Ramai Kasus Daycare Jogja, Ini Tanda Anak Alami Trauma

Arifah
0

Kasus kekerasan di daycare “Little Aresha” Yogyakarta kembali mengguncang kepercayaan publik terhadap layanan penitipan anak di Indonesia. Foto X Pemda DIY.

Surabaya. EDUKASIA.ID - Kasus dugaan kekerasan dan penelantaran anak di sebuah daycare di Yogyakarta kembali mencuat dan menjadi perhatian publik.

Peristiwa ini tak hanya menyoroti aspek keamanan fasilitas, tetapi juga dampak emosional yang dirasakan keluarga, terutama para ibu.

Di tengah kasus tersebut, banyak ibu diliputi rasa bersalah karena harus meninggalkan anak untuk bekerja. Menanggapi hal ini, Pakar Psikologi Universitas Airlangga (UNAIR), Dr Ike Herdiana MPsi Psikolog, menegaskan bahwa keputusan menitipkan anak di tempat yang legal dan berizin adalah langkah yang wajar.

“Ibu harus memvalidasi bahwa ia juga korban dari sistem yang tidak aman. Agar rasa bersalah ini tidak memperburuk relasi yang justru bisa menghambat proses pemulihan anak,” tuturnya, dikutip dari laman Unair, Kamis 30 April 2026.

Dari sisi anak, Dr Ike menjelaskan bahwa usia dini merupakan masa penting dalam perkembangan psikososial. Pada fase ini, anak membutuhkan hubungan yang responsif untuk membangun rasa aman.

Namun, ketika ruang penitipan justru menjadi sumber ancaman, dampaknya bisa serius bagi kondisi mental anak.

“Anak bisa mengalami ketidakpercayaan terhadap orang dewasa dan mempersepsikan lingkungan sosial sebagai ancaman. Kondisi ini berisiko memicu kecemasan, separation anxiety yang ekstrem, hingga depresi di masa depan,” jelasnya.

Karena banyak korban masih berusia balita dan belum mampu bercerita, orang tua diminta lebih peka terhadap perubahan perilaku anak di rumah.

“Orang tua harus waspada jika anak mendadak sangat rewel, murung, mudah frustasi, mengalami gangguan tidur. Hingga tiba-tiba kembali mengompol sebagai bentuk kecemasan,” papar Dr Ike.

Untuk anak yang sudah terdampak, pemulihan perlu segera dilakukan dengan mengembalikan rasa aman di lingkungan rumah. Orang tua diharapkan hadir dengan sikap tenang dan menciptakan rutinitas yang stabil.

“Orang tua harus menyediakan lebih banyak waktu berkualitas dan merespons cepat kebutuhan emosional anak. Jika diperlukan, bantuan profesional dengan pendekatan play therapy sangat dianjurkan,” terangnya.

Selain itu, pengawasan terhadap daycare juga perlu melibatkan masyarakat. Kontrol sosial dinilai penting untuk mencegah praktik pengasuhan yang menyimpang.

“Masyarakat bisa berkontribusi dengan ikut menciptakan ekosistem ramah anak serta menyediakan kanal pelaporan yang aman dan jelas jika melihat adanya kejanggalan di lapangan,” ungkapnya.

Sebagai langkah pencegahan, evaluasi terhadap penyedia layanan dan penguatan regulasi pemerintah juga dinilai mendesak.

“Daycare wajib memiliki standar sumber daya manusia yang transparan serta budaya pengasuhan tanpa kekerasan. Sementara bagi pemerintah, harus ada standardisasi nasional yang tegas, audit perizinan secara berkala, dan sistem pelaporan yang mudah diakses agar keamanan anak benar-benar terjamin,” pungkasnya.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)
aio

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top