Generasi Muda Pilih Tunda Nikah, Ini Penjelasan Pakar UMY

Arifah
0
Guru Besar sekaligus dosen Program Studi Komunikasi dan Penyusunan Islam (KPI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Foto UMY.

Yogyakarta. EDUKASIA.ID – Fenomena menunda pernikahan di kalangan generasi muda makin terlihat dalam beberapa tahun terakhir.

Pernikahan yang dulu dianggap sebagai fase awal kedewasaan kini tak lagi jadi prioritas utama. Banyak anak muda memilih fokus pada pendidikan, karier, dan kesiapan finansial sebelum memutuskan menikah.

Guru Besar sekaligus dosen Program Studi Komunikasi dan Penyusunan Islam (KPI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Halim Purnomo, menyebut keputusan menunda menikah bukanlah sesuatu yang terjadi tanpa alasan.

Menurutnya, pernikahan bukan sekadar keputusan emosional, tetapi ibadah jangka panjang yang membutuhkan kesiapan menyeluruh.

“Pernikahan bukan perjalanan satu atau dua hari, melainkan perjalanan hidup. Karena itu diperlukan persiapan yang matang, bagaimana menyatukan dua pribadi dan dua keluarga yang berbeda agar dapat berjalan bersama serta meminimalkan risiko dalam rumah tangga,” jelas Halim, ditulis Rabu 25 Februari 2026.

Ia menilai generasi muda saat ini cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan besar. Termasuk dalam urusan mengakhiri masa lajang. Faktor kesiapan mental, kemantapan karier, dan stabilitas ekonomi menjadi pertimbangan utama.

Selain itu, Halim juga menyoroti kuatnya pengaruh faktor psikologis. Kekhawatiran terhadap komitmen dan kepercayaan antar pasangan disebut menjadi salah satu pemicu penundaan pernikahan yang sering tidak disadari.

"Ada yang merasa takut terhadap komitmen atau dalam istilah psikologi disebut gamophobia. Ada pula yang menyaksikan perceraian orang tuanya sehingga muncul kekhawatiran akan mengulangi pengalaman yang sama. Ketika rasa tidak percaya itu muncul, seseorang cenderung menunda pernikahan karena ingin benar-benar yakin bahwa pilihannya tepat," terangnya.

Tak hanya soal psikologis, pergeseran peran gender juga ikut memengaruhi pola pikir generasi muda. Perempuan kini lebih rasional dalam merancang masa depan dan banyak memilih memantapkan karier lebih dulu sebelum menikah. Sementara itu, laki-laki juga menghadapi tekanan sosial untuk memiliki kestabilan ekonomi sebagai penopang keluarga.

Penundaan ini, lanjut Halim, sering kali bukan bentuk penolakan terhadap pernikahan, melainkan upaya meminimalkan risiko masalah setelah menikah. Generasi muda ingin memastikan kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, papan, hingga pendidikan anak di masa depan bisa terpenuhi.

Meski begitu, ia mengingatkan bahwa kesiapan tidak selalu berarti harus menunggu kondisi serba sempurna.

Karena itu, Halim menekankan pentingnya edukasi kesiapan menikah yang bersifat membangun, bukan memaksa. Generasi muda perlu dibekali pemahaman utuh tentang makna, tanggung jawab, dan realitas kehidupan rumah tangga.

“Generasi muda perlu banyak berkonsultasi dengan orang-orang yang lebih berpengalaman. Belajar tidak hanya dari bangku kuliah, tapi juga dari pengalaman orang lain. Dengan berpikir dan memperoleh perspektif yang lebih luas, seseorang akan lebih mantap dalam mengambil keputusan. Menikah adalah ibadah sepanjang hayat yang melibatkan banyak pihak, sehingga keputusan itu harus diambil dengan kesiapan, bukan dengan ketakutan,” tegas Prof. Halim.

Di tengah dinamika zaman, pernikahan bagi generasi muda kini bukan lagi soal cepat atau lambat, tetapi soal kesiapan yang matang — secara mental, emosional, sosial, dan finansial.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)
aio

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top