Ayub Wahyudin berfoto bersama kelurahan SMA kolega usai menjalani ujian promosi doktor di UIN Walisongo Semarang, Rabu, 17 Juni 2026.
Semarang. EDUKASIA.ID – Menjadi doktor bukanlah impian yang pernah direncanakan Ayub Wahyudin. Saat merantau untuk kuliah S2, ia lebih sering memikirkan bagaimana bertahan hidup di kota orang daripada membayangkan gelar akademik tertinggi.
Dosen yang juga terlibat dalam usaha perdagangan kue kering itu kini menapaki jenjang akademik tertinggi. Pada Rabu 17 Juni 2026, Ayub menjalani ujian promosi doktor di UIN Walisongo Semarang.
Jalan menuju titik itu tidak selalu mudah. Ayub pernah menggadaikan laptop yang menjadi alat utama untuk belajar dan menulis. Saat menyelesaikan studi S2 itu, aa juga sempat bermalam di masjid ketika belum memiliki tempat berteduh.
“Pada masa-masa itu, tidak pernah terbayang dalam benak saya bahwa suatu hari akan melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktor,” ungkapnya.
Meski bisa meminta bantuan keluarga, Ayub memilih menyimpan sebagian kesulitannya sendiri. Ia merasa perlu memiliki ruang perjuangan untuk belajar bertahan dan bertanggung jawab atas pilihan hidupnya.
Kesempatan menempuh studi doktor datang melalui Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB). Bagi Ayub, kesempatan tersebut membuka jalan yang dulu terasa sangat jauh untuk dijangkau.
Ujian promosi itu menjadi penanda berakhirnya perjalanan panjang yang pernah nyaris tak terbayangkan olehnya. Di hadapan tim penguji, Ayub mempertahankan disertasi berjudul Otoritas Keagamaan Elite Lokal Komunitas Tarekat Syadiliyah (Studi Etnografi Garis Sanad dan Nasab).
Melalui penelitian etnografi, ia mengkaji kontestasi otoritas keagamaan dalam komunitas Tarekat Syadiliyah, khususnya hubungan antara sanad atau transmisi keilmuan-spiritual dan nasab atau garis keturunan sebagai sumber legitimasi keagamaan.
Penelitian tersebut menemukan bahwa forum-forum keagamaan seperti nariyahan, sholawatan, baiat, dzikir, dan komunitas muhibbin tidak hanya menjadi ruang ritual, tetapi juga menjadi arena pembentukan otoritas keagamaan di tingkat lokal.
Ayub menemukan adanya dua model pewarisan otoritas yang berkembang di tengah komunitas. Pertama, model genealogis yang bertumpu pada garis keturunan. Kedua, model etis-komunal yang dibangun melalui kedekatan sosial, transmisi keilmuan, dan pengabdian spiritual.
Menurutnya, sanad dalam praktik keagamaan lokal tidak lagi dipahami semata sebagai jalur transmisi ilmu. Sanad juga berkembang menjadi sumber legitimasi kultural bagi kiai kampung dan jaringan Islam lokal.
Salah satu temuan yang ditawarkan dalam disertasinya adalah konsep “karisma genealogis terbalik”. Konsep ini menjelaskan pergeseran pengakuan masyarakat dari elite berbasis nasab menuju tokoh lokal yang memperoleh legitimasi melalui pelayanan spiritual dan kedekatan sosial.
“Temuan ini menunjukkan bahwa karisma tidak bersifat inheren maupun statis, tetapi dikonstruksi, dinegosiasikan, dan dibentuk secara sosial melalui pengakuan komunitas,” jelasnya.
Selain mengajar sebagai dosen, Ayub juga terlibat dalam usaha perdagangan kue kering. Karena itu, ia kerap mendapat pertanyaan mengenai pilihannya melanjutkan studi hingga jenjang doktor.
Namun, baginya pendidikan dan dunia usaha tidak perlu dipertentangkan. Pendidikan bukan sekadar jalan memperoleh gelar, melainkan sarana memperluas cara pandang dan memperkaya pengalaman hidup.
“Belajar adalah bentuk ikhtiar untuk menjadi manusia yang lebih baik. Selama seseorang masih memiliki kerendahan hati untuk bertanya dan keberanian untuk terus bertumbuh, proses belajar tidak pernah menemukan titik akhirnya,” tuturnya.
Di akhir ujian promosinya, Ayub menyampaikan terima kasih kepada kedua orang tua, istri, keluarga, promotor, kopromotor, dosen, serta seluruh pihak yang mendukung perjalanan studinya.
“Jika hari ini saya sampai pada titik ini, sesungguhnya saya berdiri di atas begitu banyak tangan yang pernah menguatkan, begitu banyak doa yang diam-diam dipanjatkan, dan begitu banyak kebaikan yang telah mengiringi perjalanan saya,” pungkasnya.





Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.