
Peringatan Hari Santri 2026 di kantor pusat Kemenag, Jakarta. Foto Kemenag.
Jakarta, EDUKASIA.ID - Kementerian Agama (Kemenag) menyiapkan lima program untuk memperkuat pesantren dan meningkatkan kualitas santri.
Salah satu program utamanya adalah SAFESANTRI, yakni pembentukan satuan tugas untuk mencegah dan menangani kekerasan di lingkungan pesantren.
Menteri Agama Nasaruddin Umar meluncurkan Satgas SAFESANTRI saat peringatan Hari Santri 2026 di kantor pusat Kemenag, Jakarta, Kamis, 22 Oktober 2026.
Selain perlindungan santri, Kemenag menyiapkan program penguatan rekognisi ijazah, kemandirian pesantren, peningkatan keterampilan santri, dan dakwah digital.
Lima program tersebut disiapkan setelah terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 18 Tahun 2026 yang menjadi dasar pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren.
“Citra pesantren aman dan nyaman harus dikawal agar tidak tercoreng oleh laku oknum yang tidak sejalan dengan semangat pesantren,” tegas Menag.
Nasaruddin mengatakan Satgas SAFESANTRI akan memperkuat upaya pencegahan, pengaduan, pendampingan, dan respons cepat terhadap persoalan kekerasan. Sejumlah tokoh pesantren, termasuk Gus Kautsar, menyatakan kesediaan bergabung dalam satgas tersebut.
"Bertepatan peringatan Hari Santri Tahun 2026 ini, dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, saya luncurkan Satuan Tugas SAFESANTRI. Semoga langkah ini menjadi ikhtiar nyata untuk menjaga eksistensi pesantren sebagai lembaga pendidikan yang aman, nyaman, dan ramah bagi seluruh santri," ujar Menag.
1. Penguatan Rekognisi Ijazah
Kemenag mendorong pengakuan pendidikan pesantren agar lulusan memiliki kesempatan lebih luas untuk melanjutkan pendidikan dan memasuki dunia kerja.
“Program ini sekaligus menjawab kebutuhan agar masa depan santri tidak terhambat bukan karena kurangnya kemampuan atau kedalaman ilmu, melainkan karena keterbatasan pengakuan terhadap pendidikan yang telah ditempuh,” ujar Menag.
2. Pesantren Adaptif dan Mandiri
Program ini menyasar penguasaan teknologi, pembaruan tata kelola kelembagaan, dan penguatan ekonomi pesantren. Pesantren didorong beradaptasi dengan perkembangan kecerdasan buatan (AI) serta bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM).
“Program ini juga akan mengawal kemandirian ekonomi Pesantren,” ucap Menag.
3. Santri 5.0
Program Santri 5.0 berfokus pada peningkatan keterampilan, literasi teknologi, dan kemampuan beradaptasi agar santri siap menghadapi perkembangan zaman tanpa meninggalkan pendidikan agama.
“Ilmu agama dan keterampilan, keduanya penting sebagai bekal santri menatap masa depan,” papar Menag.
4. Dakwah Digital
Kemenag menyiapkan dai dan daiyah yang mampu memanfaatkan media sosial, algoritma, AI, dan konten kreatif untuk menjangkau generasi muda. Dakwah digital diharapkan tetap mengedepankan kesantunan, moderasi beragama, dan kedalaman ilmu agama.
“Santri harus juga hadir dalam kreatif dan relevan di ruang digital. Sehingga dakwah yang santun dan moderat, menjadi lebih dekat dengan generasi muda,” ujarnya.
Dalam peringatan Hari Santri 2026 yang mengusung tema "Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas", Nasaruddin juga mengingatkan sejarah perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan.
Resolusi Jihad yang dikumandangkan KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945 menjadi salah satu tonggak perjuangan tersebut. Semangat perlawanan itu turut menggerakkan rakyat hingga peristiwa 10 November 1945 yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.
“Sejarah mencatat dengan tinta emas bahwa ketika kedaulatan bangsa terancam, seruan perlawanan sangat dahsyat lahir dari dinding-dinding pesantren, digelorakan oleh kaum sarungan, dan dihidupi oleh jiwa para santri,” tegas Menag.
