Ilustrasi. Foto IG.
EDUKASIA.ID - Saya mengenal grup musik Perunggu secara tak sengaja, lewat unggahan Instagram Story beberapa musisi yang saya ikuti, salah satunya Iga Massardi dari Barasuara. Saat itu, Perunggu sedang ramai dibicarakan, khususnya di kalangan musisi independen dan pecinta musik alternatif.
Namun, rasa penasaran saya baru benar-benar muncul ketika menonton kanal YouTube Stand up comedian, Mukti Metronom yang menyebut dalam candanya, “Besok hari Senin. Kayak lagu Perunggu.” Kalimat itu entah mengapa menempel di kepala.
Mungkin karena terdengar biasa tapi penuh beban, seperti hari Senin itu sendiri. Sejak saat itulah saya mulai mengenal Perunggu lebih dekat, bukan hanya sebagai band, tapi sebagai pengalaman mendengarkan yang lebih dalam.
Lagu-Lagu yang Emosional dan Penuh Kehangatan
Lagu pertama yang saya dengar adalah “Pastikan Riuh Akhiri Malammu”. Di dalamnya ada lirik:
“Besok hari Senin, kutemani senyummu seperti kemarin.”
Setelah saya telusuri, lagu tersebut ternyata terinspirasi dari kisah hubungan Maulana Malik Ibrahim (vokalis Perunggu) dengan sang anak, Pram. Liriknya menghadirkan suasana penuh kasih dan harapan, seolah mengajak kita untuk menjadi pelindung bagi orang-orang terdekat, bahkan dalam rutinitas paling membosankan seperti hari Senin.
Lagu tersebut membuka pintu rasa. Dan dari situlah saya mulai menjelajahi lagu-lagu lainnya, hingga akhirnya bertemu dengan lagu yang paling menggugah sisi spiritual saya: “33x”
33x: Lagu Rock yang Penuh Spiritualitas
Dari judulnya saja, “33x” sudah menarik perhatian saya. Sebagai seorang yang berlatar belakang pendidikan pesantren, saya langsung teringat pada dzikir tahlil: subhanallah, alhamdulillah, Allahu akbar—yang masing-masing sering dibaca sebanyak 33 kali.
Saya sengaja mendengarkan lagu ini pertama kali tanpa membaca lirik, mencoba menangkap nuansa dan rasa yang ingin disampaikan. Setelahnya, saya membuka liriknya dan merasa seperti diajak berdialog dengan diri sendiri, terutama saat mendengar:
“Sebutlah Nama-Nya, tetap di Jalan-Nya,
Kelak kau mengingat, kau akan teringat.”
Kalimat ini langsung mengingatkan saya pada hadis riwayat Tirmidzi (Hadist Nomor 2516):
"Kenalilah Allah di saat senang, niscaya Dia akan mengenalmu di saat susah."
Bait-bait dalam lagu ini menjadi ruang kontemplasi. Ia tidak berkoar-koar tentang iman, tapi hadir dengan cara yang lembut dan reflektif—seolah menjadi doa yang dibisikkan lewat distorsi gitar dan dentuman drum.
Lagu Sebagai Dakwah Sunyi
Yang paling saya rasakan, Perunggu tidak menggurui. Lagu “33x” menyampaikan spiritualitas dengan cara yang tidak formal, tapi tulus dan mengakar. Ini mengingatkan saya bahwa dakwah tidak harus ceramah. Ia bisa hadir dalam bentuk seni, dalam bunyi, bahkan dalam keheningan batin setelah lagu selesai diputar.
Sebagai seseorang yang tumbuh dengan kitab-kitab kuning dan ceramah pengajian, saya justru menemukan napas baru dalam lagu ini. Ia membuat saya bertanya:
Seberapa sering kita benar-benar menyebut Nama-Nya?
Apakah kita hadir dalam setiap dzikir?
Apakah kita sungguh berjalan di Jalan-Nya, atau hanya sekadar rutinitas?
Menjadikan Musik Sebagai Medium Renungan
Lagu “33x” adalah contoh nyata bagaimana musik bisa menjadi zikir—bukan sekadar hiburan yang dinikmati telinga, tapi juga bahan perenungan yang meresap ke relung jiwa. Dalam dentuman ritme dan alunan gitar yang khas, terselip ajakan sunyi untuk kembali menyapa Tuhan.
Lagi, lagu ini tidak menggurui, tidak menawarkan solusi instan, tapi menghadirkan ruang kontemplasi yang lembut: bahwa iman bukan hanya dibutuhkan saat luka menganga, akan tetapi saat hidup terasa utuh dan baik-baik saja.
Justru di saat-saat lapang itulah, banyak dari kita lengah. Lupa bahwa kesadaran spiritual bukan hanya payung kala hujan, melainkan juga sinar penyejuk di hari yang cerah.
Melalui musiknya, Perunggu seperti ingin berkata bahwa Tuhan tidak hanya hadir dalam ruang ibadah, tetapi juga dalam jeda napas setelah bekerja, dalam kecemasan kecil menjelang tidur, atau bahkan dalam lagu yang mengalun saat kita menyusuri jalan pulang.
Maka, menyebut Nama-Nya bukan harus selalu dengan suara keras atau ritual formal, tapi bisa hadir lewat kesadaran kecil yang terus dirawat—sebuah bisikan yang jujur dari hati kepada Pencipta-Nya. Di titik ini saya semakin yakin: spiritualitas sejati tidak harus megah. Kadang, cukup satu lagu dan satu hati yang terbuka, maka percakapan dengan-Nya pun bisa terjadi—tanpa batas, tanpa waktu, tanpa pretensi.
Dan mungkin itulah kekuatan sejati dari lagu seperti “33x”—ia tidak menuntut pendengarnya untuk sempurna, tapi mengajak untuk hadir. Hadir secara utuh dalam kesadaran akan diri, akan dunia, dan akan Tuhan.
Karena pada akhirnya, hidup bukan soal seberapa sering kita jatuh, tapi seberapa dalam kita mampu kembali—kembali pada diri sendiri, dan pada Dia yang senantiasa memanggil kita dalam diam. Lewat musik, Perunggu menjahit jarak itu dengan lembut, menjadikan lagu bukan hanya ruang mendengar, tapi juga ruang untuk pulang.
Dari Lagu ke Langit
Dengan melihat hal ini, saya menyadari bahwa proses pertumbuhan musik dalam hidup saya bukanlah sesuatu yang instan, melainkan melalui berbagai tahap yang penuh makna.
Kini saya tak lagi memandang Perunggu hanya sebagai “grup rock pulang kantor.” Mereka adalah pengantar pulang bagi jiwa-jiwa yang lelah. Lagu-lagunya menjadi ruang aman bagi mereka yang ingin mendengar tanpa dihakimi, merasa tanpa dibebani.
Lagu “33x” bukan hanya tentang angka. Ia tentang doa yang sunyi, tentang pengingat bahwa kita masih bisa kembali menyebut Nama-Nya, bahkan lewat musik. Karena dalam hidup yang bising ini, barangkali satu-satunya hal yang masih bisa kita genggam adalah doa yang tak pernah usai.
Wallahu a`lam



.png)


Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.