Prof. Dr. Ali Murtadho, M.Ag, guru besar Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam UIN Walisongo. Foto ist.
EDUKASIA.ID - Tak banyak menyangka, sosok yang prestasinya tak menonjol semasa mahasiswa, ternyata bisa menyandang gelar guru besar. Dialah Prof. Dr. Ali Murtadho, M.Ag, guru besar Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam yang akan dikukuhkan di UIN Walisongo, Sabtu 14 Februari 2026.
Pria kelahiran Kendal, 30 Agustus 1971 itu berasal dari keluarga sederhana, namun menjadikan nilai agama sebagai fondasi hidup. Pendidikan dasarnya ditempuh di SD Donosari 1 Patebon, dilanjutkan ke MTs NU Patebon dan MAN Kendal.
Sejak kecil, Prof Ali telah akrab dengan kehidupan pesantren. Ayah empat anak tersebut nyantri di Pondok Pesantren Al-Miftah Donosari Patebon sejak 1980 hingga 1991, sebuah masa yang membentuk karakter disiplin dan kesederhanaannya.
Memasuki usia mahasiswa, orang tuanya memasukkannya ke Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin (PPRT), Tugurejo, Tugu, Semarang. Di situlah ia kuliah di IAIN Walisongo (kini UIN Walisongo) sekaligus menjalani hidup sebagai santri mahasiswa dengan bekal yang sangat terbatas.
“Di pondok uang sakunya terbatas, jadi harus cukup sampai sebulan,” kenangnya.
Keterbatasan tersebut membuatnya kreatif sekaligus kuat secara mental. Untuk menuju Kampus III UIN Walisongo, ia memilih berjalan kaki menyusuri bukit daripada naik angkutan umum. “Kalau naik angkot, ongkos sekali jalan Rp150. Supaya irit, saya jalan kaki,” kenangnya.
Termasuk masalah makan, ia tidak banyak menuntut. Pagi hari, selepas mengaji bakda shubuh kepada Kiai Mustaghfirin, ia memarut ketela pohon untuk sarapan. “Gobet itu diparut, nikmat,” katanya. Tidurnya pun kerap di aula pondok, bersama para santri lain yang sama-sama berjuang.
Di tengah kehidupan yang serba terbatas itu, suami Maimun Najah itu justru dipercaya memikul amanah. Pada 1995, ia diamanahi menjadi lurah pondok. Saat itu, masjid kampung tengah direnovasi.
“Saya ini termasuk pendiam. Tapi mau tidak mau harus menggerakkan santri untuk ro’an, kerja bakti membangun masjid,” tuturnya.
Pengalaman memimpin di usia muda itu menjadi pelajaran penting, yaitu tanggung jawab tidak selalu datang saat kita merasa siap, tetapi ketika keadaan menuntut keberanian.
Tak niat jadi dosen
Prof Ali menyelesaikan studi sarjana di IAIN Walisongo pada 1996. Selepas lulus, hidup tidak langsung berubah. Ketika banyak kawan mendaftar menjadi dosen, Ali Murtadho memilih pulang ke desa. Ia nyemplung di sawah, mencoba beternak ayam, hingga sempat jatuh sakit.
“Saya apa adanya. Pulang ke desa, beraktivitas seperti biasa,” katanya.
Jalan akademik kembali terbuka secara tak terduga. Adiknya yang masih kuliah di UIN bertemu teman lama Ali Murtadho yang telah mendaftar dosen. Kabar itu sampai kepadanya, dan ia pun mencoba mendaftar.
“Alhamdulillah saya daftar, dan diterima,” ucapnya singkat.
Sejak itu, karier akademiknya tumbuh bertahap. Ia mengikuti Program Pembibitan Calon Dosen pada 1997, lalu melanjutkan studi magister di Pascasarjana UIN Walisongo yang diselesaikan pada 2001. Gelar doktor ia raih dari Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 2010, seluruh jenjang itu ditempuh dengan beasiswa.
Di UIN Walisongo, Ali Murtadho mengabdikan diri sebagai dosen dan dipercaya memegang berbagai amanah struktural. Ia pernah menjadi Sekretaris Laboratorium Fakultas Syariah, Ketua Program Studi S1 Ekonomi Islam (2011–2013), hingga Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kelembagaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (2014–2019). Kepercayaan berlanjut saat ia menjabat Ketua Program Studi S2 Ekonomi Syariah pada 2020–2024.
Pada level internasional, ia pernah mengikuti Training Expert Program di Universitas Queensland, Australia, serta Program Pertukaran Dosen antara UIN Walisongo dan UiTM Melaka, Malaysia. Namun baginya, capaian itu tidak pernah menggeser sikap hidup yang bersahaja.
