SURABAYA, EDUKASIA.ID - Usia 55 tahun tak menyurutkan semangat Malik Hanafi untuk meraih gelar sarjana.
Pria asal Halmahera Selatan, Maluku Utara, itu akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), setelah cita-citanya sempat tertunda selama bertahun-tahun.
Malik menjadi salah satu wisudawan inspiratif dalam Wisuda ke-55 Umsura yang digelar pada 2026. Ia berhasil meraih gelar sarjana dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Pendidikan Komunikasi dan Sains (FPKS), melalui jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).
Keinginannya untuk melanjutkan pendidikan sebenarnya sudah muncul sejak lama. Namun, persoalan ekonomi dan tanggung jawab keluarga membuat rencana tersebut belum bisa diwujudkan.
Kesempatan baru terbuka ketika Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan bekerja sama dengan Umsura melalui program peningkatan kualifikasi pendidikan guru jalur RPL.
Program itu menjadi jalan bagi Malik untuk kembali mengejar pendidikan yang selama ini diimpikannya.
“Sebetulnya keinginan untuk menempuh pendidikan tinggi sudah lama, tetapi ada kendala terkait keuangan dan keluarga. Alhamdulillah, Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan bisa bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Surabaya melalui program Rekognisi Pembelajaran Lampau. Saya juga merasa terpanggil untuk mengikuti program ini,” ungkap Hanafi.
Malik mulai menjalani perkuliahan ketika berusia 53 tahun. Ia mengaku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut, terlebih sistem pembelajaran yang diterapkan memungkinkan dirinya tetap bekerja dan menjalankan tanggung jawab keluarga.
Perkuliahan berlangsung secara daring dua kali dalam sepekan, yakni setiap Jumat dan Sabtu sore. Sistem tersebut membuatnya bisa membagi waktu antara pekerjaan dan kegiatan akademik.
Meski begitu, perjalanan kuliahnya bukan tanpa kendala. Malik beberapa kali menghadapi masalah jaringan internet hingga gangguan perangkat pendukung seperti laptop.
“Menurut saya, tidak ada kesulitan yang terlalu berat. Paling hanya tugas-tugas yang diberikan, masalah jaringan, serta alat bantu seperti laptop dan lainnya yang terkadang mengalami gangguan,” tuturnya.
Berbagai hambatan tersebut akhirnya bisa dilewati hingga Malik berhasil menyelesaikan studinya.
Bagi Malik, gelar sarjana bukan hanya pencapaian akademik. Ia berharap pendidikan yang telah diselesaikannya bisa membuka peluang pengembangan karier, termasuk kesempatan kenaikan pangkat dan peningkatan tunjangan hari tua.
Setelah wisuda, Malik juga memiliki rencana untuk lebih banyak berkontribusi bagi masyarakat di daerah asalnya.
Ia bahkan membuka peluang terjun ke pemerintahan desa hingga politik apabila kondisi fisik dan waktunya masih memungkinkan.
“Rencana saya setelah wisuda ini ingin mendedikasikan diri kepada masyarakat. Saya berharap bisa mencalonkan diri menjadi kepala desa. Jika tenaga dan waktu masih memungkinkan, semoga juga bisa mencalonkan diri sebagai anggota legislatif,” ujarnya.
Menurutnya, kesempatan menuntut ilmu tetap terbuka selama seseorang masih memiliki kemauan dan waktu untuk belajar.
“Pesan saya sangat sederhana, pendidikan dan ilmu itu tidak mengenal usia. Mau 40, 50, 60, bahkan 70 tahun tidak masalah untuk mengikuti pendidikan, selagi masih punya waktu dan kesempatan,” pesannya.
Malik juga menyampaikan terima kasih kepada keluarga, rekan kerja, serta seluruh pihak yang telah mendukung perjuangannya hingga berhasil meraih gelar sarjana.
Secara khusus, ia mengapresiasi dukungan istri, anak, dan cucu, serta bantuan para dosen dan civitas akademika Umsura selama proses perkuliahan.
“Atas nama keluarga, saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh civitas akademika Umsura dan dosen-dosen yang telah membantu kami meraih jenjang pendidikan sarjana. Mohon maaf kami tidak bisa memberikan apa-apa. Yang bisa saya berikan hanya doa, semoga semuanya mendapatkan pahala sebesar-besarnya,” tutupnya.
Malik menjadi salah satu wisudawan inspiratif dalam Wisuda ke-55 Umsura yang digelar pada 2026. Ia berhasil meraih gelar sarjana dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Pendidikan Komunikasi dan Sains (FPKS), melalui jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).
