dr. Istiqomah Katin, Sp.A., putri asal Bengkulu. Foto UGM.
dr. Istiqomah Katin, Sp.A., putri asal Bengkulu, mencuri perhatian dalam Wisuda Program Pascasarjana Periode III Tahun Akademik 2025/2026 sebagai lulusan dokter spesialis termuda.
Perempuan yang akrab disapa Isti itu lulus di usia 28 tahun 6 bulan. Capaian tersebut jauh di bawah rata-rata usia lulusan spesialis pada periode ini yang mencapai 34 tahun 5 bulan.
Di balik predikat tersebut, Isti mengaku tidak pernah menjadikannya sebagai target utama.
Perempuan yang akrab disapa Isti itu lulus di usia 28 tahun 6 bulan. Capaian tersebut jauh di bawah rata-rata usia lulusan spesialis pada periode ini yang mencapai 34 tahun 5 bulan.
Di balik predikat tersebut, Isti mengaku tidak pernah menjadikannya sebagai target utama.
“Saya tidak menyangka bisa menjadi lulusan termuda di periode ini, dan dari awal juga tidak pernah menargetkan ke arah sana. Berusaha konsisten saja di tiap prosesnya. Jadi ketika akhirnya mendapat predikat tersebut tentu sangat bersyukur,” ungkapnya.
Perjalanan akademiknya memang terbilang konsisten sejak usia muda. Isti mengikuti program akselerasi saat SMP dan SMA, kemudian menyelesaikan pendidikan dokter pada 2019.
Setelah sempat bekerja sebagai dokter umum sekaligus dosen di salah satu universitas negeri di Bengkulu, ia memutuskan melanjutkan pendidikan ke jenjang spesialis di UGM. “Tahun 2022 saya melanjutkan studi pendidikan dokter spesialis Ilmu Kesehatan Anak di FK-KMK UGM,” ujarnya, Jumat, 24 April 2026.
Ketertarikannya pada bidang kesehatan anak sudah tumbuh sejak awal. Selain itu, kebutuhan dokter spesialis anak di daerah asalnya menjadi motivasi kuat untuk mengambil bidang tersebut.
Selama menempuh studi, Isti mengikuti program double degree yang mengharuskannya menyusun dua tesis dengan fokus serupa, yakni di bidang neonatologi, khususnya terkait hiperbilirubinemia pada neonatus.
Perjalanan pendidikan spesialis yang dijalaninya tidak selalu mudah. Ia harus beradaptasi dengan tuntutan akademik dan tanggung jawab klinis yang jauh lebih intensif dibandingkan jenjang sebelumnya.
Perbedaan lingkungan dan budaya antara Bengkulu dan Yogyakarta juga menjadi tantangan tersendiri di awal masa studi. Namun, dukungan keluarga, teman sejawat, dan para supervisor menjadi faktor penting yang membantunya melewati berbagai tantangan tersebut.
Kepada mahasiswa yang masih berjuang menyelesaikan studi, Isti berpesan agar tetap menjaga konsistensi dan menikmati proses.
Perjalanan akademiknya memang terbilang konsisten sejak usia muda. Isti mengikuti program akselerasi saat SMP dan SMA, kemudian menyelesaikan pendidikan dokter pada 2019.
Setelah sempat bekerja sebagai dokter umum sekaligus dosen di salah satu universitas negeri di Bengkulu, ia memutuskan melanjutkan pendidikan ke jenjang spesialis di UGM. “Tahun 2022 saya melanjutkan studi pendidikan dokter spesialis Ilmu Kesehatan Anak di FK-KMK UGM,” ujarnya, Jumat, 24 April 2026.
Ketertarikannya pada bidang kesehatan anak sudah tumbuh sejak awal. Selain itu, kebutuhan dokter spesialis anak di daerah asalnya menjadi motivasi kuat untuk mengambil bidang tersebut.
Selama menempuh studi, Isti mengikuti program double degree yang mengharuskannya menyusun dua tesis dengan fokus serupa, yakni di bidang neonatologi, khususnya terkait hiperbilirubinemia pada neonatus.
Perjalanan pendidikan spesialis yang dijalaninya tidak selalu mudah. Ia harus beradaptasi dengan tuntutan akademik dan tanggung jawab klinis yang jauh lebih intensif dibandingkan jenjang sebelumnya.
Perbedaan lingkungan dan budaya antara Bengkulu dan Yogyakarta juga menjadi tantangan tersendiri di awal masa studi. Namun, dukungan keluarga, teman sejawat, dan para supervisor menjadi faktor penting yang membantunya melewati berbagai tantangan tersebut.
Kepada mahasiswa yang masih berjuang menyelesaikan studi, Isti berpesan agar tetap menjaga konsistensi dan menikmati proses.
“Semoga ilmu yang didapat bisa benar-benar bermanfaat dan memberikan dampak positif, dimanapun kita berada dan berkarya,” tutupnya.


.png)


Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.