Perjuangan Sofyan, Anak Penjual Sego Pecel Raih Gelar Doktor di UIN Walisongo

Redaksi
0
M. Sofyan Anashr berhasil meraih doktor dalam  ujian promosi di Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Senin, 22 Juni 2026. Foto ist.

Semarang. EDUKASIA.ID – Aroma sego (nasi) pecel sejak dini hari menjadi bagian dari masa kecil M. Sofyan Anashr, mahasiswa Prodi Studi Islam Pascasarjana UIN Walisongo Semarang yang telah melewati ujian promosi terbuka pada Senin (22/6/2026).

Di balik gelar doktor konsentrasi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah yang kini disandangnya, Sofyan menyimpan kisah panjang perjuangan orang tua yang bekerja keras demi pendidikan anak-anaknya.

"Menjadi doktor hampir tidak terbesit dalam benak saya karena sadar diri berasal dari keluarga sederhana dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan," ungkap Sofyan.

Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara pasangan Shofi'i dan Isrofi' dari Bangsri, Jepara. Saat masih kecil, ayahnya bekerja sebagai kondektur angkutan jurusan Bangsri-Tayu, sedangkan ibunya berjualan ala kadarnya di rumah.

Meski hidup serba sederhana, kedua orang tuanya memiliki perhatian besar terhadap pendidikan anak-anaknya. Nilai itulah yang terus tertanam dalam diri Sofyan hingga dewasa.

Kondisi keluarga semakin berat ketika krisis ekonomi 1998 melanda. Ayahnya kehilangan pekerjaan sebagai kenek angkutan dan beralih menjadi tukang becak di Pasar Bangsri. Sesekali ia juga menerima pekerjaan sebagai teknisi listrik dan diesel saat ada hajatan warga.

Sementara itu, sang ibu terus berusaha menopang ekonomi keluarga dengan berbagai cara. Ia pernah berjualan gorengan di Pasar Krasak, membuka warung kecil di rumah, hingga akhirnya menekuni usaha berjualan sego pecel untuk sarapan.

Bagi Sofyan, perjuangan ibunya masih sangat membekas dalam ingatan. Hampir setiap malam, sang ibu menyiapkan berbagai kebutuhan dagangan untuk esok hari.

Malam hari digunakan untuk meracik bumbu dan menyiapkan bahan. Ketika sebagian besar warga masih terlelap, ibunya sudah bangun untuk mulai memasak sebelum berjualan pada pagi hari.

Rutinitas itu berlangsung bertahun-tahun demi membantu biaya hidup dan pendidikan anak-anaknya.

"Ketika tahu saya diterima di PAI, ibu mengatakan memang sejak dulu cita-cita saya menjadi guru. Entah kapan saya pernah mengatakan itu, saya sendiri lupa, tetapi ibu sering mengingatkannya," tutur Sofyan.

Perjuangan kedua orang tuanya membuat Sofyan bertekad menjadikan pendidikan sebagai jalan hidup. Namun jalan itu tidak selalu mudah.

Setelah lulus dari SMA Negeri 1 Bangsri, ia sempat berhenti selama satu tahun. Untuk membantu kebutuhan pribadi dan keluarga, ia bekerja serabutan sebagai tukang cuci motor, penjaga diesel, dan pekerjaan lain yang bisa dilakukan.

Suatu ketika ia sowan kepada seorang guru. Nasihat sederhana yang diterimanya terus melekat hingga sekarang.

"Duit iku nomer pitulikur, seng penting niatmu tenanan," kenangnya.

Pesan itu menguatkan langkahnya saat melanjutkan studi di Jurusan Pendidikan Agama Islam IAIN Walisongo Semarang pada 2005.

Selama kuliah, Sofyan berusaha tidak membebani orang tuanya. Ia aktif di pers mahasiswa, organisasi kemahasiswaan, menulis artikel di media lokal, hingga menjadi relawan berbagai kegiatan penelitian dan survei.

Di tengah kesibukan tersebut, ia juga terus mengingat pesan sang ayah.

"Jangan lupa shalat dan ngaji, we siku wae cekelono," pesan ayahnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Sofyan kembali mengambil keputusan yang menurutnya cukup nekat. Ia melanjutkan studi magister di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta meski kondisi ekonomi masih terbatas.

