Gagal Kejar ASN, Kholif Usman Alumni UIN Raup Cuan dari Bersihkan Kamar Mandi

Redaksi
0
Sosok inspiratif, H. Kholif Usman. Foto ist.

EDUKASIA.ID - Jalan hidup H. Kholif Usman tak sepenuhnya lurus seperti rencana masa mudanya. Lulusan Fakultas Syariah UIN Walisongo itu sempat menaruh harapan besar menjadiAparatur Sipil Negara (ASN), mengikuti jejak sang ayah yang berprofesi sebagai penghulu.

Namun kegagalan dalam seleksi ASN calon hakim pengadilan agama justru menjadi titik balik yang mengubah arah hidupnya.

“Ayah saya penghulu, lalu saya kuliah di fakultas Syariah, berharap bisa melanjutkan profesi sebagaimana PNS seperti ayah,” kenangnya.

Sekali gagal, Haji Usman memilih tak mengulang. Keinginan menjadi abdi negara dihempaskan.

Kemudian ia mencoba peruntungan sebagai agen asuransi syariah secara freelance. Ia menawarkan polis dari rumah ke rumah, bertahun-tahun lamanya. Namun penghasilan yang bergantung pada deal tanpa gaji tetap membuatnya berpikir ulang.

“Tidak mungkin terus bekerja untuk orang lain tanpa kepastian. Harus punya usaha sendiri,” ujarnya.
Ide dari Obrolan Sederhana

Gagasan itu datang dari percakapan ringan dengan seorang teman yang menjual cairan kimia pembersih keramik. Sang teman menyebut potensi jasa pembersihan kamar mandi yang bisa menghasilkan lebih besar dibanding sekadar menjual produk.

“Jika cairan tersebut digunakan untuk membersihkan kamar mandi, jasa yang akan diperoleh bisa seratus ribu per kamar mandi,” tuturnya menirukan ucapan sang teman.

Tahun 2006, ia membeli satu jerigen cairan pembersih seharga Rp75 ribu. Itulah modal awal yang kemudian ia sebut sebagai embrio gurita bisnisnya.

Kamar mandi rumahnya menjadi objek pertama. Setelah berhasil, ia mencoba membersihkan kamar mandi milik teman sesama alumni IAIN Walisongo. Respons yang diterima di luar dugaan.

“Kok bisa bersih ya?” ucap temannya takjub.

Dari situ keyakinan tumbuh. Meski sempat diragukan karena kekhawatiran keramik rusak akibat bahan kimia, ia meyakinkan calon pelanggan dengan bukti hasil kerja. Ia menegaskan bahwa yang dijual bukan cairan kimia, melainkan jasa dan ketelitian.

“Lalu saya yakinkan bahwa saya tidak jual cairan kimia, tapi menjual jasa,” katanya.

Dari modal Rp75 ribu, ia pernah meraih omzet Rp400 ribu. Semua proses dipelajari secara otodidak. Ia mengaku tak pernah belajar dari kursus maupun video tutorial.

“Saya belum pernah belajar pada orang lain, saya pikir ini barang kelihatan pasti bisa belajar sambil jalan,” ungkapnya.

Dari Satu Orang ke Puluhan Tenaga


Dua bulan berjalan sendirian, pesanan makin banyak. Seorang tetangga yang menganggur dan berpengalaman sebagai petugas kebersihan bergabung sebagai tenaga freelance pertama.

“Ada tetangga yang menyanggupi membantu saya, saya angkat sebagai karyawan freelance,” tuturnya.

Titik ekspansi datang ketika sebuah sekolah meminta penawaran jasa bulanan. Perhitungannya diterima dan kerja sama diteken. Dari satu sekolah, merembet ke sekolah lain.

Permintaan tak berhenti pada pembersihan kamar mandi. Pihak sekolah juga membutuhkan tenaga kebersihan outsourcing. Peluang itu ditangkapnya.

“Lalu saya menawarkan untuk memberikan layanan jasa outsourcing, dan alhamdulillah jalan hingga sekarang,” katanya.

Kini, usaha yang dirintisnya, Kinclong Lestari Jaya, mempekerjakan sekitar 80 karyawan dan melayani sekolah-sekolah serta instansi di Jawa Tengah. Tahun ini, ia bahkan merintis PT baru untuk layanan outsourcing keamanan.

Dalam hal pemasaran, Haji Usman tak banyak mengandalkan promosi digital. Strateginya sederhana: getok tular. Ia pernah mencoba mendatangi instansi satu per satu membawa proposal, namun hasilnya tak seefektif rekomendasi pelanggan.

“Kebanyakan dari mulut ke mulut, pelanggan memberikan testimoni kepada temannya,” ujarnya.

Kunci menjaga kepercayaan adalah detail dan treatment tepat. Keramik berkerak dibersihkan tanpa harus dibongkar. Cairan kimia digunakan seperlunya.

Sentuhan akhir berupa pewangi saat finishing menjadi ciri khas. Ia pernah menerima cerita dari salah satu sekolah yang dikunjungi gubernur. Saat siswa ditanya soal kamar mandi sekolah, jawaban mereka serempak: “Wangi!”

Istighosah dan Gratiskan Masjid Mushola


Di balik perjalanan bisnisnya, Haji Usman meyakini pentingnya keseimbangan antara usaha lahir dan batin. Setiap pagi, ia bersama staf menggelar istighosah di kantor.

“Setiap pagi bersama staf saya di kantor, kami melakukan istighosah Mbah Hasyim Asy’ari,” ujarnya.

Sejak awal merintis, ia dan istri berkomitmen menyisihkan sebagian pendapatan untuk membayar tagihan listrik mushola atau masjid dari setiap kerja sama yang didapat.

“Dari setiap satu kesepakatan kerja sama dengan pelanggan, saya membayar tagihan listrik mushola atau masjid,” tuturnya.

Untuk pembersihan kamar mandi masjid dan mushola, ia tak mengambil keuntungan material. Hanya jasa tenaga yang dibayarkan.

Saat pandemi Covid-19 melanda dan banyak usaha terhenti, bisnisnya tetap berjalan. Bahkan di tengah efisiensi anggaran sejumlah instansi, usahanya masih bertahan.

Dari satu jerigen cairan pembersih seharga Rp75 ribu, Haji Usman membuktikan kegagalan menjadi ASN bukan akhir segalanya. Jalur wiraswasta justru membawanya pada kebermanfaatan lebih luas.

“Saya bersyukur, memiliki usaha sendiri, dan selebihnya bisa membuat jalan penghasilan pada orang lain,” pungkasnya.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)
aio

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top