Kuliah dari Beasiswa, Anak Penjual Es Raih IPK 3.98 dari UNY

Redaksi
0
Mahaiswa pemilik IPK Tertinggi UNY, Betran Yunior diapit kedua orangtuanya. Foto UNY.

EDUKASIA.ID - Di sebuah prosesi wisuda di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), nama Betran Yunior, S.I.Kom diumumkan sebagai lulusan dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tertinggi jenjang sarjana, 3,98. Pencapaian itu menempatkannya sebagai salah satu lulusan terbaik di kampusnya.

Ada perjalanan panjang Betran pemilik IPK tertinggi, dimulai dari keluarga sederhana di Palembang. Ayah dan ibunya, Zulkarnain dan Wanida, tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi.

Selain itu, untuk memenuhi kebutuhan hidup, ortu hebat tersebut pernah berjualan es teh di pinggir sekolah.

Dalam keterbatasan itu, orang tua Betran menanamkan satu prinsip yang terus dipegangnya hingga kini. “Tugasmu adalah belajar, biar pintar, tidak usah pikirkan yang lain,” pesan sang ayah, dilansir laman UNY.

Berbekal prinsip tersebut, Betran menempuh pendidikan di Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNY. Ia menyadari tidak memiliki banyak fasilitas.

Karena itu, ia memilih memaksimalkan proses belajar di kelas: aktif berdiskusi, mencermati penjelasan dosen, dan memastikan materi benar-benar dipahami.

“Keaktifan di kelas itu sangat membantu. Kalau kita sudah paham di kelas, waktu belajar di luar jadi lebih efisien,” tuturnya.

Pendekatan itu membantunya menjaga konsistensi akademik. Meski demikian, tantangan tetap ada. Mata kuliah Metodologi Penelitian sempat menjadi ujian tersendiri. Ia menghadapinya dengan memperbanyak diskusi dan bertanya langsung kepada dosen, lalu memperdalam materi melalui buku dan sumber belajar lainnya.

Perjalanan studinya juga ditopang beasiswa. Sejak SMA, ia telah merasakan pendidikan berbasis afirmasi melalui sekolah asrama tanpa biaya di Sumatra Selatan. Saat kuliah, ia memperoleh Beasiswa KIP-Kuliah. Bantuan tersebut membuatnya dapat fokus belajar tanpa membebani orang tua.

Datang ke Yogyakarta seorang diri pada awal masa kuliah menjadi pengalaman yang tidak mudah. Rasa asing sempat muncul. Namun, lingkungan pertemanan yang saling mendukung membantunya beradaptasi hingga menyelesaikan studi.

Wisuda menjadi momen penting karena ia merupakan sarjana pertama di keluarganya.

“Wisuda ini sangat berharga bagi saya dan keluarga. Ini membuktikan bahwa dengan niat dan tekad yang kuat, pendidikan tinggi bukanlah sesuatu yang mustahil,” ucapnya.

Ke depan, warga Kelurahan Duku, Kecamatan Ilir Timur Tiga, Kota Palembang itu bercita-cita meniti karier di industri kreatif. Selama kuliah, ia aktif mengikuti program magang dan kegiatan sukarelawan sebagai bekal memasuki dunia profesional.

Ia pun menyampaikan pesan kepada mahasiswa lain. “Duduk di bangku kuliah adalah sebuah privilese. Nikmati prosesnya, perbanyak teman, dan eksplor sebanyak mungkin pengalaman,” ujarnya.

Selamat, Betran!

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)
aio

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top