Miftahul Ikhsan, Alumni UIN Saizu yang Sukses Jadi Petani Cabai

Arifah
0

Miftahul Ikhsan, alumni tahun 2024 Program Studi Sejarah Peradaban Islam (SPI), Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Humaniora Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto

Purwokerto. EDUKASIA.ID - Kisah inspiratif datang dari Miftahul Ikhsan, alumni tahun 2024 Program Studi Sejarah Peradaban Islam (SPI), Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Humaniora Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto.

Ia kini sukses menekuni usaha di sektor pertanian sebagai petani cabai rawit.

Ikhsan tidak langsung masuk ke dunia kerja kantoran atau akademik seperti anggapan sebagian orang terhadap lulusan humaniora. Berbekal ilmu selama kuliah, terutama mata kuliah kewirausahaan, ia justru memilih terjun ke dunia usaha.

Menurut Ikhsan, materi entrepreneurship yang didapat di bangku kuliah menjadi bekal penting dalam membangun usaha yang kini ia jalani. Ia mengelola lahan sekitar 100 ubin untuk budidaya cabai rawit dengan pendekatan bisnis yang terukur.

Dengan modal awal sekitar Rp8 juta, berbagai kebutuhan produksi dapat terpenuhi, mulai dari pembelian pupuk, obat-obatan, hingga pembuatan bedengan. 

Dalam waktu sekitar tiga bulan setelah tanam, tanaman cabai sudah mulai memasuki masa panen.

Ia menjelaskan, keunggulan budidaya cabai rawit terletak pada masa panen yang bisa dilakukan berulang kali. Dalam satu periode tanam, panen tidak hanya terjadi sekali, tetapi bisa berkali-kali sesuai produktivitas tanaman.

“Sekali petik di lahan 100 ubin bisa menghasilkan antara 50 kilogram sampai lebih dari 1 kuintal cabai rawit,” ujar Ikhsan, dikutip dari laman UIN Saizu, Jumat 27 Maret 2026.

Ia menambahkan, panen dapat dilakukan setiap lima hari sekali. Pada fase buah pertama, panen bisa berlangsung hingga 15 kali petikan, sementara pada fase berikutnya bisa mencapai 20 kali selama tanaman masih produktif.

Dari sisi harga, cabai rawit dikenal cukup fluktuatif. Dalam kondisi normal, harga berada di kisaran Rp50.000 per kilogram. Namun, pada momen tertentu seperti menjelang Tahun Baru dan Hari Raya Idulfitri, harga dapat melonjak hingga Rp150.000 per kilogram.

Kondisi ini menurutnya membuka peluang keuntungan besar bagi petani, terutama jika mampu mengatur waktu tanam agar masa panen bertepatan dengan harga tinggi di pasar.

Keberhasilan Ikhsan menjadi bukti bahwa latar belakang pendidikan tidak membatasi peluang seseorang untuk sukses di bidang lain.

Ia berharap kisahnya bisa menjadi inspirasi bagi mahasiswa dan generasi muda untuk berani mencoba dunia usaha, termasuk sektor pertanian.

“Jangan takut memulai. Ilmu dari kampus itu sangat bisa diterapkan, tinggal bagaimana kita berani mencoba,” pesannya.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)
aio

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top