Keinginannya untuk melanjutkan pendidikan sebenarnya sudah muncul sejak lama. Namun, persoalan ekonomi dan tanggung jawab keluarga membuat rencana tersebut belum bisa diwujudkan.
Kesempatan baru terbuka ketika Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan bekerja sama dengan Umsura melalui program peningkatan kualifikasi pendidikan guru jalur RPL.
Program itu menjadi jalan bagi Malik untuk kembali mengejar pendidikan yang selama ini diimpikannya.
“Sebetulnya keinginan untuk menempuh pendidikan tinggi sudah lama, tetapi ada kendala terkait keuangan dan keluarga. Alhamdulillah, Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan bisa bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Surabaya melalui program Rekognisi Pembelajaran Lampau. Saya juga merasa terpanggil untuk mengikuti program ini,” ungkap Hanafi.
Malik mulai menjalani perkuliahan ketika berusia 53 tahun. Ia mengaku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut, terlebih sistem pembelajaran yang diterapkan memungkinkan dirinya tetap bekerja dan menjalankan tanggung jawab keluarga.
Perkuliahan berlangsung secara daring dua kali dalam sepekan, yakni setiap Jumat dan Sabtu sore. Sistem tersebut membuatnya bisa membagi waktu antara pekerjaan dan kegiatan akademik.
Meski begitu, perjalanan kuliahnya bukan tanpa kendala. Malik beberapa kali menghadapi masalah jaringan internet hingga gangguan perangkat pendukung seperti laptop.
“Menurut saya, tidak ada kesulitan yang terlalu berat. Paling hanya tugas-tugas yang diberikan, masalah jaringan, serta alat bantu seperti laptop dan lainnya yang terkadang mengalami gangguan,” tuturnya.
Berbagai hambatan tersebut akhirnya bisa dilewati hingga Malik berhasil menyelesaikan studinya.
Gelar Sarjana Jadi Kebanggaan Keluarga
Keberhasilan meraih gelar sarjana di usia 55 tahun menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Malik. Ia menyebut dukungan istri, anak, cucu, rekan sesama guru, hingga kepala sekolah turut menjadi penyemangat selama menjalani perkuliahan.Bagi Malik, gelar sarjana bukan hanya pencapaian akademik. Ia berharap pendidikan yang telah diselesaikannya bisa membuka peluang pengembangan karier, termasuk kesempatan kenaikan pangkat dan peningkatan tunjangan hari tua.
Setelah wisuda, Malik juga memiliki rencana untuk lebih banyak berkontribusi bagi masyarakat di daerah asalnya.
Ia bahkan membuka peluang terjun ke pemerintahan desa hingga politik apabila kondisi fisik dan waktunya masih memungkinkan.
“Rencana saya setelah wisuda ini ingin mendedikasikan diri kepada masyarakat. Saya berharap bisa mencalonkan diri menjadi kepala desa. Jika tenaga dan waktu masih memungkinkan, semoga juga bisa mencalonkan diri sebagai anggota legislatif,” ujarnya.
Malik: Pendidikan Tidak Mengenal Usia
Dari perjalanan panjangnya menyelesaikan pendidikan tinggi, Malik memiliki pesan bagi masyarakat yang masih ragu untuk kembali bersekolah karena faktor usia.Menurutnya, kesempatan menuntut ilmu tetap terbuka selama seseorang masih memiliki kemauan dan waktu untuk belajar.
“Pesan saya sangat sederhana, pendidikan dan ilmu itu tidak mengenal usia. Mau 40, 50, 60, bahkan 70 tahun tidak masalah untuk mengikuti pendidikan, selagi masih punya waktu dan kesempatan,” pesannya.
Malik juga menyampaikan terima kasih kepada keluarga, rekan kerja, serta seluruh pihak yang telah mendukung perjuangannya hingga berhasil meraih gelar sarjana.
Secara khusus, ia mengapresiasi dukungan istri, anak, dan cucu, serta bantuan para dosen dan civitas akademika Umsura selama proses perkuliahan.
“Atas nama keluarga, saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh civitas akademika Umsura dan dosen-dosen yang telah membantu kami meraih jenjang pendidikan sarjana. Mohon maaf kami tidak bisa memberikan apa-apa. Yang bisa saya berikan hanya doa, semoga semuanya mendapatkan pahala sebesar-besarnya,” tutupnya.




Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.