
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan. Kemendiktisaintek.
Jakarta, EDUKASIA.ID - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menyiapkan 1.000 beasiswa pendidikan dokter dan dokter gigi spesialis untuk tahun akademik 2026/2027.
Program ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dokter spesialis dan memperluas pemerataan tenaga medis di Indonesia.
Sebanyak 750 beasiswa direncanakan melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Sementara 250 lainnya didukung pemerintah daerah, kementerian dan lembaga, rumah sakit, serta mitra swasta.
Beasiswa diprioritaskan untuk spesialis dasar dan bidang kanker, jantung, stroke, uronefrologi, serta kesehatan ibu dan anak (KJSU-KIA). Penentuan penerima juga mempertimbangkan kebutuhan tenaga medis di setiap daerah dan rencana penempatan lulusan.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan mengatakan penambahan program studi kedokteran harus diikuti pemerataan tenaga medis.
“Penambahan program studi harus diikuti dengan pemerataan tenaga medis dan peningkatan pelayanan kesehatan di daerah. Karena itu, program akselerasi ini perlu dilanjutkan dan diperkuat untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan pendidikan dokter spesialis,” ujar Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan, dalam sambutannya.
Direktur Utama LPDP Yon Arsal mengatakan pembiayaan beasiswa mencakup biaya pendidikan hingga kebutuhan penunjang selama studi.
“Melalui skema beasiswa yang nantinya akan diberikan oleh LPDP, LPDP sudah mendukung dan tentu akan terus mendukung program beasiswa ini. Kita memberikan dukungan pembiayaan yang mencakup keseluruhan. Tidak hanya tuition fee di universitasnya, tetapi juga mencakup biaya hidup dan juga biaya penelitian, biaya ujian kompetensi hingga berbagai kebutuhan penunjang lainnya yang dibutuhkan selama masa studi,” tutur Direktur Utama LPDP, Yon Arsal.
Seleksi beasiswa akan diintegrasikan dengan sistem seleksi nasional PPDS melalui Panitia Seleksi Bersama Kemdiktisaintek dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
Program Studi PPDS Bertambah
Program beasiswa tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah memperluas akses pendidikan kedokteran dan kedokteran gigi.Sejak program akselerasi diluncurkan pada 22 Juli 2025, pemerintah telah menambah 185 program studi pendidikan dokter spesialis dan subspesialis. Angka itu melampaui target awal sebanyak 148 program studi.
Jumlah program studi PPDS kini meningkat dari 366 menjadi 551. Peserta didiknya mencapai sekitar 24.000 orang pada 2026.
Pengembangan tersebut juga menjangkau 11 provinsi yang sebelumnya belum memiliki program PPDS, termasuk Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua. Selain itu, pemerintah mengembangkan enam bidang subspesialis baru.
Kemdiktisaintek dan Kemenkes juga memperluas penempatan residen tingkat mandiri di fasilitas pelayanan kesehatan, terutama yang menjadi prioritas Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC).
Hingga pertengahan 2026, sebanyak 342 program dari 17 perguruan tinggi telah menempatkan sekitar 2.480 residen tingkat mandiri setiap tahun di 34 provinsi. Sebanyak 13 program di antaranya menjangkau fasilitas pelayanan kesehatan prioritas PHTC.
Penempatan ini ditujukan untuk memberikan pengalaman klinis kepada peserta PPDS sekaligus membantu pelayanan kesehatan di daerah.
Pemerintah tengah menyusun petunjuk teknis bersama asosiasi program studi spesialis dan kolegium terkait. Aturan tersebut akan mengatur mutu pendidikan, keselamatan pasien, keamanan, dan kesejahteraan residen.
Dukungan pemerintah daerah dan fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk insentif serta jasa medis, juga akan menjadi bagian dari mekanisme pelaksanaan.
Perkuat Kerja Sama Pusat dan Daerah
Pengembangan pendidikan kedokteran dan kedokteran gigi juga akan diperkuat melalui kerja sama perguruan tinggi, rumah sakit pendidikan, pemerintah daerah, dan fasilitas pelayanan kesehatan.Sejumlah upaya yang telah berjalan antara lain program afirmasi mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Manado, beasiswa putra daerah di Sulawesi Utara, serta penempatan residen dan pemberian insentif bagi peserta PPDS dan PPDGS di Sulawesi Selatan.
Di Jawa Timur, pengembangan fakultas kedokteran gigi baru turut didukung melalui Beasiswa Santri dan pendekatan kurikulum transformatif.
Seluruh program akan dikoordinasikan melalui Komite Bersama Kemdiktisaintek dan Kemenkes dengan melibatkan pemerintah daerah, perguruan tinggi, fasilitas pelayanan kesehatan, LPDP, serta mitra strategis.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menekankan perlunya keselarasan perencanaan antara kedua kementerian.
“Sebagai komitmen kebersamaan, saya memandang perlu adanya keselarasan yang tadi sudah disampaikan oleh Pak Wamen Fauzan antara kedua kementerian dalam hal perencanaan kebutuhan pendidikan dan penempatan SDM kesehatan. Untuk itu, ada empat hal yang perlu kita tindak lanjuti bersama,” ujar Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes), Dante Saksono Harbuwono.
Kemdiktisaintek menegaskan pengembangan pendidikan kedokteran tetap harus memenuhi standar akademik, kompetensi profesi, keselamatan pasien, dan ketentuan regulasi. Pelaksanaannya akan melibatkan lembaga akreditasi, konsil, kolegium, serta asosiasi institusi pendidikan dan program studi.
Pemerintah menargetkan kebijakan tersebut tidak hanya menambah jumlah program studi dan peserta pendidikan, tetapi juga memperluas akses masyarakat terhadap layanan kesehatan yang berkualitas.



Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.