Akademisi produktif
Ali Murtadho dikenal sebagai akademisi yang produktif menulis dan meneliti. Karya-karyanya membahas ekonomi dan hukum Islam, fiqh muamalah, pengangguran, hingga ekonomi makro Islam. Sejumlah buku yang ia tulis, diantar judulnya adalah Ekonomi Makro Islam, Model Aplikasi Fiqh Muamalah Modern, Ekonomi Makro Syariah Integratif, dan berbagai karya jurnal nasional maupun internasional, menjadi rujukan di berbagai perguruan tinggi.
Di luar kampus, ia aktif mengabdi pada masyarakat. Ia terlibat di berbagai organisasi keagamaan dan ekonomi syariah, mulai dari Nahdlatul Ulama Kabupaten Kendal, Majelis Ulama Indonesia tingkat kecamatan, hingga Ikatan Ahli Ekonomi Islam dan Masyarakat Ekonomi Syariah Jawa Tengah. Di kampung halamannya, ia mengemban amanah sebagai Ketua Takmir Masjid Baitul Mukmin Donosari.
Doa sang ayah yang lulusan SD
Di balik perjalanan akademik tersebut, ada sosok orangtua yang menjadi sumber inspirasi utama. Keduanya tak lulus sekolah dasar (SD), ibunya berhenti di kelas 3, sedangkan sang ayah hanya masuk sekolah dua hari saja.
"Ibu saya luar biasa, membimbing saya dari nol. Dengan kasih sayangnya, beliau mengajarkan Al Qur'an kepada saya," kenangnya lirih.
Dengan keterbatasan akedemik, ibunya membimbingnya dengan sabar dan telaten. Begitupun sang ayah, disamping mencari nafkah juga senantiasa menyemangatinya agar tak kalah dalam akdemik.
“Ayah saya Sekolahnya hanya dua hari masuk kelas, sisanya baca-baca sendiri. Soal agama, Ayah saya ngajinya tabarukan, tidak mondok karena tidak punya uang. Kalau melihat tetangga sebayanya berangkat mondok, beliau lari mengikuti seakan mau ikut,” kenangnya sambil terisak.
Prinsip hidup sang ayah sederhana namun kuat, yakni madep, mantep, sregep atau fokus, mantap, dan rajin. Prinsip itulah yang menuntun Ali Murtadho dalam menapaki hidup.
Satu pesan ayahnya yang terus terngiang adalah soal ilmu. “Ilmu jangan disembunyikan,” begitu nasihat yang kerap ia dengar. Sang ayah mendorongnya mengajukan guru besar, bukan demi gelar, melainkan agar ilmu bisa disebarkan lebih luas sebagai syiar Islam.
Bahkan menjelang wafat, ayahnya masih menanyakan proses tersebut. “Beliau tanya, ‘sudah dikirim ke Jakarta belum?’” kisah Ali Murtadho. Tak lama setelah 100 hari wafat sang ayah, Surat Keputusan guru besar itu terbit.
“Meski beliau tidak menyaksikan, saya sudah puas. Karena beliau tahu saya sudah mengurusnya,” ujarnya, sedikit parau.
Di akhir pembicaraan, Ali Murtadho tetap memandang dirinya secara sederhana. “Kalau dari prestasi dan kemampuan, saya sadar minimal. Mengandalkan kemampuan sendiri sulit,” ujarnya.
Ia meyakini keberhasilannya adalah buah doa orang tua, para guru, dan para kiai yang membimbingnya sejak kecil.
“Ayah saya Sekolahnya hanya dua hari masuk kelas, sisanya baca-baca sendiri. Soal agama, Ayah saya ngajinya tabarukan, tidak mondok karena tidak punya uang. Kalau melihat tetangga sebayanya berangkat mondok, beliau lari mengikuti seakan mau ikut,” kenangnya sambil terisak.
Prinsip hidup sang ayah sederhana namun kuat, yakni madep, mantep, sregep atau fokus, mantap, dan rajin. Prinsip itulah yang menuntun Ali Murtadho dalam menapaki hidup.
Satu pesan ayahnya yang terus terngiang adalah soal ilmu. “Ilmu jangan disembunyikan,” begitu nasihat yang kerap ia dengar. Sang ayah mendorongnya mengajukan guru besar, bukan demi gelar, melainkan agar ilmu bisa disebarkan lebih luas sebagai syiar Islam.
Bahkan menjelang wafat, ayahnya masih menanyakan proses tersebut. “Beliau tanya, ‘sudah dikirim ke Jakarta belum?’” kisah Ali Murtadho. Tak lama setelah 100 hari wafat sang ayah, Surat Keputusan guru besar itu terbit.
“Meski beliau tidak menyaksikan, saya sudah puas. Karena beliau tahu saya sudah mengurusnya,” ujarnya, sedikit parau.
Di akhir pembicaraan, Ali Murtadho tetap memandang dirinya secara sederhana. “Kalau dari prestasi dan kemampuan, saya sadar minimal. Mengandalkan kemampuan sendiri sulit,” ujarnya.
Ia meyakini keberhasilannya adalah buah doa orang tua, para guru, dan para kiai yang membimbingnya sejak kecil.



.png)

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.