EDUKASIA.ID - Di Kabupaten Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur, angka kemiskinan masih tinggi.
Badan Pusat Statistik mencatat, pada 2024 angkanya mencapai 30,84 persen dan hanya turun 0,94 persen dari tahun sebelumnya. Kondisi ini menjadikan wilayah tersebut sebagai kabupaten termiskin di NTT.
Situasi itu berdampak pada banyak hal, mulai dari rendahnya akses pendidikan, persoalan kesehatan, hingga kerentanan keluarga. Tak sedikit anak tumbuh tanpa perlindungan sosial yang memadai.
Di tengah kondisi tersebut, Rambu Asana hadir membawa perubahan lewat jalur pendidikan. Perempuan asal Sumba Tengah ini memilih pulang ke kampung halamannya setelah menempuh studi di luar negeri
“Ilmu saya bukan cuma jadi uang, tapi juga jadi makna buat orang lain," Ujarnya.
Rambu merupakan penerima beasiswa LPDP jalur afirmasi dan sempat menempuh studi Magister Social Policy di University of Melbourne, Australia. Namun ia memutuskan kembali ke Sumba dan mulai membangun gerakan pendidikan dari bawah.
Ia mendirikan komunitas belajar yang kemudian berkembang menjadi Yayasan Naka Edukasi Nusantara atau Naka Education. Awalnya, kegiatan ini muncul saat pandemi COVID-19, ketika banyak anak kesulitan mengikuti pembelajaran jarak jauh.
“Saya bikin empat sesi kelas. Dalam ruangan besar itu saya mengajar kurang dari 10 anak. Saya mengajarkan bahasa Inggris, IPA, dan Matematika," lanjutnya.
Dalam perjalanannya, komunitas itu berkembang pesat. Kini Naka Education memiliki belasan pengajar dan menjangkau ratusan siswa.
“Sekarang sudah 12 orang pengajar… total tim kami ada 14 orang,” kata Rambu.
Programnya tak hanya bimbingan belajar, tetapi juga pelatihan kerja, kelas TOEFL dan IELTS, hingga pelatihan digital bekerja sama dengan lembaga internasional.
“Saya selalu percaya bahwa kemiskinan itu mampu untuk kita eradicate. Salah satu yang besar pengaruhnya dari pendidikan,” katanya.
Rambu memahami persoalan di daerahnya karena ia tumbuh langsung di lingkungan tersebut. Sejak kecil, ia hidup di panti asuhan di bawah Yayasan Binar Asa Sumba, tempat ibunya mengabdi sebagai guru dan relawan.
“Kalau saya balik ke daerah saya, saya hidup dan besar di daerah saya, saya ngerti apa yang terjadi,” katanya
Di panti itu, ia hidup bersama anak-anak dengan latar belakang rentan. Banyak dari mereka berasal dari keluarga yang tidak utuh atau tidak mampu memberikan pengasuhan layak
“Misalnya anaknya dititipkan ke omanya, lalu omanya meninggal dan anaknya tidak tahu harus ke mana,” jelas Rambu.
Kehidupan di panti berjalan sederhana. Bahkan, para pengasuh kerap harus menutup kebutuhan operasional dengan uang pribadi.
“Ibu saya dan satu pengasuh lain tidak dibayar sama sekali. Kadang malah mereka yang membayar uang lauk kalau sudah menipis,” kata Rambu.
Meski dalam keterbatasan, pendidikan tetap diperjuangkan. Rambu mengaku tidak pernah membayar biaya sekolah sejak SD hingga SMA karena ditopang beasiswa.
“Dari SD sampai SMA saya tidak pernah bayar uang sekolah… saya dihantar oleh beasiswa.”
Ia juga menyoroti kondisi umum di daerahnya, di mana banyak orang tua harus berutang demi pendidikan anak.
“Di sini itu rahasia umum bahwa orang-orang mampu menyekolahkan anaknya dengan meminjam dana, jadi menggadaikan SK kemudian meminjam dana pendidikan.”
Pengalaman itu membentuk cara pandangnya. Ia melanjutkan studi di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, kemudian aktif di berbagai organisasi sosial sebelum akhirnya melanjutkan studi ke luar negeri.
Kini, Rambu memilih kembali dan mengabdikan diri di tanah kelahirannya. Ia ingin kehadirannya memberi dampak nyata bagi masyarakat sekitar.
“Saya ingin mati dikenal… bukan dikenal karena banyak uang, tapi karena pernah ada dalam perjalanan hidupnya mereka,” katanya pelan.


.png)


Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.