“Tugas kita, melanjutkan perjuangan para kyai dan pahlawan bangsa melalui pengabdian, karya, dan kontribusi nyata bagi Indonesia,” sebut Menag.
Menteri Agama Nasaruddin Umar meluncurkan Satgas SAFESANTRI saat peringatan Hari Santri 2026 di kantor pusat Kemenag, Jakarta, Kamis, 22 Oktober 2026.
Selain perlindungan santri, Kemenag menyiapkan program penguatan rekognisi ijazah, kemandirian pesantren, peningkatan keterampilan santri, dan dakwah digital.
Lima program tersebut disiapkan setelah terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 18 Tahun 2026 yang menjadi dasar pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren.
“Citra pesantren aman dan nyaman harus dikawal agar tidak tercoreng oleh laku oknum yang tidak sejalan dengan semangat pesantren,” tegas Menag.
Nasaruddin mengatakan Satgas SAFESANTRI akan memperkuat upaya pencegahan, pengaduan, pendampingan, dan respons cepat terhadap persoalan kekerasan. Sejumlah tokoh pesantren, termasuk Gus Kautsar, menyatakan kesediaan bergabung dalam satgas tersebut.
"Bertepatan peringatan Hari Santri Tahun 2026 ini, dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, saya luncurkan Satuan Tugas SAFESANTRI. Semoga langkah ini menjadi ikhtiar nyata untuk menjaga eksistensi pesantren sebagai lembaga pendidikan yang aman, nyaman, dan ramah bagi seluruh santri," ujar Menag.
5 Program Kemenag untuk Pesantren
Selain SAFESANTRI, berikut empat program lain yang disiapkan Kemenag.1. Penguatan Rekognisi Ijazah
Kemenag mendorong pengakuan pendidikan pesantren agar lulusan memiliki kesempatan lebih luas untuk melanjutkan pendidikan dan memasuki dunia kerja.
“Program ini sekaligus menjawab kebutuhan agar masa depan santri tidak terhambat bukan karena kurangnya kemampuan atau kedalaman ilmu, melainkan karena keterbatasan pengakuan terhadap pendidikan yang telah ditempuh,” ujar Menag.
2. Pesantren Adaptif dan Mandiri
Program ini menyasar penguasaan teknologi, pembaruan tata kelola kelembagaan, dan penguatan ekonomi pesantren. Pesantren didorong beradaptasi dengan perkembangan kecerdasan buatan (AI) serta bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM).
“Program ini juga akan mengawal kemandirian ekonomi Pesantren,” ucap Menag.
3. Santri 5.0
Program Santri 5.0 berfokus pada peningkatan keterampilan, literasi teknologi, dan kemampuan beradaptasi agar santri siap menghadapi perkembangan zaman tanpa meninggalkan pendidikan agama.
“Ilmu agama dan keterampilan, keduanya penting sebagai bekal santri menatap masa depan,” papar Menag.
4. Dakwah Digital
Kemenag menyiapkan dai dan daiyah yang mampu memanfaatkan media sosial, algoritma, AI, dan konten kreatif untuk menjangkau generasi muda. Dakwah digital diharapkan tetap mengedepankan kesantunan, moderasi beragama, dan kedalaman ilmu agama.
“Santri harus juga hadir dalam kreatif dan relevan di ruang digital. Sehingga dakwah yang santun dan moderat, menjadi lebih dekat dengan generasi muda,” ujarnya.
Dalam peringatan Hari Santri 2026 yang mengusung tema "Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas", Nasaruddin juga mengingatkan sejarah perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan.
Resolusi Jihad yang dikumandangkan KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945 menjadi salah satu tonggak perjuangan tersebut. Semangat perlawanan itu turut menggerakkan rakyat hingga peristiwa 10 November 1945 yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.
“Sejarah mencatat dengan tinta emas bahwa ketika kedaulatan bangsa terancam, seruan perlawanan sangat dahsyat lahir dari dinding-dinding pesantren, digelorakan oleh kaum sarungan, dan dihidupi oleh jiwa para santri,” tegas Menag.
“Tugas kita, melanjutkan perjuangan para kyai dan pahlawan bangsa melalui pengabdian, karya, dan kontribusi nyata bagi Indonesia,” sebut Menag.



Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.