Bahkan pada semester kedua, ia menikah dengan Arif Nadliroh yang berprofesi sebagai guru madrasah di Kabupaten Pati. Perjalanan Pati-Semarang-Yogyakarta menjadi bagian dari kesehariannya selama menempuh studi.

Ia berhasil menyelesaikan pendidikan magister pada 2014. Setahun kemudian, ia memilih mengabdikan diri sebagai dosen di Institut Pesantren Mathali'ul Falah (IPMAFA) Pati.

Langkah nekat kembali diambil pada 2022 ketika ia mendaftar Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) Kementerian Agama dan LPDP untuk melanjutkan studi doktor. Saat itu, waktu pendaftaran tinggal beberapa hari lagi.

"Sampai akhirnya suatu malam saya bercerita kepada istri tentang beasiswa S3 dari Kemenag. Justru istri yang mendorong saya untuk ikut. Besoknya saya langsung ke Semarang melengkapi semua persyaratan," ujarnya.

Keputusan tersebut akhirnya mengantarkannya menjadi mahasiswa doktoral UIN Walisongo hingga berhasil menyelesaikan studi pada 2026.

Bagi Sofyan, gelar doktor yang diraihnya bukan semata hasil kerja keras pribadi. Ia meyakini ada doa dan keyakinan orang tua yang terus mengiringi perjalanan hidupnya.

"Saya merasa gelar doktor ini karena keramat ibu yang sejak dulu yakin saya akan menjadi guru, dan ketekunan bapak yang mengajari saya sejak kecil," katanya.

Saat promosi doktor berlangsung, kedua orang tuanya telah berpulang. Namun Sofyan percaya, doa yang mereka tanamkan sejak dulu tetap menjadi bagian penting dari keberhasilannya hari ini.

"Saat promosi doktor, keduanya memang tidak bisa mendampingi. Tetapi saya meyakini bapak dan ibu selalu menyaksikan serta menemani," pungkasnya.

Tawarkan Model FITRAH untuk Pendidikan Karakter


Gelar doktor tersebut diraih Sofyan setelah mempertahankan disertasi berjudul "Konstruksi Model Pendidikan Karakter Fitrah pada Madrasah Ibtidaiyah Berbasis Pesantren: Studi di MI Mathali'ul Falah Kajen dan MI Tahfidzul Qur'an Raudlatul Falah Bermi."

Penelitian itu berangkat dari keprihatinan terhadap meningkatnya degradasi moral pada anak usia sekolah dasar.

Menurut Sofyan, madrasah berbasis pesantren memiliki praktik pendidikan karakter yang khas dan relevan untuk menjawab tantangan tersebut.

Melalui penelitian di MI Mathali'ul Falah Kajen dan MI Tahfidzul Qur'an Raudlatul Falah Bermi, ia menemukan dua model pendidikan karakter yang berkembang di masing-masing lembaga.

Sedangkan di MI Mathali'ul Falah berkembang model karakter Åžalih Akram, sedangkan di MITQ Raudlatul Falah diterapkan model Bersama-Qu yang menekankan nilai bertakwa, santun, maju, dan Qur'ani.

"Dari praktik kedua madrasah tersebut saya mengonstruksi model pendidikan karakter FITRAH, yakni Fundamental, Integratif, Transendental, Rahmah, dan Holistik," jelasnya.

Model FITRAH bertumpu pada pandangan bahwa setiap anak memiliki fitrah atau potensi kebaikan yang harus ditumbuhkan melalui pendidikan.

Karakter yang dikembangkan meliputi religiusitas, integritas, disiplin, sopan santun, serta kecintaan terhadap ilmu.

Menurut Sofyan, pembentukan karakter tidak cukup dilakukan melalui pembelajaran di kelas. Karakter perlu dibangun melalui integrasi kurikulum, budaya madrasah, keteladanan guru, hafalan, riyadhah, serta hubungan batiniah antara guru dan murid.

Penelitian tersebut juga merekomendasikan agar kompetensi spiritual guru mendapat perhatian lebih dalam kebijakan pengembangan profesi guru, terutama pada lembaga pendidikan berbasis pesantren.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top