Benarkah Lulusan UIN/IAIN Kurang Kompetitif di Dunia Kerja?

Arifah
0
Ilustrasi. Foto Freepik.

Jakarta. EDUKASIA.ID - Stigma bahwa lulusan UIN/IAIN sulit mendapatkan pekerjaan kembali mencuat menjelang pengumuman SPAN-PTKIN dan SNBP (Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi) akhir pekan ini.

Anggapan bahwa lulusan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) kurang kompetitif dibanding perguruan tinggi umum pun kembali jadi perbincangan.

M. Ishom el Saha Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin, Banten menilai bahwa isu tersebut dinilai perlu dilihat secara lebih objektif. Sebab, data menunjukkan gambaran yang berbeda dari persepsi yang berkembang di masyarakat.

Kementerian Agama mencatat tingkat serapan kerja alumni PTKIN mencapai 95,1 persen. Angka ini bahkan sedikit lebih tinggi dibandingkan lulusan perguruan tinggi umum yang berada di 94,5 persen (detik.com, 17 Desember 2025). Data ini menunjukkan lulusan UIN/IAIN secara umum tetap memiliki daya saing di dunia kerja.

Meski demikian, persoalan serapan kerja lulusan perguruan tinggi tidak bisa dilihat secara sederhana. Pemerintah sebelumnya juga mengakui bahwa porsi tenaga kerja lulusan perguruan tinggi di Indonesia masih relatif kecil dibandingkan total angkatan kerja nasional (Media Indonesia, 2 Juni 2021). Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan ketenagakerjaan bersifat struktural dan tidak hanya dialami lulusan PTKIN.

Sejumlah laporan juga menyoroti adanya ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dan kebutuhan industri. Fenomena ini dikenal sebagai skills mismatch, yakni kesenjangan antara dunia pendidikan dan dunia kerja (Pikiran Rakyat, 19 Juli 2017).

Dalam konteks tersebut, anggapan bahwa lulusan UIN/IAIN “tidak siap kerja” dinilai sebagai penyederhanaan masalah. Persoalan utama disebut bukan terletak pada asal kampus, melainkan pada kemampuan adaptasi terhadap kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang.

Secara karakter keilmuan, sebagian program studi di UIN/IAIN memang masih fokus pada studi keislaman. Hal ini membuat pasar kerja lulusan cenderung lebih spesifik dibandingkan jurusan umum seperti teknik atau bisnis.
 
Namun peluang kerja tetap terbuka di berbagai sektor, mulai dari pendidikan, keuangan syariah, pemerintahan, hingga industri kreatif dan media.

Transformasi sejumlah IAIN menjadi UIN juga ikut memperluas bidang studi ke arah sains, teknologi, dan ekonomi. Perubahan ini dinilai memperkuat daya saing lulusan agar lebih fleksibel menghadapi kebutuhan pasar kerja.

Selain faktor kampus, pengalaman individu juga menjadi penentu penting dalam dunia kerja. Pengalaman organisasi, magang, jejaring profesional, hingga penguasaan keterampilan digital disebut memiliki peran besar dalam meningkatkan peluang kerja lulusan.

Karena itu, stigma terhadap lulusan UIN/IAIN dinilai tidak lagi relevan. Penilaian terhadap lulusan seharusnya tidak hanya bertumpu pada label institusi, tetapi pada kompetensi dan kemampuan individu secara menyeluruh.

Di sisi lain, tantangan utama yang lebih luas justru terletak pada kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri. Selama persoalan tersebut belum teratasi, isu sulitnya lulusan perguruan tinggi mendapatkan pekerjaan diperkirakan masih akan terus muncul.

Adapun dapat disimpulkan bahwa lulusan UIN/IAIN sulit bekerja dinilai tidak tepat, karena persoalan ketenagakerjaan merupakan tantangan bersama seluruh perguruan tinggi di Indonesia.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)
aio

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top