid Al Akbar Surabaya, Minggu 4 Oktober 2026.

Beberapa kantong kresek berisi buah belimbing yang dibawanya diletakkan di bawah. Tak lama kemudian, seorang ibu menghampirinya dan bertanya harga belimbing tersebut.

“Ini pengalaman nyata. Waktu nunggu istri belanja di pasar tiban samping Masjid Al Akbar Surabaya, belanjaan berupa beberapa kantong kresek buah belimbing saya letakkan di bawah. Eh, ada ibu-ibu samperin menanyakan berapa harganya,” cerita Prof Fatah terkekeh.

Ia menduga, ibu tersebut mengira dirinya sebagai pedagang belimbing.

“Mungkin tampangnya sangat meyakinkan,” ujarnya.

Pengalaman sederhana itu terjadi setelah Prof Fatah berkeliling melihat aktivitas pasar. Sebelum kejadian tersebut, ia mengaku sudah memperhatikan dinamika perdagangan yang berlangsung di pasar tiban tersebut.

“Aku tadi sebelum ada peristiwa itu sudah mikir-mikir sambil muter-muter di pasar, betapa hidupnya dinamika ekonomi kelas bawah di sini,” tukasnya.

Dari Pasar, Melihat Pelajaran Kehidupan


Di sela berkeliling, Prof Fatah sempat mampir makan rawon. Warung tersebut terlihat ramai. Perhatiannya kemudian tertuju pada bagaimana pedagang menjalankan usaha sejak pagi.

Ia melihat aktivitas ekonomi yang berlangsung di pasar tersebut sebagai gambaran nyata kehidupan masyarakat. Para pedagang membuka lapak, melayani pembeli, dan berusaha menghabiskan dagangan dalam waktu beberapa jam.

“Dengan modal sekitar 2,5 juta buka dari jam 6 sampai jam 9 habis. Untungnya sekitar 8-9 ratus ribu,” tuturnya.

Keuntungan tersebut masih dikurangi biaya lapak sebesar Rp100 ribu dan transportasi.

Pengamatan sederhana itu memperlihatkan dinamika usaha masyarakat yang berlangsung sejak pagi. Di tengah aktivitas pasar, para pedagang menjalankan usaha dengan modal, waktu, dan biaya yang harus diperhitungkan.

Bagi Prof Fatah, suasana pasar tiban menjadi pengalaman tersendiri. Sambil menunggu istrinya berbelanja, ia bisa melihat langsung geliat ekonomi masyarakat sekaligus mengalami kejadian tak terduga ketika belimbing yang dibawanya dikira barang dagangan.

Rencana ke Jakarta Berubah


Keberadaan Prof Fatah di Surabaya sebenarnya bukan bagian dari rencana awal perjalanan.

Ia semula berencana menuju Jakarta untuk menjenguk cucunya. Namun, rencana tersebut berubah setelah mendapat kabar duka dari keluarga.

“Kebetulan aja, rencana mau ke Jakarta, nilik putu, terus ada kabar kakeknya menantu meninggal, terus putar balik takziyah di Surabaya,” katanya.

Perubahan perjalanan itu akhirnya mempertemukannya dengan suasana pasar tiban di sekitar Masjid Al Akbar Surabaya.

Di tempat itulah muncul cerita sederhana: beberapa kantong belimbing yang diletakkan di bawah ternyata membuat seorang ibu mengira Prof Fatah adalah pedagang buah.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top