Tenang, Percayakan Puasa Kita pada Allah

Redaksi
0
Ilustrasi. Foto Pixabay.
Penulis: Dr. H. Ahmad Tajuddin Arafat, M.S.I, Komisi Dakwah MUI Kota Semarang, Akademisi UIN Walisongo, Semarang.

EDUKASIA.ID - Dikisahkan bahwa Imam Syibli, seorang sufi besar dari Baghdad yang wafat pada tahun 861 M, pernah melakukan perjalanan bersama rombongan menuju Syam (Suriah).

Di tengah perjalanan, mereka dihadang oleh sekelompok perampok dan dibawa menghadap pemimpin mereka.

Dalam keadaan tertawan di markas para begal itu, Imam Syibli memperhatikan sesuatu yang menarik perhatiannya. Sang pemimpin perampok mengeluarkan berbagai hidangan untuk anak buahnya. Mereka makan dengan lahap, namun anehnya, sang pemimpin justru tidak ikut menyentuh makanan itu.

Rasa ingin tahu mendorong Imam Syibli untuk bertanya, “Mengapa engkau tidak makan bersama mereka?” tanya Imam Syibli.

Dengan tatapan tajam, pemimpin itu menjawab singkat, “Karena aku sedang berpuasa,” jawab pemimpin perampok.

Jawaban itu membuat Imam Syibli tertegun. Ia merasa heran, lalu kembali bertanya, “Apakah aku tidak salah dengar? Engkau merampas harta orang lain, bahkan tak segan menghilangkan nyawa. Untuk apa engkau berpuasa?” Imam Syibli mengulang pertanyaan l.

Dengan suara berat, sang pemimpin menjawab, “Wahai Tuan, ketahuilah, aku tetap berusaha menyisakan satu kebaikan pada tempatnya. Aku pun takut pada api neraka dan berharap surga menjadi tempat kembaliku,” jawab pemimpin perampok.

Waktu berlalu. Pada suatu kesempatan, Imam Syibli melihat pemimpin perampok. itu sedang bertawaf mengelilingi Ka’bah di Baitullah. Ia menyapanya. Lelaki itu berkata lirih penuh keyakinan

“Puasa itulah yang akhirnya mempertemukanku dengan Tuhanku,” ucap pemimpin perampok.

Kisah yang senada juga disebutkan dalam kitab Irsyadul ‘Ibad. Diceritakan bahwa pada hari kiamat kelak, sebagian hamba yang Allah kehendaki sebagai orang-orang saleh akan menerima kitab amal mereka dengan penuh kebanggaan dan membacanya dengan suara lantang.

Namun ada seorang hamba yang justru diperintahkan untuk membacanya dengan suara pelan, hampir tak terdengar oleh siapa pun.

Melihat hal itu, para malaikat bertanya, “Wahai Tuhan kami, belum pernah Engkau memperlakukan seorang hamba seperti ini. Padahal ia tampak pantas menerima azab,” tanya malaikat.

Allah berfirman: “Wahai para malaikat-Ku, sungguh Aku telah membakarnya di dunia dengan ‘api’ lapar dan dahaga di bulan Ramadan. Maka Aku tidak akan membakarnya lagi di neraka. Aku telah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Kisah-kisah ini seakan mengingatkan kita bahwa sekecil apa pun kebaikan yang dilakukan dengan tulus bisa menjadi jalan pulang menuju rahmat-Nya.

Lalu, apa yang penting bagi kita dari kisah tersebut?

Sebagai seorang Muslim, kita meyakini sepenuh hati bahwa Allah adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kasih sayang-Nya meliputi segala sesuatu, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an (Q.S. Al-A‘raf: 156).

Dari keyakinan inilah kita bisa memahami mengapa Allah menjanjikan ampunan (maghfirah) bagi orang-orang yang berpuasa dengan tulus, sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi tentang keutamaan puasa Ramadan (“man shama Ramadhana…”). Yang ditekankan bukan semata-mata besarnya pahala, melainkan pengampunan.

Barangkali karena kita menyadari, sebagai manusia biasa, dosa sering kali lebih dominan dalam hidup kita daripada kesiapan kita menyambut surga.

Janji ampunan itu seakan menjadi penegasan bahwa terbebas dari dosa dan kemaksiatan jauh lebih mendasar dan lebih utama daripada sekadar mengumpulkan pahala, sementara diri masih dipenuhi noda kesalahan. Membersihkan diri didahulukan sebelum menghiasinya dengan berbagai amal kebaikan.

Itulah sebabnya Rasulullah ï·º pernah menyebut bahwa puasa adalah bagian dari kesabaran, dan kesabaran adalah bagian dari iman.

Sebab dalam setiap upaya menjauhi keburukan dan meninggalkan kemaksiatan, kita sangat membutuhkan kesabaran—menahan diri, menahan emosi, menahan keinginan, dan tetap teguh meski berat. Tanpa sabar, puasa hanya menjadi rutinitas fisik, bukan latihan rohani.

Di sisi lain, bagi kita yang masih berada pada level “awam” dalam berpuasa—yang mungkin baru sebatas menahan lapar dan haus—setidaknya puasa bisa menjadi sarana latihan untuk menahan diri dari hal-hal yang merusak, baik secara pribadi maupun sosial.

Puasa mengajarkan kita untuk tidak mudah terpancing, tidak mudah menyakiti, tidak mudah menyebar fitnah, dan tidak terlibat dalam hal-hal yang memicu kegaduhan di tengah masyarakat.

Ada sebuah riwayat populer yang sering dikutip saat Ramadan: bahwa tidurnya orang yang berpuasa bernilai ibadah.

Terlepas dari pembahasan derajat riwayatnya, pesan moral yang bisa kita ambil adalah bahwa “diam” dari keburukan pun bernilai. Dalam situasi tertentu, menahan diri untuk tidak berbuat, tidak berkomentar, tidak memperkeruh keadaan—justru itulah sikap yang paling bijak dan bermaslahat.

Semoga puasa kita bukan sekadar menahan lapar, tetapi menjadi jalan untuk membersihkan diri, menumbuhkan kesabaran, dan memperbaiki hubungan kita dengan Allah serta sesama. Semoga bermanfaat. wa Allah A’lam bi al-Shawab...
Tags

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)
aio

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top