Syariful Anam (tengah) berfoto bersama rekan-rekan kuliahnya usai pengukuhan dan dinyatakan lulus doktor di UIN Walisongo Semarang, Jumat 12 Juni 2026. Foto Ist.
Semarang, EDUKASIA.ID - Tradisi pesantren dan dunia akademik sering kali dianggap dua dunia yang berbeda. Namun, Syariful Anam mampu membuktikan bahwa keduanya bisa bersinergi.
Jumat 12 Juni 2026, ia resmi menyandang gelar doktor setelah menuntaskan ujian promosi di UIN Walisongo Semarang, dengan predikat cumlaude
Bagi Anam, gelar ini adalah buah dari perjalanan panjang yang berakar di bilik pesantren. Masa mudanya ia habiskan di Madrasah Tasywiqut Thullab Salafiyah (TBS) dan Pondok Pesantren Raudhotul Muta'allimin, Kudus.
Di sana, ia ditempa bukan hanya untuk menguasai teks, tapi juga untuk memahami hakikat ilmu.
“Pesantren mengajarkan saya bahwa belajar itu bukan soal ijazah, tapi perjalanan seumur hidup untuk mencari rida Tuhan,” ungkap Anam, usai dikukuhkan sebagai doktor.
Keteguhan itu ia bawa saat menempuh pendidikan S1 Tafsir Hadis di IAIN Walisongo (lulus 2010).
Meski sempat bekerja di madrasah swasta di Kudus, semangatnya untuk terus belajar tidak surut. Ia kemudian menuntaskan studi S2 konsentrasi Tasawuf pada 2015.
Di sela kesibukannya sebagai dosen, Anam tetap aktif mengajar di berbagai pesantren. Baginya, menjadi akademisi tak boleh membuat seseorang tercerabut dari akarnya.
“Justru saat mengajar di pesantren, saya menemukan energi baru. Ilmu tasawuf yang saya pelajari secara akademik akan terasa hambar tanpa bersentuhan langsung dengan kehidupan santri di lapangan,” tuturnya dengan rendah hati.
Karier akademiknya menanjak saat ia resmi menjadi dosen ASN pada 2019. Ketertarikannya pada tasawuf membawanya meraih beasiswa dari program Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) LPDP-Kementerian Agama pada 2022.
Pilihan disertasinya pun menarik, "Kebahagiaan Menurut Para Mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) di Jawa Tengah.”
Anam tidak sekadar meneliti teks. Ia terjun langsung menelaah bagaimana para mursyid memaknai kebahagiaan di tengah kompleksitas zaman.
Baginya, ini adalah upaya membumikan tasawuf untuk masyarakat modern.
“Di era yang serba cepat ini, manusia sering lupa bahwa kebahagiaan sejati bukan terletak pada materi, melainkan pada ketenangan batin yang dibimbing tuntunan spiritual yang benar,” pungkasnya.
Di sana, ia ditempa bukan hanya untuk menguasai teks, tapi juga untuk memahami hakikat ilmu.
“Pesantren mengajarkan saya bahwa belajar itu bukan soal ijazah, tapi perjalanan seumur hidup untuk mencari rida Tuhan,” ungkap Anam, usai dikukuhkan sebagai doktor.
Keteguhan itu ia bawa saat menempuh pendidikan S1 Tafsir Hadis di IAIN Walisongo (lulus 2010).
Meski sempat bekerja di madrasah swasta di Kudus, semangatnya untuk terus belajar tidak surut. Ia kemudian menuntaskan studi S2 konsentrasi Tasawuf pada 2015.
Di sela kesibukannya sebagai dosen, Anam tetap aktif mengajar di berbagai pesantren. Baginya, menjadi akademisi tak boleh membuat seseorang tercerabut dari akarnya.
“Justru saat mengajar di pesantren, saya menemukan energi baru. Ilmu tasawuf yang saya pelajari secara akademik akan terasa hambar tanpa bersentuhan langsung dengan kehidupan santri di lapangan,” tuturnya dengan rendah hati.
Karier akademiknya menanjak saat ia resmi menjadi dosen ASN pada 2019. Ketertarikannya pada tasawuf membawanya meraih beasiswa dari program Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) LPDP-Kementerian Agama pada 2022.
Pilihan disertasinya pun menarik, "Kebahagiaan Menurut Para Mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) di Jawa Tengah.”
Anam tidak sekadar meneliti teks. Ia terjun langsung menelaah bagaimana para mursyid memaknai kebahagiaan di tengah kompleksitas zaman.
Baginya, ini adalah upaya membumikan tasawuf untuk masyarakat modern.
“Di era yang serba cepat ini, manusia sering lupa bahwa kebahagiaan sejati bukan terletak pada materi, melainkan pada ketenangan batin yang dibimbing tuntunan spiritual yang benar,” pungkasnya.





Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.