Jelang Sidang Isbat, Menag Cek Kesiapan Planetarium UIN Walisongo

Arifah
0
Planetarium dan Observatorium KH. Zubair Umar Al-Jailani di UIN Walisongo

Semarang. EDUKASIA.ID – Planetarium dan Observatorium KH. Zubair Umar Al-Jailani di UIN Walisongo Semarang terus diperkuat perannya sebagai pusat pembelajaran dan riset astronomi Islam.

Fasilitas ini tidak hanya menjadi laboratorium praktik mahasiswa Ilmu Falak, tetapi juga difungsikan sebagai titik pemantauan hilal untuk kepentingan penetapan awal bulan hijriah.

Kementerian Agama menaruh harapan besar pada keberadaan fasilitas astronomi di perguruan tinggi keagamaan. Planetarium dan observatorium dinilai dapat menjadi simpul kolaborasi antara praktik keagamaan dan pengembangan keilmuan, sekaligus mendukung proses sidang isbat yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam konteks itulah Menteri Agama Nasaruddin Umar meninjau langsung Planetarium dan Observatorium KH. Zubair Umar Al-Jailani, UIN Walisongo Semarang. Lokasi ini menjadi salah satu titik pemantauan hilal menjelang sidang isbat penetapan awal Ramadan 1447 Hijriah yang dijadwalkan berlangsung pada 17 Februari mendatang.

Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan kesiapan sarana dan prasarana pengamatan hilal agar proses penetapan awal Ramadan berjalan secara akurat dan akuntabel.

Dalam kunjungan itu, Menag menyaksikan langsung simulasi pemantauan hilal yang dilakukan di planetarium. Ia menilai fasilitas tersebut memberi penguatan penting bagi kerja-kerja rukyat yang berbasis sains.

“Planetarium ini bukan hanya berfungsi untuk membantu pemantauan hilal, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran yang sangat baik bagi mahasiswa, khususnya jurusan Ilmu Falak, untuk mengembangkan kompetensi keilmuannya,” ujar Menag.

Menurut Nasaruddin, penguatan infrastruktur astronomi di kampus keagamaan merupakan langkah strategis dalam memperkuat integrasi antara ilmu pengetahuan dan praktik keagamaan.

“Kita ingin proses penentuan awal bulan hijriah semakin kuat secara metodologis, berbasis data dan sains, serta melibatkan pusat-pusat kajian keilmuan di kampus,” tuturnya.

Ia juga menekankan pentingnya keterbukaan informasi dan edukasi publik dalam isu falakiyah. Menurutnya, fasilitas seperti planetarium dapat menjadi sarana literasi keagamaan berbasis pengetahuan bagi masyarakat luas.

“Melalui fasilitas seperti planetarium, masyarakat dan mahasiswa bisa memahami proses pemantauan hilal secara lebih utuh. Ini bagian dari literasi keagamaan yang berbasis pengetahuan,” kata Menag.

Selain untuk rukyat hilal, planetarium dan observatorium ini juga dimanfaatkan sebagai ruang pengembangan kompetensi mahasiswa, mulai dari kemampuan observasi, analisis data, hingga pemodelan pergerakan benda langit.

Ke depan, Kementerian Agama berharap penguatan fasilitas serupa di lingkungan perguruan tinggi keagamaan terus dilakukan, agar proses penetapan awal bulan hijriah semakin ilmiah, terbuka, dan kredibel di mata publik.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)
aio

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top