Kisah Ocha, Lulus TK dengan Doa Ayah yang Tak Sempat Mengantar

Redaksi
0
Ocha bersama sang ibu, Bu Aas, usai mengikuti Haflah Akhirussanah KBRA Masjid Al-Azhar Permata Puri Ngaliyan, Sabtu 20 Juni 2026. Foto ist.

Semarang, EDUKASIA.ID - Di antara rangkaian Haflah Akhirussanah KBRA Masjid Al-Azhar Permata Puri Ngaliyan, Sabtu 20 Juni 2026, terselip kisah perjalanan Amrina Rosyada Sutrisno atau Ocha. Di balik toga kecilnya, ada cerita tentang tumbuh kembang seorang anak yang sejak bayi harus berpisah dengan ayahnya.

Ocha lahir pada 6 September 2020. Namun, kebersamaan dengan ayahnya tidak berlangsung lama. Saat usianya baru enam bulan, sang ayah, Sutrisno bin Sarwi, wafat karena serangan jantung mendadak pada 23 Maret 2021.
Sutrisno dikenal sebagai sosok yang taat dan memiliki perhatian besar terhadap pendidikan anaknya. Keluarga masih mengingat harapannya agar Ocha tumbuh di lingkungan pendidikan Islam yang baik.

“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un,” menjadi kalimat yang mengiringi kepergian sang ayah.

Saat itu Ocha masih terlalu kecil untuk memahami kehilangan. Ia hanya merasakan bahwa sosok yang biasanya hadir dalam kesehariannya tidak lagi menemaninya.

Sejak saat itu, ibunya, Bu Aas, menjadi sosok utama dalam kehidupan Ocha. Sebagai guru RA Al-Azhar Permata Puri, Bu Aas menjalani peran ganda. Mengajar anak-anak di sekolah, sekaligus memastikan putrinya tetap tumbuh dengan perhatian dan kasih sayang.

Dalam perjalanan itu, keluarga ikut membersamai Ocha. Bude Tanti dan Pakde Manto turut hadir mengisi ruang kasih sayang yang dibutuhkan seorang anak.

Salah satu keluarga yang mengikuti perjalanan tumbuh Ocha, Ismail, mengaku terharu melihat putri kecil itu kini telah menyelesaikan pendidikan TK B.

Ia melihat sendiri bagaimana Ocha tumbuh menjadi anak yang ceria. Kehadiran keluarga dan lingkungan pendidikan membuat Ocha tetap mendapatkan pendampingan meski sejak bayi tidak bersama ayahnya.

“Anak ini tumbuh dengan kasih sayang. Kehilangan ayah, tapi tetap punya banyak orang yang menyayangi,” ucap Ismail yang oleh Ocha dipanggil Mbah Ismail.

Waktu berlalu hingga tiba hari kelulusan.

Toga yang dikenakan Ocha terlihat sedikit besar di tubuh mungilnya. Hari itu menjadi penanda ia menyelesaikan satu tahap pendidikan dan bersiap melanjutkan ke jenjang berikutnya.

Ocha akan melanjutkan pendidikan ke MI Miftahul Akhlaqiyah Beringin, sekolah yang ia sebut sebagai sekolah idola.

Bagi keluarga, pilihan itu terasa istimewa. Sebab sekolah tersebut menjadi bagian dari harapan pendidikan yang dulu ingin diwujudkan sang ayah.

Di antara keluarga yang hadir, Ismail tidak mampu menahan haru. Ia melihat Ocha beberapa kali menoleh ke arah ibunya, seperti mencari sosok ayah yang tidak lagi duduk di sampingnya.

Ocha pernah mengungkapkan kerinduannya kepada sang ayah dalam sebuah percakapan dengan gurunya.

“Bu... kenapa Ayahku pulang duluan? Aku kangen diajak ke masjid sama Ayah,” ucapnya.

Kalimat sederhana itu membuat orang dewasa yang mendengarnya terdiam. Anak sekecil itu sudah mengenal rasa kehilangan.

Namun Ocha terus tumbuh dengan bekal agama dan pendidikan. Para guru di KBRA Al-Azhar Permata Puri menanamkan nilai akhlak dan doa sejak dini.

Ia memahami bahwa ayahnya tetap ada dalam doa.

Pada momen kelulusan, ketika anak-anak diminta mendoakan orang tua, Ocha ikut melantunkan doa.

“Allahummaghfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira.”

Doa itu menjadi momen yang menyentuh bagi keluarga yang hadir. Sang ibu menahan haru, sementara keluarga ikut mengaminkan.

Menurut Ismail, kisah Ocha menjadi pengingat bahwa kehilangan bukan berarti seorang anak kehilangan masa depan.

Dijelaskannya, neneknya, mbah Kusdari, sangat gembira mendengar sang cucu lulus TK B meskipun tidak bisa menyaksikan langsung dan mendoakan semoga jadi cucu Sholehah.

Dengan dukungan ibu, keluarga, dan para guru, Ocha tetap tumbuh dengan cinta dan pendidikan.

Kini Ocha melangkah ke jenjang berikutnya dengan dukungan ibu, keluarga, dan para guru. Doa untuk ayahnya tetap menjadi bagian dari perjalanan kecilnya.
Tags

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top