Penuh Inspirasi, Biografi Prof Abdul Rohman, Dekan FITK UIN Walisongo

Redaksi
0
Prof. Dr. H. Abdul Rohman, M.Ag saat menjadi petugas haji. Foto ist.

Semarang. EDUKASIA.ID - Prof. Dr. H. Abdul Rohman, M.Ag. resmi dilantik sebagai Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Walisongo Semarang periode 2026- 2030 dalam pelantikan pejabat baru oleh Rektor Prof. Dr. Musahadi, M.Ag., di Auditorium 1 Kampus 1 UIN Walisongo, Selasa 7 April 2026.

Guru Besar di bidang Ilmu Pendidikan Islam tersebut mendapat amanah strategis di jajaran pimpinan baru. Namun, latar belakang hidupnya ternyata banyak inspirasi dan belum banyak diketahui publik.

Berikut biografi Prof. Dr. H. Abdul Rohman, M.Ag, Dekan UIN Walisongo Semarang:

Pemuda desa yang bercita-cita santri.


Prof Abdul Rohman lahir dan tumbuh di lingkungan desa di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Kehidupan masyarakat yang sederhana dengan latar belakang petani membentuk karakter awalnya. Pendidikan formal bukan prioritas utama, namun nilai-nilai keagamaan tertanam kuat.

“Dulu, rata-rata orang di kampung saya berhenti di tingkat sekolah dasar atau menengah. Tapi semangat beragama mereka luar biasa,” kenangnya, dilansir dari Majalah AULA NU.

Sejak kecil, ia hanya memiliki satu cita-cita: menjadi santri yang mampu membaca dan memahami kitab kuning. Tidak pernah terlintas dalam pikirannya untuk menjadi dosen, apalagi profesor.
Pilihan Berbeda dari Arus Utama

Keinginan menjadi santri sempat berbenturan dengan harapan orang tua yang menginginkan ia masuk sekolah umum agar menjadi guru. Namun, tekadnya tak goyah. Ia memilih jalur pendidikan agama, bahkan saat teman-temannya berlomba masuk SMA favorit.

Keputusan melanjutkan ke PGAN Lasem menjadi titik awal keseriusannya mendalami ilmu agama. Pilihan itu sempat membuat banyak orang heran, terlebih ia merupakan lulusan dengan nilai ujian tertinggi di SMP-nya.

“Banyak teman-teman mencari saya, heran kenapa tidak masuk SMA unggulan,” ujarnya.
Tekad Kuliah di Tengah Keterbatasan

Kuliah ekonomi pas-pasan, jadi wisudawan terbaik


Perjuangan sesungguhnya dimulai saat ia ingin melanjutkan kuliah. Keterbatasan ekonomi membuat orang tuanya sempat tidak mengizinkan.

Namun, dengan tekad kuat, ia tetap mendaftar ke IAIN Walisongo Semarang (kini UIN Walisongo). Untuk bertahan hidup, ia mengajar les privat dan mengaji.

“Kiriman dari orang tua tidak menentu, saya harus mandiri,” katanya.

Kerja kerasnya berbuah hasil. Ia mendapatkan Beasiswa Supersemar dan aktif di berbagai organisasi mahasiswa, mulai dari Senat Mahasiswa hingga PMII. Pengalaman organisasi itu membentuk karakter kepemimpinan dan kepeduliannya terhadap pendidikan.

Nasib membawanya ke arah yang tak pernah ia rencanakan. Lulus sebagai wisudawan terbaik pada 1993, ia mendapat kesempatan menjadi dosen tidak tetap.

Setahun kemudian, ia lolos CPNS dan resmi menjadi dosen tetap. Karier akademiknya terus berkembang, termasuk meraih beasiswa S2 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Sejak itu, kiprahnya meluas. Ia aktif dalam penelitian, pengembangan kurikulum, hingga menjadi asesor di BAN-PT sejak 2007 dan BAN-SM sejak 2015.

Khidmah di NU dan Pesantren Kyai Sholeh Darat Semarang


Selain di kampus, Prof Abdul Rohman juga aktif di organisasi keagamaan dan pengembangan pesantren. Ia menjadi Ketua Dewan Pengelola Pondok Pesantren Kyai Sholeh Darat di kawasan Ngaliyan, Semarang.

Pesantren ini mengusung model terpadu, memadukan sistem salaf dan modern. Santri tidak hanya belajar kitab, tetapi juga dibiasakan dengan bahasa Arab dan Inggris dalam keseharian.

“Modelnya blend, mengaji dan mengkaji. Ada pendalaman kitab sekaligus analisis dan studi kasus,” jelasnya.

Pesantren tersebut juga terintegrasi dengan MAK NU Kota Semarang, menjadikan sistem pendidikan berbasis boarding sebagai kekuatan utama.

Kini, dengan posisi barunya di lingkungan UIN Walisongo, Prof Abdul Rohman memikul tanggung jawab yang lebih besar. Bagi dia, pendidikan bukan sekadar capaian akademik, melainkan proses panjang untuk memberi manfaat.

Ia meyakini bahwa perjalanan hidup tidak pernah berdiri sendiri, melainkan dibentuk oleh lingkungan sosial dan budaya.

“Kesuksesan bukan akhir, tapi awal tanggung jawab yang lebih besar,” tuturnya.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)
aio

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top