
Sejumlah remaja memainkan Tong-Tongklek. Foto Facebook Rofiq Mahfudz.
EDUKASIA.ID - Di sudut kota sebesar Semarang, suara sahur kini terasa begitu mekanis. Hanya ada teriakan monoton dari Toa masjid atau lengkingan sirene yang membelah sunyi sebagai penanda imsak.
Praktis, memang. Namun, ada yang kosong. Ada kerinduan yang tidak bisa dibayar oleh teknologi yaitu Tong-Tongklek.
Secara etimologi, namanya sangat organik. “Tong-tong” adalah onomatope dari suara bambu yang dipukul, sementara “Lek” berasal dari bahasa Jawa melek. Jadi, secara harfiah, Tong-Tongklek adalah bunyi-bunyian yang dipukul agar kita melek.
Asal-usulnya memang abu-abu. Ada yang menyebut tradisi ini sudah ada sejak zaman Hindu, ada pula yang meyakini ini adalah warisan dakwah para Wali di tanah Jawa. Meski tak ada data tertulis yang pasti, satu yang terang: musik ini adalah identitas Pantura.
Di Madura ia disebut Tong-Tong, di Tuban dikenal sebagai Tongklek, dan di Rembang ia menjadi Tong-Tongklek.
Dulu, Tong-Tongklek adalah instrumen artistik yang jujur. Hanya bermodal bambu berlubang dan satu jerigen bekas minyak sebagai bass-nya, sekelompok pemuda sudah bisa menciptakan harmoni yang magis.
Ini bukan sekadar music, ini adalah alat komunikasi publik dan simbol soliditas warga.
Namun, dunia telah berubah.....
Ada rasa miris saat melihat identitas asli ini perlahan luntur.
Di banyak tempat, ketukan bambu yang ritmik mulai digantikan oleh dentuman sound system di atas gerobak. Musik populis ini bergeser; dari kesederhanaan bambu menjadi putaran kaset disko, house music, hingga dangdut koplo.
Semangat "gugah sahur" tetap ada, namun estetika budayanya mulai terdistorsi.
Tong-Tongklek tetap menjadi musik populis yang mencerminkan karakteristik demografi dan sosial masyarakatnya. Ia adalah perayaan kebersamaan.
Kini, sambil mendengar sunyinya jalanan kota, saya sering melamun: Apakah di kampung halaman saya suara bambu itu masih nyaring terdengar?
Ataukah ia sudah kalah telak oleh kebisingan mesin?
Bagaimana dengan di kampungmu, Kawan?


.png)


Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.